Rumah Mbah Sojo di Nganjuk Bolong, Hidup Tanpa Listrik

Lina F. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Rumah Mbah Sojo di Nganjuk Bolong, Hidup Tanpa Listrik

Gambar atau konten salah?

Di sebuah gang sempit di Desa Sugihwaras, Kecamatan Bagor, Nganjuk, hiduplah Mbah Sojo (66). Ia seorang lansia yang tinggal sendirian di rumah yang sudah sangat reyot. Kondisinya jauh dari layak huni. Tidak ada dapur. Temboknya pun pernah roboh. Setiap kali angin kencang bertiup, rasa khawatir selalu menyelimuti.

Atap rumahnya bolong di sana-sini. Beberapa bagian bahkan sudah ambrol. Dindingnya juga sudah rapuh. Mbah Sojo menceritakan, saat hujan turun, air masuk dari segala penjuru. "Kalau hujan itu bocor semua," katanya pada Jumat, 10 Juli 2026.

Rumah ini sudah ia tempati selama lebih dari 20 tahun. Ketakutan terbesarnya adalah saat angin kencang datang. Sebab, sebagian tembok yang dulu dipakai sebagai kandang pernah roboh diterjang angin. "Sudah pernah roboh temboknya," kenangnya.

Di usianya yang tidak lagi muda, Mbah Sojo menjalani hidup seorang diri. Kedua anaknya sudah menikah dan tinggal bersama suami masing-masing. Ia pun sudah lama berpisah dengan istrinya.

Untuk makan sehari-hari, Mbah Sojo bekerja serabutan. Ia mencari rumput untuk pakan ternak milik orang lain. Ia juga menerima pekerjaan apa pun yang ditawarkan warga. "Nggak punya dapur karena sudah roboh. Kalau makan di warung atau kadang-kadang dapat kiriman makanan dari saudara," imbuhnya.

Rumah yang ia tempati juga belum memiliki sambungan listrik sendiri. Saat malam tiba, penerangan hanya berasal dari satu lampu yang dialiri listrik dari rumah sepupunya di depan. "Tidak punya listrik. Ini ada lampu dialiri kabel dari tetangga rumah di depan, rumah milik sepupu. Dari dulu memang tidak pernah pasang listrik," ungkapnya.

Untuk beristirahat, Mbah Sojo tidak memiliki kasur. Ia hanya membentangkan tikar sebagai alas tidur di lantai rumah yang sudah mulai lapuk.

Selama ini, Mbah Sojo mengaku belum pernah merasakan perbaikan atau renovasi rumah. Padahal, ia sudah mengajukan permohonan bantuan perbaikan rumah. Namun, hingga kini belum juga terealisasi. Bantuan yang pernah diterimanya hanya berupa sembako dan uang tunai sebesar Rp900 ribu. Itu pun baru diterima satu kali. "Belum pernah direnovasi. Sebenarnya sudah pernah mengajukan, tapi belum dapat. Beberapa tahun lalu pernah dapat bantuan beras sama uang Rp900 ribu," pungkasnya.

Kisah Mbah Sojo menggambarkan bagaimana seorang lansia harus bertahan hidup dalam keterbatasan. Tanpa dapur, tanpa listrik, dan tanpa tempat tidur yang layak. Bantuan yang ada belum cukup untuk mengubah kondisi rumahnya yang terus memburuk dari tahun ke tahun.

rumah reyotlansia miskinbantuan perbaikanhidup sebatang kararumah tak layak hunitanpa listrikpekerja serabutan

Komentar

Memuat komentar...