MIN 5 Pidie Jaya Bangun Kembali, 8 Kelas Baru di Lahan Hibah
Gambar atau konten salah?
MIN 5 Pidie Jaya di Aceh hancur akibat banjir akhir November 2025. Banjir itu menurunkan lokasi madrasah menjadi sungai, sehingga sekolah tidak dapat beroperasi lagi.
Menurut Azhari, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Aceh, MIN 5 akan dibangun kembali di lahan seluas 6.200 meter persegi yang dihibah warga. Pembangunan tersebut akan mencakup delapan Ruang Kelas Baru (RKB) dan kantor madrasah yang representatif. Tujuannya adalah meningkatkan mutu pendidikan di daerah.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada tim inisiator pengadaan lahan dan seluruh pihak yang telah melakukan berbagai terobosan sehingga rencana pembangunan MIN 5 Pidie Jaya ini dapat terus bergerak maju. Ini merupakan ikhtiar bersama untuk menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” kata Azhari dalam keterangannya, Senin (15 Juni 2026).
Beberapa hari sebelumnya, Azhari menggelar rapat di Pidie Jaya bersama tim inisiator pengadaan lahan dan tim teknis dari Universitas Syiah Kuala (USK). Rapat tersebut diadakan pada Sabtu (13 Juni 2026). Menurutnya, pembangunan madrasah merupakan bagian dari upaya Kemenag meningkatkan kualitas layanan pendidikan, khususnya bagi masyarakat Pidie Jaya.
“Gedung ini harus menjadi model. Selain delapan ruang kelas baru dan kantor madrasah, nantinya juga akan dilengkapi laboratorium, perpustakaan, dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sehingga mampu mendukung proses pembelajaran yang lebih baik dan nyaman bagi peserta didik,” ujarnya.
Ia menilai semangat gotong royong masyarakat Aceh menjadi kekuatan utama dalam percepatan pembangunan fasilitas Kementerian Agama. “Semangat masyarakat dalam mendukung pembangunan sarana pendidikan di Seunong patut diapresiasi. Ia menilai semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat Aceh menjadi kekuatan utama dalam percepatan pembangunan berbagai fasilitas Kementerian Agama,” kata Azhari.
“Dari tiga provinsi yang terdampak bencana hidrometeorologi beberapa waktu lalu, masyarakat Aceh yang secara sukarela menghibahkan tanah untuk relokasi madrasah dan Kantor Urusan Agama. Ini menunjukkan besarnya kepedulian masyarakat Aceh terhadap pendidikan dan layanan keagamaan,” tambahnya.
“Dulu orang-orang mewakafkan tanah. Hari ini kita mewakafkan pikiran, ide, dan tenaga melalui penyusunan site plan serta berbagai persiapan lainnya agar pembangunan ini dapat segera terwujud. Mudah-mudahan ada titik terang dan sertifikat tanah dapat segera selesai sehingga pembangunan berjalan lebih cepat,” lanjut Azhari.
Proses administrasi sertifikat tanah masih berlangsung. Jika selesai, pembangunan fisik dapat dimulai segera. Pembangunan ini diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain, menampilkan bagaimana kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dapat mewujudkan fasilitas pendidikan yang lebih baik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
