Anggaran Minim, Target Bendungan Rampung 2027 Meleset

Ani R. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Anggaran Minim, Target Bendungan Rampung 2027 Meleset

Gambar atau konten salah?

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyampaikan bahwa kemungkinan besar tidak ada satu pun bendungan yang rampung dibangun pada tahun 2027. Penyebab utamanya adalah keterbatasan anggaran yang tersedia.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA), Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw, mengungkapkan bahwa Ditjen SDA menerima pagu indikatif anggaran sebesar Rp 25,44 triliun untuk tahun 2027. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar Rp 3,58 triliun yang dialokasikan khusus untuk proyek pembangunan bendungan dan danau.

Dengan dana yang sangat terbatas ini, fokus utama pemerintah saat ini hanyalah melanjutkan konstruksi 14 bendungan yang sudah berjalan sebelumnya. Arnold menyampaikan hal ini dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI di Jakarta Pusat pada Rabu, 08 Juli 2026.

"Difokuskan pada lanjutan pembangunan bendungan ongoing dengan alokasi yang sangat terbatas, serta revitalisasi beberapa danau menggunakan sumber pendanaan SBSN," ujar Arnold.

Ia menjelaskan bahwa alokasi anggaran yang berasal dari Rupiah Murni memang sangat terbatas. Dari total kebutuhan untuk kontrak tahun jamak yang mencapai Rp 9 triliun, saat ini baru tersedia sekitar Rp 2 triliun. Kondisi ini jelas berdampak pada target penyelesaian bendungan-bendungan yang sebelumnya dijadwalkan selesai pada 2027.

"Hal ini tentunya berimplikasi pada konstruksi bendungan-bendungan yang sebelumnya ditargetkan selesai pada tahun 2027," jelasnya.

Perlambatan atau relaksasi dalam pelaksanaan konstruksi ini tidak hanya menyebabkan mundurnya target operasional bendungan. Ada kekhawatiran lain yang muncul. Arnold menilai potensi risiko terhadap keamanan bendungan itu sendiri, dampak terhadap lingkungan, serta kerugian bagi masyarakat sekitar yang selama ini berharap pada bendungan sebagai sumber irigasi dan air baku.

"Tentunya hal ini juga mendapat pemanfaatan bendungan itu sendiri sebagai sumber air untuk irigasi dan air baku," jelasnya.

Ke-14 bendungan yang pembangunannya akan dilanjutkan meliputi:

  • Tigadihaji di Sumatera Selatan
  • Cibeet di Jawa Barat (Jabar)
  • Cijurey di Jabar
  • Cabean di Jawa Tengah (Jateng)
  • Karangnongko di Jateng
  • Bener di Jateng
  • Bagong di Jawa Timur (Jatim)
  • Riam Kiwa di Kalimantan Selatan
  • Mbay di Nusa Tenggara Timur (NTT)
  • Budong-Budong di Sulawesi Barat
  • Manikin di NTT
  • Ulang-Ulu di Gorontalo
  • Jenelata di Sulawesi Selatan (Sulsel)
  • Way Apu di Maluku

Selain itu, ada pembangunan satu unit Bangunan Pengarah Ruko di Aceh. Untuk revitalisasi danau, hanya empat danau yang mendapat alokasi, yaitu Danau Ranau di Sumsel, Danau Limboto di Gorontalo, dan Danau Ayamaru di Papua Barat Daya.

"Dengan alokasi yang sangat minim dan diperkirakan belum ada bendungan yang dapat selesai konstruksinya pada tahun 2027," jelas Arnold.

Keterbatasan anggaran menjadi hambatan utama dalam proyek infrastruktur strategis ini. Akibatnya, masyarakat yang mengandalkan bendungan untuk irigasi dan kebutuhan air baku harus menunggu lebih lama. Risiko keamanan dan dampak lingkungan juga menjadi perhatian serius seiring tertundanya penyelesaian proyek-proyek tersebut.

keterbatasan anggaranbendungan 2027pembangunan bendunganrevitalisasi danauirigasi dan air bakurisiko keamanan bendungan14 bendungan

Komentar

Memuat komentar...