Mahasiswa dan Walhi Gelar Teatrikal Protes Harga Mahal di Denpasar
Gambar atau konten salah?
Di Denpasar, aksi teatrikal digelar di depan Monumen Bajra Sandhi pada Senin, 06 Juli 2026. Gerakan Mahasiswa Front Demokrasi Perjuangan Rakyat, atau FRONTIER, bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali menjadi penggeraknya. Mereka menyebut aksi ini sebagai 'Grubug Agung Pulihkan Bali dan Indonesia'.
Teatrikal yang ditampilkan menggambarkan situasi di pasar. Ada adegan transaksi antara pedagang dan pembeli. Dalam skenario itu, masyarakat protes karena harga barang terlalu mahal. Pedagang, di sisi lain, mengaku terpaksa menjual bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan sayur mayur dengan harga tinggi. Penyebabnya, kata mereka, adalah nilai tukar rupiah yang melemah dan harga bahan bakar yang naik. Perdebatan pun terjadi, dan berujung pada kericuhan.
Aksi simbolik berlanjut. Ada adegan warga yang mencoba menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Namun, dalam teatrikal, upaya itu berakhir dengan tindakan represif dari aparat. "Maka adanya sebuah teatrikal penyiraman air keras kepada mereka," ujar Sekretaris FRONTIER Bali, I Wayan Sathya Tirtayasa, di lokasi.
Sathya juga menjelaskan makna dari pemukulan kulkul, atau kentongan, dalam tradisi Bali. Bunyi kulkul menandakan adanya marabahaya. Ia menilai situasi demokrasi saat ini tidak baik-baik saja. "Maka simboliknya pukul kulkul, bagaimana budaya Bali hari ini memukul kulkul dengan kencang bahwa adanya kekacauan hari ini," tuturnya.
Aksi berlangsung hampir dua jam. Para peserta membawa sejumlah spanduk. Beberapa di antaranya bertuliskan "Pulihkan Bali dan Indonesia" dan "Stop Proyek Perusak Alam".
Mereka menyampaikan beberapa tuntutan. Pertama, Gubernur Bali Wayan Koster dan DPRD Bali diminta segera menerapkan moratorium pariwisata. Tujuannya, untuk menghentikan krisis lahan dan air di Bali. Kedua, Presiden Prabowo Subianto didesak untuk menghentikan segala bentuk kriminalisasi dan kekerasan terhadap pejuang hak asasi manusia (HAM) dan lingkungan hidup. Ketiga, mereka mendesak Prabowo menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah. Selain itu, mereka meminta harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diturunkan agar tidak semakin membebani perekonomian rakyat.
Aksi teatrikal ini menjadi cara para aktivis untuk menggambarkan dampak nyata dari masalah ekonomi dan kebijakan yang mereka anggap bermasalah. Dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga isu kriminalisasi aktivis, semuanya dirangkai dalam satu pertunjukan simbolis di ruang publik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
