OpenAI Peringatkan: ChatGPT Bukan Jalan Pintas Siswa
Gambar atau konten salah?
Raghav Gupta, Kepala Pendidikan Asia Pasifik di OpenAI, mengingatkan pelajar Indonesia pada 08 April 2026 bahwa ChatGPT seharusnya tidak dipakai sebagai jalan pintas. “Jangan pakai itu (ChatGPT dan AI) buat jalan pintas. Pakai itu buat teman belajar aja,” ujarnya kepada wartawan di Hotel Morissey, Jl. KH Wahid Hasyim.
Gupta mencontohkan kisah seorang siswa SMAN 1 Kudus, M Agha Nazih, yang meraih nilai 100 dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) mata pelajaran Fisika. Agha menggunakan AI sebagai mentor belajar tanpa mengikuti bimbingan belajar (bimbel) manapun. Ia menyebutkan bahwa AI sudah mulai menjadi bagian dari cara siswa di Indonesia belajar: membantu menjelaskan konsep, mengeksplorasi ide, dan membangun keterampilan secara lebih mandiri.
Selanjutnya, Gupta menampilkan contoh lain dari Indonesia. Tim asal Indonesia, Cantor, berhasil meraih juara dua di OpenAI Codex Hackathon di Singapura. Mereka menciptakan solusi berbasis AI bernama GambitHunter yang dapat memburu situs hingga rekening bandar judi online (judol). “Pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI akan menjadi bagian dari pendidikan; tetapi bagaimana pendidik, institusi, dan penyedia teknologi dapat bekerja sama untuk membimbing penggunaannya secara bertanggung jawab,” tambahnya.
Di OpenAI, mereka berkomitmen mendukung upaya tersebut agar AI dapat memperkuat pemahaman, penilaian, dan kepercayaan diri, sekaligus memperluas kesempatan belajar bagi lebih banyak siswa di Indonesia.
Gupta menekankan bahwa peran guru manusia tetap sangat penting di tengah maraknya AI. Guru dapat memanfaatkan AI ini sebagai alat bantu merencanakan pembelajaran hingga membantu memberikan nilai dan tugas administratif lainnya, sehingga guru dapat fokus mengajar murid.
Ia juga mempraktikkan secara langsung bagaimana ChatGPT bisa membuat soal-soal belajar hingga ujian untuk siswa. Contohnya soal matematika maupun fisika dengan prompt yang sangat rinci. Untuk membantu para guru dan pendidik, Gupta menyarankan beberapa sumber belajar di ChatGPT:
Gupta kemudian mengungkapkan data bahwa per 01 Maret 2026 ada lebih dari 450 juta pesan terkait pembelajaran ke ChatGPT. Ia menilai angka tersebut menunjukkan tingkat rasa ingin tahu dan inisiatif belajar di Indonesia yang sangat tinggi. “Hal ini menunjukkan bahwa AI sudah menjadi bagian dari proses belajar sehari-hari. Peluang berikutnya adalah memastikan penggunaan AI yang bertanggung jawab dan produktif, sehingga dapat membantu membangun pemahaman lebih mendalam, keterampilan yang lebih baik, serta kepercayaan diri yang lebih besar dalam belajar,” tuturnya.
Menurutnya, para siswa atau pelajar dapat lebih mengasah soft skill di era AI. “Keterampilan seperti critical thinking, problem solving, leadership, teamwork, communication dan judgement (kemampuan membuat keputusan),” ujarnya.
OpenAI juga menyesuaikan kebijakan usia untuk ChatGPT sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, yang mengatur batasan usia ke media sosial dan platform digital: 13 tahun (untuk platform dengan risiko rendah), 16 tahun (untuk platform dengan risiko kecil hingga sedang), dan 16 hingga 18 tahun (akses penuh). Sandy Kunvatanagarn, Head of Public Policy, Southeast Asia, OpenAI, menjelaskan bahwa ChatGPT tidak dapat digunakan untuk anak di bawah 13 tahun. Usia 13-18 tahun dapat menggunakan dengan persetujuan orang tua. “Default ChatGPT, ketika kamu memakai tanpa login atau mendaftarkan email yang memungkinkan kami bisa mengetahui usiamu, maka kamu akan mengakses mode teraman (safest mode). Mode yang kami batasi kemampuannya untuk percakapan yang berbau seksual hingga finansial yang berlaku untuk orang dewasa,” jawabnya.
Dengan panduan ini, para pelajar di Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan ChatGPT secara bijak, menjadikan AI alat pendukung belajar yang meningkatkan kualitas pendidikan tanpa mengorbankan integritas akademik. Sementara guru tetap menjadi penentu utama dalam proses pembelajaran, AI dapat memperkaya pengalaman belajar dengan menyediakan materi, latihan, dan umpan balik yang lebih cepat dan terpersonalisasi. Ke depan, kolaborasi antara pendidik, institusi, dan penyedia teknologi akan menjadi kunci dalam mengintegrasikan AI secara bertanggung jawab ke dalam kurikulum, memastikan bahwa teknologi ini menjadi sumber daya yang memperluas akses dan memperdalam pemahaman bagi semua siswa di Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
