Petani Pangandaran Tercekik Biaya Pompa Air

Rizki W. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Petani Pangandaran Tercekik Biaya Pompa Air

Gambar atau konten salah?

Musim kemarau yang sudah berlangsung hampir satu bulan membuat para petani di Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, mulai kesulitan mendapatkan air. Sawah-sawah mereka mulai mengering. Kondisi ini mengancam tanaman padi yang sedang dalam masa produktif, dan bisa berujung pada gagal panen.

Pasokan air yang terhenti memaksa petani bekerja lebih keras. Mereka harus menyedot air menggunakan mesin pompa. Cara ini jelas menambah biaya produksi yang sudah tidak sedikit. Surlia (61), seorang petani di Ciganjeng, merasakan langsung dampaknya. Tanaman padi di sawahnya kini terancam.

Berbagai cara sudah ia coba agar air tetap mengalir. Ia bahkan rela menambah biaya operasional untuk menyedot air dari sumber yang masih tersisa. Menurut Surlia, kebutuhan air untuk sawahnya masih akan berlangsung sekitar satu setengah bulan ke depan. "Sudah lebih dari sebulan sawah saya kekurangan air. Padahal usia padi baru satu setengah bulan dan masih membutuhkan air hingga sekitar satu setengah bulan lagi," katanya pada Selasa, 07 Juli 2026.

Surlia mengatakan, kondisi serupa dialami banyak petani lain. Diperkirakan sekitar 30 hektare sawah di wilayah ini kekurangan air pada fase pertumbuhan yang sangat menentukan hasil panen. "Ada sekitar 30 hektare sawah yang sekarang sangat membutuhkan air. Seharusnya pada masa ini sawah masih mendapat pasokan air secara cukup, tapi karena kemarau kami tidak bisa berbuat banyak," ujarnya.

Ia berharap pemerintah segera turun tangan. Salah satu langkah yang diharapkan adalah normalisasi saluran irigasi. Dengan begitu, distribusi air ke lahan pertanian bisa kembali lancar. "Harapan kami ada perhatian dari pemerintah, terutama Dinas Pertanian. Sebaiknya ada normalisasi irigasi supaya air bisa mengalir lagi ke sawah," ucapnya.

Saat ini, sebagian petani terpaksa mengandalkan pompa air sebagai solusi sementara. Namun, cara itu dinilai tidak efektif. Biaya operasionalnya tinggi, dan hasilnya pun tidak maksimal. "Kebanyakan petani sekarang menyedot air memakai pompa. Tapi biayanya besar. Dipakai dua sampai tiga jam saja airnya sudah habis dan kembali kering," tutup Surlia.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Pangandaran, Dodo Kusnadi, membenarkan adanya aduan permintaan pasokan air dari warga. Ia mengaku secara bertahap telah menyalurkan bantuan air bersih. "Namun untuk para petani atau pengairan sawah sedang dalam pendataan," ucap Dodo melalui pesan WhatsApp. Ia mengatakan bantuan air bersih telah disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak di Kecamatan Padaherang, Mangunjaya, dan Parigi. "Tentu karena armada terbatas kami kirim secara bertahap," ucapnya.

Musim kemarau tahun ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi petani di Pangandaran. Mereka harus berjuang ekstra agar tanamannya tidak mati. Bantuan air bersih dari pemerintah sudah ada, tapi untuk irigasi sawah masih dalam proses pendataan. Sementara itu, petani terus mengandalkan pompa air dengan biaya yang membengkak.

musim kemaraupetanikekeringansawahgagal panenirigasipompa airPangandaran

Komentar

Memuat komentar...