Peternak Telur Jatim Desak Harga Stabil, Pemprov Janji Solusi

Putri N. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Peternak Telur Jatim Desak Harga Stabil, Pemprov Janji Solusi

Gambar atau konten salah?

Ratusan peternak ayam petelur dari berbagai daerah di Jawa Timur mendatangi Gedung DPRD Jatim pekan lalu. Mereka mengeluhkan harga telur yang terus merosot. Pemerintah Provinsi Jawa Timur berjanji memberikan solusi jangka pendek dalam waktu satu pekan setelah aksi tersebut.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengatakan aspirasi para peternak sudah ditindaklanjuti oleh satuan tugas pangan di setiap Polres kabupaten atau kota. "Jadi setelah dibahas, ini masing-masing Polres yang melakukan (mediasi antara peternak telur dengan pedagang perantara). Jadi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) melakukan pendataan," kata Emil di kediamannya, Senin 06 Juli 2026.

Menurut Emil, para peternak menginginkan harga yang stabil. Mereka ingin harga jual dari peternak ke pedagang perantara sekitar Rp 25 ribu per kilogram. "Sementara kita cek hari ini, atau saat aksi pekan lalu, harga di konsumen akhir itu berkisar Rp 23 Ribu sampai Rp 25 Ribu. Jadi itu yang dikeluhkan para peternak, karena harga pakan ternak juga mengalami kenaikan," jelasnya.

Emil menambahkan, "Tentu kita tidak ingin adanya peternak ayam telur yang terus merugi. Kita ingin ada solusi dan langkah konkret agar masalah ini bisa teratasi."

Mantan Bupati Trenggalek ini menyampaikan bahwa pertemuan antara peternak dan pedagang perantara yang difasilitasi satgas pangan di masing-masing daerah diharapkan bisa menghasilkan keputusan terbaik bagi kedua belah pihak. "Perlunya pihak terkait dipertemukan, karena kita juga tidak mau teman-teman peternak ini mengalami kerugian yang berkelanjutan. Jadi dilaksanakan pertemuannya di masing-masing Polres, ini kita mulai mendata mana yang sudah melaksanakan atau belum," tambahnya.

Selain mediasi, Emil menyebut berbagai upaya untuk menjaga harga telur peternak telah dilakukan Pemprov Jatim bersama Badan Gizi Nasional (BGN). "Kita sepakat SPPG menyerap telur peternak langsung tanpa perantara. Pantauan kami, selama beberapa minggu (sebelum MBG libur) sudah ada SPPG yang beli langsung ke peternak, kalau belinya nggak langsung lewat berbagai tangan lagi ya percuma. Jadi produsen atau peternak langsung via asosiasi mereka dapat harga jual Rp 24 ribu per kilo minimal. Nah itu sudah diterapkan kemarin, cuma memang sekarang lagi libur baru mulai lagi 13 Juli 2026," jelasnya.

Emil menegaskan, "Selama 2 minggu ada SPPG yang kooperatif, ada yang tidak. Bagi yang tidak kooperatif didata BGN karena itu sudah menjadi catatan serius mengenai mitra yang patuh ke BGN atau tidak. Karena itu merupakan kesepakatan yang ditulis langsung Kepala BGN, dan saat ini dicatat mitra-mitra yang kooperatif diberi reward dan yang nggak nurut langsung kasih catatan."

Harga telur yang anjlok di tingkat peternak menjadi masalah klasik yang kerap berulang. Di satu sisi, biaya pakan terus naik. Di sisi lain, harga jual di konsumen akhir justru lebih rendah dari harga yang diinginkan peternak. Pemerintah mencoba dua pendekatan sekaligus: mediasi langsung antara peternak dan tengkulak di tingkat Polres, serta penyerapan hasil panen oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tanpa perantara. Namun, efektivitas program ini masih tergantung pada kepatuhan mitra di lapangan. Program yang sempat berjalan terhenti karena libur dan akan kembali aktif pada pertengahan Juli 2026.

harga telurpeternak ayamJawa Timurmediasisatgas panganSPPGpakan ternak

Komentar

Memuat komentar...