Nasri: Wasit Keras, PSG Pemenang Final CL, Kritik Nasri
Gambar atau konten salah?
Samir Nasri mengungkapkan pandangannya tentang kekalahan Arsenal di final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain. Ia menilai bahwa tim The Gunners “dihukum” oleh wasit pada babak kedua, namun menekankan bahwa hal tersebut lebih merupakan akibat dari kesalahan taktik Mikel Arteta yang terlalu banyak mengulur waktu di babak pertama.
Final Liga Champions di Budapest berlangsung penuh drama. Arsenal memulai unggulan lewat gol Kai Havertz. Setelah memimpin, The Gunners lebih memilih bertahan dan menekan permainan PSG. Strategi ini tampak efektif di awal, karena PSG kesulitan menembus pertahanan Arsenal pada babak pertama. Namun, menurut Nasri, upaya mengulur waktu ini akhirnya memicu sikap wasit yang lebih keras.
"Pada babak kedua, wasit secara sistematis meniup pelanggaran yang merugikan Arsenal. Dia menghukum mereka karena membuang-buang waktu pada babak pertama," kata Nasri kepada Canal+. Ia menilai bahwa wasit mulai lebih keras setelah turun minum, dan keputusan yang diambil terasa merugikan Arsenal sepanjang babak kedua.
Insiden paling diperdebatkan terjadi pada babak tambahan waktu. Noni Madueke terjatuh di kotak penalti setelah mendapat tekanan dari bek Nuno Mendes. Arsenal meminta penalti, namun wasit menolak dan VAR tidak melakukan intervensi. Nasri tidak menganggap keputusan tersebut sebagai kesalahan besar, melainkan area abu‑abu.
"Kalau dia memberikan penalti, saya rasa VAR tidak akan membatalkannya. Tapi fakta bahwa dia tidak meniup penalti juga bukan sebuah skandal," ujar Nasri. Menurut mantan pemain Timnas Prancis itu, situasi tersebut masih terbuka untuk berbagai interpretasi.
Di balik kritik wasit, Nasri memberi kredit besar kepada pelatih PSG, Luis Enrique. Ia menilai Enrique menunjukkan kualitas taktik kelas dunia. Meskipun timnya tertinggal lebih dulu akibat gol cepat Kai Havertz, pelatih asal Spanyol tetap tenang dan menemukan solusi yang tepat.
"Dia tidak pernah mengambil risiko tanpa perhitungan. Sejak menemukan formula yang tepat, semuanya berada dalam kendali." "Dia selalu punya rencana untuk mengalahkan pelatih lawan," kata Nasri. Akhirnya, PSG menyamakan kedudukan lewat gol penalti Ousmane Dembélé sebelum memastikan kemenangan melalui adu penalti.
Nasri menegaskan bahwa meskipun Arsenal bermain dengan strategi defensif, keputusan wasit dan intervensi VAR tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi hasil akhir. Kritiknya menyoroti pentingnya keadilan dalam pengambilan keputusan di pertandingan tingkat tinggi, sementara pujian terhadap Luis Enrique menegaskan peran pelatih dalam mengelola tekanan dan memaksimalkan potensi tim.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Luke Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2030
Mourinho Senang Prancis dan Inggris Gagal ke Final Piala Dunia
Strategi Bertahan Tuchel Hancurkan Inggris
Argentina ke Final usai Kalahkan Inggris di Semifinal
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Saliba Operasi Punggung, Absen Lima Bulan
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
