Pegadaian Laba Rp4,38T, Pertumbuhan Digital dan Bulion Fokus

Lina F. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 102 dibaca
Bisik.id
Pegadaian Laba Rp4,38T, Pertumbuhan Digital dan Bulion Fokus

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Pada 30 April 2026, PT Pegadaian mencatat kinerja positif dengan laba bersih sebesar Rp 4,38 triliun, meningkat 87,2 % dibandingkan periode yang sama pada 30 April 2025 ketika laba bersihnya hanya Rp 2,34 triliun. Pencapaian ini menandai tonggak penting bagi perusahaan yang kini berusia 125 tahun.

Direktur Utama Damar Latri Setiawan mengungkapkan rasa syukur atas hasil tersebut. Ia berkata, “‘Tidak mudah untuk menjaga konsistensi pertumbuhan selama satu seperempat abad tanpa adanya loyalitas dan kepercayaan yang besar dari nasabah. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Indonesia yang terus menjadikan Pegadaian sebagai mitra finansial utama. Pencapaian ini juga merupakan buah dari dedikasi dan kerja keras seluruh Insan Pegadaian,’” ujarnya pada 21 Mei 2026.

Damar menambahkan bahwa memasuki usia baru ini, Pegadaian berkomitmen untuk terus bertransformasi dengan menggabungkan aspek digital ke dalam kebutuhan riil masyarakat. Ia menyoroti layanan bulion dan kemudahan digital lewat aplikasi Tring! yang diharapkan menjadi lokomotif baru, mempermudah lintas generasi berinvestasi aman bersama Pegadaian.

Realisasi total aset Pegadaian kini mencapai Rp 183,8 triliun, naik 56 % dari tahun lalu yang tercatat Rp 117,8 triliun. Pertumbuhan aset ini didukung kuat oleh pencapaian Outstanding Loan (OSL) gross yang melesat ke Rp 153,6 triliun, naik 58,8 % dari capaian tahun sebelumnya Rp 96,7 triliun.

Kualitas pembiayaan juga dilaporkan semakin sehat dan prudensial. Penurunan rasio Non‑Performing Loan (NPL) secara signifikan terlihat, turun dari 0,82 % pada 30 April 2025 menjadi 0,51 % pada periode yang sama di 2026. Pegadaian juga mencatatkan peningkatan rasio profitabilitas secara berkelanjutan, dengan Return on Asset (ROA) mencapai 7,49 % dan Return on Equity (ROE) mencapai 29,72 %.

Manajemen berhasil melakukan optimalisasi biaya operasional. Efisiensi yang impresif terlihat dari rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang ditekan ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir, yakni 59,71 % pada periode ini.

Selain itu, Pegadaian telah melakukan ekspansi ekosistem emas secara menyeluruh. Perusahaan secara resmi mencatatkan sejarah sebagai pelopor dan perusahaan pertama di Indonesia yang mengantongi izin operasional untuk menjalankan kegiatan usaha bulion (Bank Emas) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui surat Persetujuan Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Bulion Nomor S‑325/PL.02/2024.

Melalui legalitas tersebut, Pegadaian kini menghadirkan portofolio produk Bulion Services terlengkap di Tanah Air, meliputi Deposito Emas, Pinjaman Modal Kerja Emas, Jasa Titipan Emas Korporasi, dan Perdagangan Emas. Perusahaan dinilai memiliki kesiapan infrastruktur paling mumpuni untuk mengoperasikan sistem Bank Emas ini, dengan jaringan ruang penyimpanan emas (vault) yang memenuhi standar keamanan internasional terbesar di Indonesia.

‘Emas terbukti menjadi aset aman (safe haven) yang paling bersinar dan diminati masyarakat. Dengan hadirnya Layanan Bulion terintegrasi ini, kami optimis dapat memberikan kontribusi yang jauh lebih besar terhadap roda perekonomian nasional, sekaligus mewujudkan misi jangka panjang untuk MengEMASkan Indonesia,’” tutup Damar.

Dengan kombinasi pertumbuhan laba, peningkatan aset, penurunan NPL, dan ekspansi layanan digital serta bulion, Pegadaian menunjukkan kemampuan adaptasi yang kuat di tengah dinamika pasar. Pencapaian ini menegaskan posisi perusahaan sebagai mitra keuangan utama yang terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Pegadaianlaba bersihdigitalbulionNPLROAROEemas

Komentar

Memuat komentar...