Mudik ke Garut: Kembali Merayakan Lebaran di Tanah Air

Fajar H. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
Mudik ke Garut: Kembali Merayakan Lebaran di Tanah Air

Gambar atau konten salah?

Setelah lebih dari sepuluh tahun tinggal di benua biru Eropa, akhirnya saya kembali merasakan hiruk‑pikuk lebaran di tanah air, lengkap dengan tradisi mudik yang melekat pada setiap perayaan hari raya besar.

Tradisi mudik memang sudah lama menjadi kebiasaan masyarakat agraris Jawa dan Melayu. Awalnya, mudik dimaksudkan untuk mengunjungi makam leluhur dan silaturahmi dengan kerabat. Kata mudik berasal dari bahasa Melayu “uduk” (hulu/selatan), atau dalam bahasa Jawa “mulih dilik” (pulang sebentar). Pada tahun 1970‑an, urbanisasi besar‑besar ke Jakarta memperkuat popularitas mudik, sehingga kini menjadi aktivitas massal setiap Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru.

Perjalanan kami dimulai di kota Utrecht, Belanda. Dari rumah, kami naik kereta api menuju Bandara Schiphol, perjalanan satu jam. Setelah itu, kami terbang lebih dari 15 jam ke Bandara Soekarno‑Hatta, Jakarta. Rute penerbangan sengaja dipilih sedikit memutar agar menghindari wilayah yang terdampak konflik Iran‑Israel‑Amerika.

Sesampainya di Jakarta, kami menginap semalam di salah satu hotel dekat Stasiun Gambir. Pagi berikutnya, sekitar pukul 06.30 WIB, kami menumpang Kereta Api Papandayan Executive menuju Kota Garut. Perjalanan memakan waktu hingga sekitar pukul 11.15 WIB, saat kami tiba di kota yang menjadi tujuan akhir mudik kami.

Walaupun perjalanan panjang menimbulkan rasa lelah, kebahagiaan bersatu kembali dengan keluarga membuat segala kelelahan terbayar. Setelah sampai di Garut, saya dan suami melaksanakan Shalat Id di masjid di belakang rumah kami. Setelah shalat, kami bersilaturahmi dengan tetangga dan kenalan yang hadir di masjid.

Karena tubuh masih belum sepenuhnya pulih, saya memutuskan untuk beristirahat. Cuaca panas di Garut menambah rasa lelah. Namun, seiring berjalannya hari, suasana lebaran mulai terasa. Kesibukan dan hiruk‑pikuk khas Idul Fitri muncul di hampir setiap tempat: pemakaman, warung makan, terutama di gerai mie bakso yang penuh sesak, orang‑orang saling berkunjung, berfoto keluarga, dan acara permainan yang memeriahkan silaturahmi.

Itulah gambaran tradisi lebaran di tanah air. Setiap orang sibuk berkunjung dan dikunjungi, saling memaafkan, dan menikmati kehangatan yang tak akan pernah ditemukan di tempat kami tinggal di benua Eropa. Suasana khidmat, gema takbir yang bersahutan, dan kehangatan keluarga menambah makna hari raya ini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Pengalaman ini menegaskan kembali betapa pentingnya tradisi mudik sebagai jembatan emosional bagi jutaan orang Indonesia yang hidup jauh dari kampung halaman. Meskipun perjalanan panjang dan melelahkan, kebersamaan keluarga dan rasa syukur atas keberhasilan perjalanan menjadi inti dari setiap Idul Fitri di Indonesia.

mudiklebaranIdul FitriJakartaGarutkereta apitradisi

Komentar

Memuat komentar...