Pritta Lora Damanik: 19 Penolakan, Satu Beasiswa LPDP
Gambar atau konten salah?
Pritta Novia Lora Damanik tidak pernah merasakan perjalanan meraih beasiswa sebagai proses yang mulus. Ia harus menolak 19 kali sebelum akhirnya berhasil memperoleh beasiswa. Setiap penolakan menjadi batu loncatan bagi dirinya, memaksa Pritta menilai kembali cara menulis esai, menyesuaikan mental, dan mengatur keuangan.
Setelah pertama kali ditolak pada 2015, Pritta memulai perjalanan tujuh tahun penuh perjuangan. “Ketika saya membaca kembali setiap esai yang saya tulis dalam proses seleksi beasiswa, saya melihat bahwa ternyata saya selalu bertumbuh,” ungkapnya, dikutip dari laman Media Keuangan LPDP pada 6 Mei 2026. Kata-kata itu menegaskan bahwa setiap kegagalan memberi ruang bagi perbaikan.
Setiap kali gagal, ia menyelami kekurangan dalam esainya, memperbaiki argumen, dan menyesuaikan strategi. Suatu saat, setelah gempa Palu menghantam wilayahnya, Pritta sempat berhenti sejenak mengejar beasiswa. Namun, ia kembali melangkah, berpegang pada keyakinan bahwa terus bergerak akan membawa hasil.
Keberhasilan akhirnya datang pada 2023, ketika Pritta menerima beasiswa LPDP. Ia melanjutkan studi magister di bidang Education Policy and Society di King's College London. Menyadari bahwa dana tersebut berasal dari negara, ia merasa terdorong untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. “LPDP ini bagian dari uang kita, uang rakyat Indonesia. Maka pertanggungjawaban kita sebagai awardee adalah kepada rakyat Indonesia,” jelasnya.
Di London, Pritta tidak hanya menambah ilmu akademik, tetapi juga memperluas pandangannya tentang sistem pendidikan dan kebijakan publik. Ia menyatakan, “Kalau bukan dari beasiswa LPDP, belum tentu saya bisa berkembang sejauh ini.”
Sejak kecil, Pritta, perempuan asal Pematangsiantar, sudah gemar membaca koran dan majalah. Ketertarikannya pada isu sosial tumbuh seiring waktu. Setelah melihat realita, ia semakin merasakan banyak nilai masyarakat yang bertentangan dengan hak perlindungan anak. Dari sana, ia memantapkan hati untuk berkarier di bidang pembangunan sosial dan terlibat di banyak komunitas advokasi.
Setelah menyelesaikan S2, Pritta langsung kembali ke Indonesia. Ia merasa ada tanggung jawab yang harus dibereskan dan ilmu yang harus disalurkan di negerinya. Ia bekerja di sebuah NGO yang bermitra dengan pemerintah Indonesia, berperan menjembatani kebijakan pemerintah dengan kebutuhan anak-anak di lapangan. “Bagi saya, salah satu sektor strategis untuk mengimplementasikan perlindungan anak adalah melalui pendidikan,” ujarnya.
Perjalanan Pritta menegaskan bahwa ketekunan, refleksi diri, dan komitmen pada tujuan dapat mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. Ia menjadi contoh bahwa perjuangan yang terus dilakukan tidak akan sia-sia, dan setiap langkah menuju pendidikan yang lebih baik dapat membawa dampak positif bagi masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
