Pemerintah Solo Koordinasi Kirab Pusaka Malam 1 Suro

Ayu W. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pemerintah Solo Koordinasi Kirab Pusaka Malam 1 Suro

Gambar atau konten salah?

Rapat Pemerintah Kota Solo bersama Pelaksana Pelindung Keraton Solo, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, dan kubu Paku Buwono XIV Purbaya telah selesai. Pertemuan berlangsung satu jam di ruang Natapraja, Balai Kota Solo.

Kubu PB XIV Purbaya hadir di ruang tersebut. Anggota kubu termasuk Putri Paku Buwono XIII, yakni GKR Panembahan Timoer Rumbay, GKR Devi Lelyana dan GKR Dewi Ratih Widyasari. Selain itu, hadir pula putra‑putri PB XII serta Kuasa Hukum PB XIV Purbaya, KPAA Ferry Firman Nurwahyu.

Di sisi lain, Kubu Paku Buwono XIV Mangkubumi diwakilkan oleh Ketua LDA GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, KPH Eddy Wirabhumi, GRAj Putri Purnaningrum, KGPH Puger dan KGPH Madukusumo.

Dari Pemkot Solo hadir Sekretaris Daerah (Sekda) Budi Murtono, Staf Ahli Wali Kota Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum Kota Solo Aryo Widyandoko dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo Maretha.

Budi Murtono menjelaskan bahwa esensi pertemuan adalah memberikan dukungan penuh dari pihak pengamanan dan pemerintah daerah agar seluruh rangkaian kegiatan keraton berjalan lancar. Ia berkata, “Intinya kan kita sudah menyampaikan kepada pihak keluarga besar Keraton Kasunanan, bahwa Pemkot sama dengan seluruh aparat keamanan, TNI, Polri tadi, terus juga ada Forkopimda yang lain, kita mendukung kegiatan itu agar bisa berjalan dengan baik dan lancar, agar bisa berjalan dengan baik dan lancar. Nah, tadi kan dari semua pihak yang ada di Keraton kan memaparkan ya, menyampaikan rencananya seperti ini, rencananya seperti ini. Nah, kita mensinkronkan itu aja,” ujar Sekda saat ditemui usai pertemuan dengan Keraton Solo, Senin, 15 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa fokus utama Pemkot adalah menyelaraskan pelaksanaan di lapangan agar tidak terjadi gesekan. “Oh, mungkin tidak menjadi satu, tapi pelaksanaannya agar biar berjalan dengan baik, bisa saling ada pemahaman dan saling bisa memberi ruang untuk pelaksanaan kegiatan di sana. Semakin kerja sama seperti itu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Budi Murtono menyebut bahwa rangkaian Kirab Pusaka Malam 1 Suro akan digelar bersamaan. Ia menjelaskan, “Hampir sama, hampir sama. Cuma tadi intinya ada, ada pemahaman bahwa ketika ada satu yang sudah duluan, nanti yang satu akan mau mengalah di belakang, seperti itu tadi,” ucapnya. Ia enggan mengungkap pihak mana yang akan melakukan kirab terlebih dahulu. “Nggak bisa ya (spil yang mana lebih dulu). Nanti saya tak lapor Pak Wali dulu hasil hari ini ya,” tambahnya.

Dari pihak PB XIV Purbaya sendiri enggan mengungkap hasil pertemuan dengan Tedjowulan dan Pemkot Solo. Kuasa hukum PB XIV Purbaya, KPAA Ferry Firman Nurwahyu, mengatakan, “Iya tetap digelar. (Kirab sendiri-sendiri?) Nggak. Di mana ada sendiri-sendiri, Rajanya kan cuma satu,” katanya usai pertemuan, Senin, 15 Juni 2026.

Ferry menegaskan bahwa suksesi Keraton Solo didasarkan pada paugeran, garis keturunan (nasab), tradisi adat, legitimasi spiritual, dan hukum yang berlaku. Ia menyebut penegasan tersebut disampaikan melalui Sabda Sri Susuhunan SISKS Pakoe Boewono XIII Nomor 001 Tahun 2025, yang diterbitkan di Surakarta pada 25 Januari 2025 sebagai pedoman resmi tata pemerintahan Karaton sekaligus upaya mengakhiri konflik internal berkepanjangan yang telah menimbulkan dualisme kepemimpinan di lingkungan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Sabda tersebut menegaskan bahwa suksesi takhta Karaton merupakan proses yang tidak dapat dipisahkan dari prinsip‑prinsip luhur kebudayaan Jawa yang diwariskan secara turun‑turun sejak masa Sri Susuhunan Pakoe Boewono II hingga Sri Susuhunan Pakoe Boewono XIII.

