Mahasiswa Yaman Terhalang Perang, Tak Bisa Pulang untuk Lebaran

Rini S. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 74 dibaca
Bisik.id
Mahasiswa Yaman Terhalang Perang, Tak Bisa Pulang untuk Lebaran

Gambar atau konten salah?

Gejolak konflik antara Iran dan Israel-Amerika Serikat semakin meningkat. Situasi ini membuat beberapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) asal Yaman tidak bisa pulang ke negara mereka.

Khusay, salah satu mahasiswa asal Yaman, berbagi pengalamannya tentang ketidakmampuannya untuk pulang tahun ini. Ia sudah merencanakan untuk kembali ke Yaman saat Lebaran 2026. "Alasan pertama saya tidak pulang ke Yaman adalah karena perang. Saat ini, perang mulai pecah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat," ujarnya.

Rute penerbangan ke Yaman juga semakin terbatas. Negara Yaman yang terletak di Timur Tengah mengalami penutupan sejumlah rute penerbangan demi alasan keamanan. "Tidak ada penerbangan terdekat untuk kembali ke Yaman," tambah Khusay.

Meski ada kemungkinan untuk pulang lewat Mesir, ibunya menyarankan agar ia tetap tinggal di Indonesia demi keselamatan. "Keluarga saya tinggal di Mesir. Namun, ibu saya sedang di Yaman sekarang, dan beliau berada di sana saat perang dimulai. Jadi situasinya memang sulit," jelasnya.

Abdurrahman Khalid, mahasiswa asal Yaman lainnya, juga merasakan dampak yang sama. Ia berasal dari Hadramaut dan mengungkapkan bahwa harga tiket ke kawasan Timur Tengah sangat mahal. "Selama masa perang ini, tiket untuk kembali ke negara saya naik sekitar tiga atau empat kali lipat. Semua bandara utama seperti di Dubai, Abu Dhabi, dan Qatar juga tutup karena konfliknya," ungkapnya.

Ia sebenarnya bisa mengambil rute ke Jeddah, Arab Saudi, untuk bertemu keluarga. Namun, ia tidak melakukannya karena harga tiket yang sangat tinggi. "Saya bisa kembali ke Saudi langsung ke Jeddah karena bandara Jeddah masih buka. Tapi saat ini saya masih ada banyak kelas, jadi saya tidak bisa pulang. Ada banyak alasan mengapa saya tidak bisa kembali, termasuk perang, harga tiket yang mahal, dan durasi libur yang pendek," tambah mahasiswa Fakultas Teknik tersebut.

Khusay dan Abdurrahman kini hanya bisa berserah dan ikhlas menghadapi Idul Fitri jauh dari keluarga. Mereka bersama lima mahasiswa asal Yaman lainnya berencana merayakan Idul Fitri di asrama mahasiswa asing di kawasan Gunung Anyar, Surabaya.

Situasi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi mahasiswa internasional yang terjebak dalam konflik yang berkepanjangan. Keterbatasan akses dan biaya yang tinggi menambah kesulitan bagi mereka yang ingin berkumpul dengan keluarga. Perayaan Idul Fitri yang seharusnya menjadi momen bahagia kini terpaksa dilalui dengan cara berbeda.

perangYamanmahasiswapenerbanganharga tiketIdul FitriMesirIndonesia

Komentar

Memuat komentar...