Iran Akui Salah Tembak Kapal di Selat Hormuz, Minta Dialog dengan AS
Gambar atau konten salah?
Para pejabat Iran secara diam-diam menyampaikan kepada penasihat Presiden AS Donald Trump bahwa mereka telah berbuat salah. Kesalahan itu terkait penembakan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz beberapa hari lalu.
Menurut laporan Al-Jazeera pada Sabtu, 11 Juli 2026, pejabat Iran menyebut serangan itu berasal dari kelompok garis keras yang "sesat". Kelompok ini, kata mereka, mencoba merusak proses negosiasi. Sumber pejabat AS menyatakan bahwa pejabat Iran menegaskan keinginan mereka untuk terus berdialog dengan Amerika Serikat.
Seorang pejabat AS menyampaikan kepada CBS News: "Mereka [orang-orang Iran] kembali ke meja perundingan dan berkata, 'Kami telah membuat kesalahan. Mari kita lanjutkan pembicaraan.'" Saat ini, Gedung Putih menginginkan pemerintah Iran secara terbuka mengakui kesalahan tersebut. Pemerintahan Trump menganggap insiden itu sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Presiden Trump telah mengarahkan timnya untuk melanjutkan negosiasi. Tim itu dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, menantu Trump Jared Kushner, utusan khusus Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Pembicaraan dijadwalkan berlangsung di Oman pada hari Sabtu, 11 Juli 2026.
Para pejabat AS mengatakan Washington akan merespons dengan kekuatan militer dan ekonomi jika Iran terus melakukan tindakan permusuhan. Dari pertemuan di Oman, pemerintah AS menginginkan posisi Iran adalah bahwa Selat Hormuz tetap terbuka dan dikelola seperti sebelum perang dimulai.
Seorang pejabat AS memperingatkan jika posisi Iran berbeda, "itu tidak akan menjadi hari yang baik bagi mereka." Pejabat AS lainnya menambahkan, "Kita benar-benar berada dalam momen menunggu dan melihat."
Serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz terjadi beberapa hari sebelum pengakuan ini. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas. Sekitar seperlima dari konsumsi minyak global melewati selat ini setiap hari. Ketegangan di kawasan itu meningkat sejak konflik regional meletus beberapa waktu lalu. Pemerintahan Trump menilai tindakan Iran sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya. Negosiasi di Oman menjadi ujian apakah kedua pihak bisa kembali ke jalur diplomasi atau justru berujung pada eskalasi baru.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pulau Spanyol Wajibkan Anak Sekolah Belajar Bersiul
Maryland Bayar Rp26 Juta Per Trip Basmi Lele Invasif
Judi Online ASN Jabar: Karier Terancam, Perceraian Mengintai
Polri Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Batu Bara, ASABRI, dan Krakatau Steel
Bocah Kecanduan Bensin Dievakuasi ke Jakarta
Ai Juariah Bebas Denda Rp150 Juta, Segera Pulang dari Libya
Berita Terbaru
Iran Akui Salah Tembak Kapal di Selat Hormuz, Minta Dialog dengan AS
Khofifah Dorong Mubaligah NU Beralih ke Dakwah Digital
Lampung Fast Swim 2026: 2.700 Atet Berebut Bakat Baru
Courtois: Spanyol Favorit Juara Dunia 2026
Gubernur Koster 'Catat' Bupati Tak Hadir PKB
Panduan Membuat Twibbon MPLS Ramah 2026
Norwegia Vs Inggris di Perempat Final Piala Dunia
SBY dan Band 'Gaya Taruna' Tampil Perdana 1967