Palembang Hari Tari Dunia: Gaung Genderang, Zapin Bedana
Gambar atau konten salah?
Hari Tari Dunia diperingati di Palembang pada 29 April 2026. Sejak 1982, International Dance Day ditetapkan oleh International Theatre Institute, mitra resmi UNESCO, sebagai penghormatan terhadap kelahiran Jean‑Georges Noverre, pelopor balet modern. Di kota ini, perayaan tidak sekadar panggung seni, melainkan ruang bagi sejarah dan identitas budaya Sumatera Selatan.
Komunitas Seniman Tari Sumatera Selatan, atau Kasta Sumsel, menampilkan pertunjukan kolosal berjudul Gaung Genderang Darussalam. Acara ini digelar di kawasan Lawang Borotan pada 28 April 2026. Koreografi karya ini disusun oleh Aryo Prasetyo dan Rika Juwita. Bagi para seniman Palembang, tari lebih dari gerakan tubuh; ia menyimpan cerita panjang peradaban. Karya ini mencoba merangkai perjalanan sejarah, mulai dari kejayaan Sriwijaya hingga era Kesultanan Palembang Darussalam.
Ketua Kasta Sumsel, Sayid Khalid Assegaf, menjelaskan bahwa pertunjukan ini menampilkan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Palembang. Dapunta Hyang muncul sebagai simbol kejayaan Sriwijaya. Peralihan menuju kesultanan dihadirkan melalui Ratu Sinuhun dan Pangeran Sido Ing Kenayan. Semangat perlawanan kolonial digambarkan lewat kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin II.
Sayid menegaskan, "Banyak generasi muda mengenal nama-nama tokoh sejarah Palembang hanya sebatas nama jalan atau bandara. Padahal di balik nama itu ada kisah perjuangan, nilai kepahlawanan, dan kebijaksanaan yang sangat penting untuk dipahami," ujarnya. Ia menambahkan bahwa tari dipilih sebagai medium karena memiliki kekuatan emosional yang mampu menyampaikan pesan sejarah secara lebih hidup. "Ketika sejarah dihadirkan melalui gerak, musik, dan ekspresi panggung, penonton bisa merasakan langsung semangat zamannya. Tari menjadi bahasa yang mampu menjembatani masa lalu dengan generasi hari ini," kata Sayid.
Konsep Kesatria Darussalam dalam karya ini tidak sekadar gambaran prajurit. Sayid menjelaskan bahwa ia mewakili nilai luhur masyarakat Palembang: keberanian, kehormatan, kesetiaan kepada adat, dan tanggung jawab menjaga masyarakat. "Kesatria Darussalam melambangkan keberanian, kehormatan, kesetiaan kepada adat, serta tanggung jawab menjaga masyarakat. Nilai itu tidak hanya dimiliki oleh laki‑laki, tetapi juga oleh perempuan. Karena itu dalam karya ini kami menghadirkan kesatria laki‑laki dan kesatria perempuan sebagai simbol keseimbangan," jelasnya. Kehadiran pahlawan perempuan juga menjadi penghormatan terhadap figur-figur perempuan dalam sejarah Palembang, seperti Ratu Sinuhun yang terlibat dalam penyusunan kitab hukum adat Simbur Cahaya.
Dalam pertunjukan, semangat kepahlawanan menjadi benang merah utama. Delapan belas penari, terdiri dari sembilan penari laki‑laki, sembilan penari perempuan, dan sembilan pemain genderang, menjelma sebagai kesatria Darussalam. Gerak penari laki‑laki dipenuhi dinamika kuat: langkah tegas, energi eksplosif, dan eksplorasi gerak silat serta kuntau yang menegaskan keberanian dan kehormatan. Penari perempuan menampilkan kekuatan berbeda, keteguhan moral dan spiritual yang dibungkus dalam gerak anggun namun tegas.
Musik menjadi jantung pertunjukan. Bedug, rebana, dan perkusi menjadi denyut utama, sementara denting genderang tidak sekadar latar bunyi, melainkan simbol panggilan dari tanah leluhur. Sayid menekankan pentingnya partisipasi generasi muda. "Semakin banyak generasi muda yang terlibat, semakin kuat pula masa depan tari tradisi kita," kata Sayid. Ratusan penari dari 13 sanggar Palembang, OKU, OI, Muba, dua universitas, dan delapan sekolah di Sumatera Selatan turut ambil bagian dalam tarian masal Japin Bedana.
