Nvidia, Google Perkenalkan Chip & Agen AI Tanpa Keyboard
Gambar atau konten salah?
Selama lebih dari sepuluh tahun, para pengembang teknologi telah mencoba membuat komputer yang bisa menanggapi perintah kompleks. Hasilnya, asisten digital seperti Alexa dan Siri masih terbatas pada alarm dan pemutar musik. Namun, sekelompok perusahaan besar kini percaya bahwa paradigma ini akan segera bergeser.
Nvidia, Microsoft, Google, dan beberapa perusahaan lain memperkenalkan rangkaian inovasi—chip, laptop, dan perangkat lunak—yang diklaim dapat memicu era baru di mana komputer tidak lagi memerlukan keyboard dan mouse. Fokusnya adalah pada agen AI yang mampu merancang dan mengeksekusi tugas-tugas rumit secara otonom.
“Tujuan akhirnya adalah mencari tahu, ‘Hei, bagaimana caranya saya cukup memberi tahu komputer apa yang pada dasarnya ingin saya lakukan, lalu membiarkannya mengerjakannya?’” kata Bob O'Donnell, kepala analis di firma riset Technalysis. Pernyataan ini menegaskan ambisi mengubah cara manusia berinteraksi dengan mesin.
01 Juni 2024 menandai peluncuran chip baru Nvidia, RTX Spark, yang dirancang khusus untuk laptop Windows. Chip ini menggabungkan grafis, komputasi, dan jaringan Nvidia, sekaligus menambah kapasitas memori dibandingkan laptop standar. Dell, HP, dan Lenovo dijadwalkan akan meluncurkan seri laptop yang menggunakan chip ini.
Google juga mengumumkan produk bernama Googlebooks yang akan dapat menyarankan tindakan ketika pengguna mengarahkan kursor ke elemen tertentu di layar. Contohnya, ketika kursor diarahkan ke tanggal di email, sistem dapat otomatis menawarkan penjadwalan rapat.
Asisten generasi sebelumnya hanya mampu menangani satu tugas sekaligus. Mereka belum dapat memproses pekerjaan yang melibatkan banyak langkah atau memahami preferensi pribadi. Perubahan ini mulai terlihat setelah model bahasa besar, seperti ChatGPT, meraih popularitas yang meluas.
OpenClaw, asisten AI yang sering dibicarakan, menjadi contoh nyata bagaimana AI mengubah kebiasaan komputasi. Ia dapat menjalankan program dan menyelesaikan permintaan tanpa harus terus-menerus diberi instruksi. Beberapa karyawan di bidang teknologi bahkan mulai memberi perintah suara kepada agen AI alih-alih mengetik.
“Situasinya sangat berbeda sekarang karena lebih banyak orang sudah terbiasa menggunakan layanan seperti ChatGPT, Gemini, atau Anthropic,” ujar David Naranjo, dari Counterpoint Research. Pernyataan ini menyoroti pergeseran budaya dalam penggunaan asisten digital.
CEO Nvidia, Jensen Huang, baru-baru ini menunjukkan laptop yang menggunakan chip RTX Spark dalam merancang desain rumah. Agen AI yang beroperasi lintas aplikasi pemodelan 3D membantu pengguna menyelesaikan proyek desain secara lebih efisien.
Microsoft menanggapi dengan menciptakan agen baru di Microsoft 365, Scout, yang memanfaatkan teknologi OpenClaw. Scout dapat mengelola konten di cloud, komputer pribadi, maupun web, termasuk aplikasi seperti Outlook dan Teams.
Walaupun janji-janji ini menarik, para ahli menilai bahwa sebagian besar orang belum akan mengendalikan komputer sepenuhnya hanya dengan perintah suara dalam waktu dekat. Salah satu alasan utama adalah harga tinggi laptop generasi baru. Kebutuhan konsumen belum cukup mendesak untuk membeli perangkat baru demi mengikuti lompatan teknologi.
“Teknologi ini belum menjadi sesuatu yang mutlak dibutuhkan, bukan? Dan saya pikir di situlah tantangan yang harus dihadapi Nvidia, Microsoft, dan pemain lainnya,” tambah Naranjo. Pernyataan ini menegaskan bahwa adopsi luas masih tergantung pada kebutuhan nyata dan biaya yang terjangkau.
Secara keseluruhan, langkah-langkah ini menandai pergeseran bertahap menuju sistem komputasi yang lebih otonom. Meski masih ada kendala seperti biaya dan kesiapan pasar, inovasi chip dan agen AI memberi sinyal bahwa masa depan di mana manusia berinteraksi dengan mesin lewat perintah suara akan semakin dekat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Menteri Komunikasi Fokus Regulasi AI Setelah Bertemu Bengio
PP Tunas: Komdigi Lindungi Anak dari Risiko Siber di Dunia
Indonesia Siapkan Dua Perpres AI: Etika dan Roadmap Nasional
Korea Selatan Investasi 40 Miliar Won AI Militer Pertahanan
Tingkat Kelahiran Turun 52% Saat iPhone Masuk Pasar, Indonesia
Berita Terbaru