Messi Remaja: Patah Tulang dan Suntik Hormon Tiap Malam
Gambar atau konten salah?
Lionel Messi sering disebut sebagai pemain sepak bola yang sempurna. Delapan Ballon d'Or, trofi Piala Dunia, dan puluhan gelar klub membuat kariernya terdengar seperti dongeng. Tapi di balik semua itu, ada sisi gelap yang jarang dibahas.
Saat masih remaja, Messi pernah mengalami patah tulang kaki kiri. Tepatnya di bagian fibula. Kejadian ini terjadi pada 07 Maret 2001, saat ia bermain dalam pertandingan persahabatan di akademi La Masia. Usianya saat itu sekitar 15 tahun. Messi harus pulang ke Argentina untuk menjalani pemulihan.
Di musim berikutnya, 2001/2002, ia kembali ke Barcelona. Tapi perjuangannya belum selesai. Messi harus bekerja lebih keras untuk merebut tempat di tim Infantil A, kelompok usia di bawah 14 tahun. Cedera terus menghantuinya. Paha cedera, patah tulang metatarsal kaki, patah tulang lengan, cedera betis, hingga robek otot. Semua pernah ia alami.
Tapi itu bukan satu-satunya masalah. Messi kecil juga didiagnosis mengalami kekurangan hormon pertumbuhan, atau growth hormone deficiency (GHD). Kondisi ini menghambat pertumbuhan tubuhnya. Di usia 11 tahun, badannya jauh lebih kecil dibanding anak-anak lain seusianya.
Messi harus menjalani pengobatan. Setiap malam, ia menyuntik kakinya sendiri. "Saya memulainya di usia 12 tahun. Itu tidak mengesankan buat saya," kata Messi kepada America TV, seperti dikutip dari Daily Mail. "Awalnya orang tua saya memberi suntikan ketika saya delapan tahun sampai saya belajar. Jarumnya kecil. Tidak terasa sakit, itu adalah hal rutin yang harus saya lakukan dan biasa buat saya."
Biaya pengobatan ini tidak murah. Orang tua Messi harus membayar sekitar 1.000 pound sterling per bulan untuk terapi. Angka yang sangat besar untuk keluarga biasa.
Hingga akhirnya Barcelona datang. Pada tahun 2001, klub raksasa asal Catalan itu menawari Messi bergabung dengan La Masia. Mereka juga bersedia menanggung seluruh biaya perawatan medisnya. Tawaran yang mengubah segalanya.
Bakat magis Messi tidak lahir dari kenyamanan. Ia ditempa oleh rasa sakit fisik dan vonis medis yang berat. Dari patah tulang di usia muda hingga harus menyuntik kakinya sendiri setiap malam. Semua itu adalah bagian dari perjalanan yang jarang terlihat di sorotan lampu stadion.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Menyundul Bola Aman? Dokter Saraf Buka Suara
Rodri Bangkit dari Cedera Horor, Bawa Spanyol ke Final Piala Dunia
Hyrox Bukan Lari Biasa, Butuh Latihan Total Tubuh
Lamine Yamal Tumbuh 10 Cm dalam Setahun
Dokter: Risiko Cedera Hyrox Tak Main-Main
Tuchel Izinkan Pemain Bercinta, Dilarang Saat Hari Pertandingan
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
