Nata de Coco Aman: MUI Tegaskan Proses Pencucian Benar

Ani R. · 2 min baca · 53 menit lalu · 21 dibaca
Bisik.id
Nata de Coco Aman: MUI Tegaskan Proses Pencucian Benar

Gambar atau konten salah?

Nata de coco telah menjadi pelengkap minuman dan dessert yang banyak disukai di Indonesia. Teksturnya kenyal, rasanya manis, dan tampilannya putih bening membuatnya menarik bagi semua kalangan, terutama anak-anak.

Proses pembuatan Nata de coco dimulai dengan fermentasi air kelapa menggunakan bakteri Acetobacter xylinum. Selain air kelapa, bahan dasar lain yang dapat dipakai meliputi santan, tetes tebu, atau sari buah seperti nanas, melon, jeruk, stroberi, dan jambu biji. Semua bahan tersebut akan bertransformasi menjadi selulosa mikrobial yang menjadi inti dari produk akhir.

Produk ini dipercaya mengandung vitamin B1, B2, dan C serta kadar air yang tinggi. Kandungan air tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh, sehingga Nata de coco sering dijadikan pilihan segar di musim panas.

Isu keamanan muncul ketika beberapa produsen tidak jujur menggunakan urea atau pupuk ZA untuk mempercepat fermentasi, sehingga tekstur produk menjadi lebih kenyal. Menurut Prof Dr Ir Khaswar Syamsu, MSc, penggunaan nitrogen seperti urea atau amonium sulfat dalam fermentasi adalah praktik umum. Ia menjelaskan bahwa bakteri memanfaatkan sumber karbon dari air kelapa dan gula, serta nitrogen dari urea atau amonium sulfat untuk tumbuh dan menghasilkan selulosa.

Menurut Khaswar, bila fermentasi dan pencucian dilakukan dengan benar, sisa gula, urea, amonium sulfat, maupun asam asetat akan larut dan hilang melalui perebusan, perendaman, serta pencucian. Dengan demikian, produk akhir yang dijual seharusnya berupa selulosa mikrobial murni yang aman dikonsumsi.

"Jika nata de coco masih berbau atau berasa asam, itu menandakan proses pencuciannya belum sempurna," kata MUI dalam keterangan tertulis pada 5 Juni 2026.

Dari sisi kehalalan, LPPOM Mulyorini R Hilwan menyoroti bahan baku gula sebagai titik kritis utama. Proses produksi gula kadang melibatkan enzim atau karbon aktif. Jika enzim berasal dari hewan, perlu dipastikan sumber dan proses penyembelihannya sesuai syariat. Begitu pula karbon aktif yang berasal dari tulang hewan harus dipastikan asal-usulnya. Urea, sebagai sumber nitrogen, tidak memiliki titik kritis kehalalan karena bersifat kimia. Meski demikian, pencucian nata de coco tetap harus optimal agar tidak tersisa bahan fermentasi.

Dengan proses produksi yang baik, penggunaan bahan Food grade, serta pencucian yang sempurna, Nata de coco dinilai aman dan layak dikonsumsi, baik dari sisi keamanan pangan maupun kehalalan.

Secara keseluruhan, Nata de coco tetap menjadi pilihan yang aman dan halal asalkan produsen mengikuti prosedur fermentasi dan pencucian yang tepat, serta menggunakan bahan baku yang bersih dan terdaftar.

Nata de cocofermentasibakteri Acetobacter xylinumureakehalalanselulosa mikrobialproses pencucian

Komentar

Memuat komentar...