Di sisi lain, Ketua Komite Tari Imansyah mengungkapkan bahwa tarian yang dikoreograferi oleh Geger dan Erick, yaitu Zapin Bedana, merupakan hasil perpaduan tradisi Zapin Melayu dengan Bedana Lampung. Ia menekankan kesamaan akar budaya Melayu dan pengaruh Islam di pesisir Sumatera, yang membuat kedua bentuk tarian memiliki kedekatan dalam struktur gerak, irama musik, dan nilai-nilai yang terkandung. Imansyah menjelaskan bahwa Zapin dikenal luas di wilayah Melayu sebagai tarian yang berkembang dari interaksi budaya Arab dan Melayu, khususnya melalui jalur perdagangan dan dakwah Islam. Bedana berkembang di pesisir Lampung sebagai tari pergaulan masyarakat yang sarat nilai keislaman.
Menurut Imansyah, "Zapin Bedana dapat dipahami sebagai bentuk pertemuan dua tradisi yang serumpun. Zapin membawa unsur ritmis dan pola gerak Melayu‑Arab, sementara Bedana memperkaya dengan karakter gerak yang lincah dan dinamis khas masyarakat pesisir Lampung," ujar Iman. Ia menambahkan bahwa dalam pertunjukan, tarian biasanya dibawakan secara berpasangan antara laki‑laki dan perempuan, namun tetap menjaga etika adat dengan tidak adanya kontak fisik antar penari. Secara musikal, Zapin Bedana menampilkan pengaruh budaya Melayu‑Islam melalui penggunaan alat musik tradisional seperti gambus, ketipung, dan rebana. Irama instrumen tersebut menciptakan suasana riang sekaligus religius, menjadi ciri khas seni pertunjukan masyarakat pesisir Sumatera.
Imansyah menegaskan bahwa Zapin Bedana tidak hanya dipentaskan sebagai hiburan atau tari pergaulan, tetapi juga sebagai bagian dari penyambutan tamu, perayaan adat, dan kegiatan kebudayaan yang merepresentasikan identitas Melayu‑Islam di kawasan Sumatera Bagian Selatan. Sementara itu, M Nasir, Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), menilai perayaan Hari Tari Dunia sebagai momentum penting untuk memperkuat ekosistem seni budaya di daerah. "Hari Tari Dunia bukan hanya perayaan seni pertunjukan, tetapi juga ruang untuk merawat identitas budaya dan memperkuat kesadaran masyarakat terhadap nilai‑nilai tradisi. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga kesinambungan seni budaya Palembang," ujarnya.
Perayaan ini menegaskan bahwa tari di Palembang bukan sekadar hiburan. Ia menjadi medium untuk menyampaikan sejarah, nilai budaya, dan semangat perlawanan. Melalui gerak, musik, dan ekspresi panggung, generasi muda dapat merasakan langsung semangat masa lalu. Keterlibatan ratusan penari dari berbagai sanggar, universitas, dan sekolah menunjukkan komitmen komunitas seni untuk menjaga dan mempromosikan warisan budaya. Pertunjukan Gaung Genderang Darussalam dan Zapin Bedana menjadi contoh bagaimana seni tradisional dapat disajikan dengan cara yang relevan bagi generasi sekarang, sekaligus memperkuat identitas lokal di tengah dinamika globalisasi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Palembang: Gaji ke-13 ASN 2026, Rp 89 Miliar Alokasi
Evaluasi CFD Palembang: PKL Dikonfigurasikan di Zona Khusus
Prabowo Tunjuk Nanik Deyang Jadi Kepala BGN, Harap MBG
Pemerintah Sumsel Peringatkan Risiko Penyakit Selama Kemarau
Karhutla Muba: 3 Hektare Terbakar, Dipadamkan Helikopter
Pertamina Sumbagsel Respon Insiden Luar SPBU Palembang
Berita Terbaru
Italia 1-0 Luksemburg, Baldini Raih Kemenangan Muda
Belanda Kalah 0-1 dari Aljazair, Persiapan Piala Dunia 2026
Zodiak Cancer 4 Juni 2026: Hari Ramai Air dan Keberuntungan
Zodiak Virgo 4 Juni 2026: Hari Bintang, Peluang Romantis & Karier
Zodiak Aries 4 Juni 2026: Energi Baru dan Peluang Cinta
Zodiak Libra 4 Juni 2026: Keseimbangan Hari, Cinta, Karier & Kesehatan
Zodiak Scorpio 4 Juni 2026: Panduan Hari Terbaik Hari
Zodiak Leo 4 Juni 2026: Energi Matahari Menuntun Hari Anda
Zodiak Gemini: 4 Juni 2026, Hari Dinamika Kencan dan Karier
Zodiak Sagittarius 4 Juni 2026: Energi Positif dan Keputusan
