Menteri Tegaskan Peran Universitas dalam Prioritas Nasional
Gambar atau konten salah?
Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, memimpin upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 02 Mei 2026 di ruang Kemdikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Ia mengingatkan bahwa arahan Presiden Prabowo Subianto menuntut perguruan tinggi berperan aktif dalam program kerja prioritas nasional.
“Karenanya kita juga terlibat aktif, pendidikan tinggi sesuai arahan dan petunjuk dari Bapak Presiden itu diminta terlibat aktif dalam program kerja prioritas nasional,” ucapnya usai memimpin upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026 di lapangan Kemdikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (02 Mei 2026).
Ia menekankan bahwa evaluasi harus memastikan bahwa penelitian dan inovasi yang dilakukan di kampus memberi dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional. Pihaknya mengajak semua perguruan tinggi untuk meninjau kembali program dan kegiatan yang dijalankan.
“Apa‑apa yang diajarkan, apa‑apa yang diteliti, apa‑apa yang dilakukan inovasinya, itu diharapkan mampu mendukung, mampu menjawab permasalahan‑permasalahan yang ada di sekitar kampus itu maupun dalam konteks nasional,” ucapnya. Ia menekankan pentingnya kerja sama dengan pemerintah daerah dan industri di sekitar kampus agar ilmu yang diajarkan dapat langsung mengatasi masalah lokal.
Dalam hal penanganan sampah, Brian menegaskan bahwa perguruan tinggi harus memiliki program pengelolaan sampah di kampus. Ia berharap hasilnya dapat dikembangkan lebih luas untuk merespons isu sampah di tingkat kawasan. “Selesai di kampus, itu harapannya menjadi contoh. Jadi tidak ada sampah yang dari kampus justru dibuang keluar. Harapannya apa? Harapannya nantinya bahkan kampus bersama‑sama pemda bisa membangun satu proses pengolahan sampah, yang bisa menyelesaikan sampah di kawasan itu,” terangnya.
Berkenaan dengan program prioritas nasional, Brian menyatakan pendidikan tinggi juga diminta mendukung riset dan kajian motor listrik dan kapal listrik untuk nelayan. “Kita diminta mendukung berbagai riset, kajian seperti motor listrik, kemudian kapal nelayan menggunakan listrik, itu juga sedang dilakukan penelitian, uji coba untuk mengurangi ketergantungan kita pada BBM. Isu lainnya juga seperti kompor listrik,” ucapnya.
Menurut laman Setkab, program motor listrik dan kapal listrik nelayan diharapkan mendorong percepatan transisi energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM), sekaligus menurunkan emisi karbon. Sementara itu, laman Kementerian ESDM menjelaskan bahwa program kompor listrik diharapkan mendukung penghematan APBN dengan mengurangi impor LPG serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Dengan demikian, Brian Yuliarto menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi motor penggerak inovasi yang relevan dengan kebutuhan daerah dan negara, serta mengintegrasikan penelitian, pengajaran, dan pengembangan teknologi dalam upaya mengatasi tantangan lingkungan dan energi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
