Mahasiswa Indonesia Raih Beasiswa 75% dan Pinjaman di Harvard
Gambar atau konten salah?
Ariel Adhidevara, seorang mahasiswa asal Indonesia, menempuh program Master in Design Studies di Harvard Graduate School of Design. Ia tidak hanya mengandalkan prestasi akademik, namun juga persiapan finansial yang cukup panjang sebelum diterima.
Setelah lulus Bachelor of Architecture di California Polytechnic State University, Ariel memulai karier di bidang arsitektur. Ia bekerja beberapa tahun sambil menabung untuk biaya pendidikan magister. “Aku kerja dulu beberapa tahun sambil nabung,” ujarnya dalam wawancara pada Kamis, 21 Mei 2026.
Proses pendaftaran di Harvard tidak hanya menilai portofolio, namun juga potensi penerimaan bantuan. “Nanti pas daftar tuh langsung dipertimbangkan buat scholarship,” jelas Ariel. Dari evaluasi tersebut, ia memperoleh beasiswa sebesar 75 persen dari biaya kuliah. Sisa biaya tetap harus ditanggung sendiri. “Aku dapat sekitar 75 persen,” tambahnya. Untuk menutup kekurangan, Ariel juga mengajukan student loan dari kampus. “Aku juga ambil student loan,” ia katakan.
Ariel menegaskan bahwa skema bantuan yang ia dapatkan belum tentu sama bagi pelajar Indonesia yang mendaftar langsung sebagai international student. Ia sudah tinggal di Amerika Serikat sejak keluarganya memperoleh green card melalui undian pada 2014. “Aku kan memang statusnya udah di US waktu itu,” ujarnya.
Selama kuliah, Ariel mengadopsi gaya hidup hemat. Ia menyesuaikan pengeluaran dengan menyiapkan makanan sendiri, karena makanan dan tempat tinggal menjadi biaya terbesar di AS. “Karena paling mahal di Amerika Serikat itu makanan dan tempat tinggal. Jadi cara menghemat itu masak di rumah,” kata Ariel. Kebiasaan sederhana ini membantu mengendalikan pengeluaran dan menjaga keseimbangan keuangan selama masa studi.
Selain itu, Ariel menyesuaikan gaya hidup sehari‑hari agar tidak melebihi kemampuan finansial. Ia mengatur anggaran, memilih akomodasi yang terjangkau, dan memanfaatkan fasilitas kampus. Dengan cara ini, ia dapat fokus pada studi tanpa terbebani hutang yang berlebihan.
Keberhasilan Ariel menunjukkan pentingnya perencanaan keuangan bagi mahasiswa internasional. Persiapan sejak dini, kerja keras, dan pemanfaatan beasiswa serta pinjaman dapat membuka peluang belajar di institusi terkemuka. Meskipun tantangan tetap ada, pendekatan terstruktur dan disiplin finansial membantu mengatasi beban biaya pendidikan tinggi di luar negeri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
