Tanggul Lumpur Lapindo Kritis, 20 Cm dari Luapan

Jaka M. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Tanggul Lumpur Lapindo Kritis, 20 Cm dari Luapan

Gambar atau konten salah?

Kondisi tanggul penahan lumpur Lapindo di titik 10D, Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo, semakin mengkhawatirkan. Permukaan air yang bercampur lumpur kini hanya berjarak sekitar 20 sentimeter dari bibir tanggul yang baru saja ditinggikan.

Berdasarkan pantauan di lokasi, permukaan air lumpur hampir menyentuh bibir tanggul. Di sisi lain, tanggul baru terlihat kering dan sudah mengalami retakan di beberapa titik. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa tanggul tersebut rentan bocor.

Seorang petugas PPLS yang tidak mau disebutkan namanya menjelaskan, peningkatan debit air dan lumpur terjadi karena semburan saat ini lebih banyak mengarah ke utara. Akibatnya, permukaan lumpur di area tanggul sisi utara terus naik. "Debit air dan lumpur sekarang mengarah ke utara. Akibatnya, permukaan di tanggul sebelah utara naik, bahkan tadi pagi sempat terjadi kebocoran," ujarnya.

Sastro, pemandu wisata Lumpur Lapindo, mengatakan volume air dan lumpur sudah meningkat selama empat hari terakhir. Setiap hari, permukaan lumpur terus bertambah. "Kalau tanggul tidak ditinggikan, kemungkinan air dan lumpur sudah meluber. Peninggian tanggul dilakukan menggunakan material tanah lumpur yang diambil dari sekitar tanggul," kata Sastro.

Ia menduga tanggul penahan lumpur di titik 10D hingga titik 71 mengalami penurunan tanah. Akibatnya, aliran air dan lumpur kini bergerak ke arah barat dan utara.

Dugaan itu dibenarkan oleh Perencanaan dan Pelaksana PPLS, Arif Firmanto. Menurutnya, telah terjadi penurunan tanah di kawasan tanggul titik 10D sehingga memengaruhi arah aliran lumpur. "Memang terjadi penurunan tanah di titik 10D. Karena itu air dan lumpur bergerak ke arah barat mendekati rel kereta api serta mengarah ke utara," kata Arif.

Ia menjelaskan, meski volume semburan lumpur saat ini sudah jauh menurun dibanding awal bencana, kondisi tetap harus diwaspadai. Pada awal semburan tahun 2006, volume lumpur mencapai sekitar 100.000 hingga 120.000 meter kubik per hari. Kini debitnya berkisar antara 27.000 hingga 32.000 meter kubik per hari.

Menurut Arif, karakter lumpur yang mengandung material berat membuat alirannya tidak seperti air. Saat ini arah dominan aliran lumpur bergerak ke utara dan barat, mendekati rel kereta api serta Jalan Raya Porong. Pemantauan dan penguatan tanggul terus dilakukan untuk mengantisipasi risiko luapan.

Bencana lumpur Lapindo yang dimulai pada 29 Mei 2006 ini masih terus berdampak hingga kini. Meskipun volume semburan sudah menurun drastis, pergerakan lumpur yang mendekati infrastruktur vital seperti rel kereta api dan jalan raya menunjukkan bahwa penanganan bencana ini masih jauh dari selesai. Penurunan tanah di area tanggul menjadi tantangan baru yang membutuhkan perhatian serius.

tanggul lumpur Lapindodebit lumpurpenurunan tanahkebocoran tanggulSidoarjosemburan lumpurinfrastruktur vital

Komentar

Memuat komentar...