Dalam tradisi Karaton Jawa, pewarisan takhta pada prinsipnya dilakukan berdasarkan garis keturunan raja yang sah, penunjukan Putra Mahkota oleh raja yang berkuasa, kesiapan spiritual dan moral calon penerus, serta penghormatan terhadap paugeran yang telah menjadi landasan keberlangsungan institusi Karaton selama berabad‑abad.

Ketua LDA Kraton Surakarta, GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, mengungkapkan bahwa pihak LDA bersama Tedjowulan telah siap melaksanakan prosesi kirab yang dijadwalkan pada Selasa, 16 Juni 2026. Ia berkata, “kami dari keraton dengan saya sebagai Ketua Lembaga Dewan Adat, dengan Panembahan sudah siap melaksanakan,” saat ditemui wartawan.

Gusti Moeng menjelaskan, pihaknya akan mengeluarkan sejumlah pusaka dari Sasana Pustaka. Pusaka‑pusaka tersebut tercatat sudah empat kali diikutsertakan dalam prosesi kirab sebelumnya. Ia menambahkan, “Pusaka kan keraton banyak dan pusaka yang akan kami kirab itu kan sudah empat kali ikut juga, untuk melengkapi yang dari Sasana Pustaka,” jelasnya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan penggabungan kirab dengan kubu PB XIV Purbaya, Gusti Moeng mengaku belum mengetahui secara pasti detail teknis dari pihak sebelah. Ia menyatakan, “Saya enggak tahu, enggak begitu jelas. Hanya tadi pemahaman dari Pak Sekda dan yang ikut seperti Gusti Panembahan, menyampaikan kalau dia (Sasana Putra) akan melakukan kirab, tapi tidak mengeluarkan pusaka dari kamar pusaka,” ungkapnya. Ia juga tidak tahu apakah jam pelaksanaan kirab antar‑kelompok tersebut akan bertabrakan atau tidak. “Saya enggak tahu kalau dia mengadakan kirab itu akan jam berapa,” tambahnya. Meski demikian, kirab dari pihak LDA dipastikan akan dimulai pukul 12.00 WIB seperti biasa.

Respons Gusti Tedjowulan menyatakan bahwa rapat berjalan lancar. Ia mengatakan, “Baik kok tadi Alhamdulillah baik semua, saya bersyukur, Semua baik, iya puas. Hanya tadi Purboyo enggak ada, Mangkubumi juga enggak ada,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa kirab pusaka akan berjalan bersama‑sama dalam satu kesatuan rute. Teknis iring‑iringan dipastikan akan mengulang kesuksesan format kirab yang sudah berjalan pada tahun‑tahun sebelumnya. “Iya, menjadi satu. Menjadi satu, nggih,” tegasnya.

Ketika disinggung kabar bahwa pihak PB XIV Purbaya tidak akan mengeluarkan pusaka keraton dalam kirab Malam 1 Suro, Gusti Tedjowulan enggan memberikan komentar banyak dan meminta awak media untuk mengonfirmasi langsung ke pihak yang bersangkutan. Ia berkata, “Wah, enggak tahu saya. Tanya sana. (Mungkin tadi dari hasil rapatnya, nu, pusaka) pusaka parang koco kali ya,” pungkasnya.

Peristiwa ini menunjukkan upaya koordinasi antara pemerintah kota dan institusi keraton untuk memastikan kelancaran kegiatan tradisional. Rapat tersebut menegaskan komitmen semua pihak untuk bekerja sama, menghindari gesekan, dan menjaga kelanjutan tradisi Keraton Solo. Dengan dukungan penuh aparat keamanan dan pemerintah daerah, diharapkan proses kirab Malam 1 Suro dapat berlangsung tanpa hambatan, menegaskan kembali pentingnya sinergi antara lembaga pemerintahan dan warisan budaya.

Keraton SoloPB XIV PurbayaKirab Malam 1 SuroBudi MurtonoSuksesi KeratonLembaga Dewan AdatPusaka Keraton

Komentar

Memuat komentar...