Pelatih Persebaya: Tambah Piala Indonesia, Piala Presiden
Gambar atau konten salah?
Bernardo Tavares, pelatih Persebaya, mengungkapkan bahwa kompetisi sepakbola di Indonesia perlu lebih banyak turnamen. Ia menilai bahwa hanya sedikit klub yang benar-benar punya peluang mengangkat trofi.
Menurutnya, fokus utama pada Super League membuat kompetisi terasa tidak seimbang. Ia menyoroti bahwa satu tim saja yang berpeluang menang, sementara tiga tim lainnya berjuang di bawah. “Di Liga Indonesia banyak terjadi drama karena hanya satu tim yang berpeluang memenangkan sesuatu sementara tiga tim lain terdegradasi. Saya pikir mungkin ada satu hal yang bisa diubah oleh pihak yang mengambil keputusan dan menjalankan organisasi, sebab sepakbola seharusnya menjadi kebahagiaan,” ujarnya usai laga kontra Persis.
Tavares memandang bahwa menambah ajang kompetisi akan membuat suasana lebih sehat. Dengan lebih banyak turnamen, setiap klub akan memiliki target berbeda sepanjang musim. “Lebih banyak tim bisa meraih kemenangan, mungkin satu atau dua trofi, sementara tim lain memenangkan liga. Saat ini ada dua tim, Borneo FC dan Persib Bandung, yang bersaing untuk menjadi juara, tetapi hanya satu yang akan menang,” tambahnya.
Ia juga menyinggung tekanan di papan bawah, di mana klub-klub berjuang untuk menghindari degradasi. “Lalu ada tiga tim yang akan membuat drama di papan bawah karena harus berjuang menghindari degradasi. Saya pikir sepakbola seharusnya menghadirkan kebahagiaan,” jelas Tavares.
Solusi yang dia ajukan adalah memperkenalkan lebih banyak turnamen domestik. Ia menilai tambahan kompetisi akan membuat musim lebih menarik bagi klub dan suporter. “Menurut saya, kita membutuhkan Piala Indonesia, Piala Presiden, dan Piala Liga agar lebih banyak klub punya kesempatan memenangkan sesuatu. Itu pandangan saya tentu saja. Saya hanya seorang pelatih,” ujarnya.
Model semacam ini sudah diterapkan di banyak negara. Klub tidak hanya bertarung di liga, tetapi juga memiliki kesempatan bersaing di ajang piala. Di kompetisi domestik, terakhir kali Piala Indonesia diselenggarakan pada 2019.
Turnamen tersebut sudah lama tidak berlangsung, sehingga vakum dalam kompetisi lintas divisi. Saran Tavares untuk menghidupkan kembali Piala Indonesia menjadi pandangan positif bagi sepakbola tanah air.
Dengan lebih banyak turnamen, klub-klub akan memiliki peluang lebih luas untuk meraih trofi, sementara suporter akan menikmati kompetisi yang lebih beragam. Ide ini menyoroti kebutuhan akan variasi ajang kompetisi di Indonesia, yang dapat memperkaya pengalaman sepakbola bagi semua pihak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Luke Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2030
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Mourinho Senang Prancis dan Inggris Gagal ke Final Piala Dunia
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Strategi Bertahan Tuchel Hancurkan Inggris
Argentina ke Final usai Kalahkan Inggris di Semifinal
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026