Sabrina Pindah ke Sekolah Rakyat Demi Ringankan Beban Ibu

Fandi R. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Sabrina Pindah ke Sekolah Rakyat Demi Ringankan Beban Ibu

Gambar atau konten salah?

Sabrina Septianasari tidak ragu meninggalkan sekolah lamanya. Remaja ini memilih pindah ke Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 5 Ponorogo. Sebelumnya, ia bersekolah di MA Miftahul Ulum Balong. Keputusan besar ini diambil agar ibunya tidak lagi terbebani biaya pendidikan.

Sabrina seharusnya naik ke kelas XI tahun ini. Namun, ia memilih mengikuti program yang digagas Kementerian Sosial. Alasannya sederhana: seluruh biaya pendidikan ditanggung pemerintah. "Pengennya biar tidak membebankan ibu. Insyaallah juga ingin mandiri," kata Sabrina kepada wartawan. Ia baru saja menerima SK Penetapan Peserta Didik Baru Sekolah Rakyat Ponorogo pada Jumat, 10 Juli 2026.

Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan. Sabrina masih memiliki dua adik yang juga bersekolah. Adik pertamanya akan naik ke kelas IX. Ia ingin meringankan beban ekonomi keluarga. "Sebelumnya saya sekolah di MA Miftahul Ulum. Saya punya dua adik, jadi tertarik pindah. Tahu Sekolah Rakyat dari pendamping PKH. Yang membuat saya tertarik karena sekolahnya gratis," jelasnya.

Ada konsekuensi yang harus dihadapi. Selama tahun pertama, Sabrina harus tinggal di asrama dan mengikuti pembelajaran di Madiun. Ia mengaku siap menjalani kehidupan baru. "Iya, tahu nanti di Madiun. Insyaallah siap," ucapnya singkat.

Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menjelaskan, Sekolah Rakyat Ponorogo tahun ajaran 2026/2027 menerima 76 peserta didik. Mereka tersebar di jenjang SD, SMP, dan SMA. Menurutnya, kuota jenjang SD hingga kini belum terpenuhi. Meski begitu, seluruh peserta tetap harus melalui proses seleksi. Tidak semua pendaftar bisa diterima. "Jumlah siswanya ada 76 orang. Per rombongan belajar maksimal 30 siswa. Untuk SD memang masih kurang. Ini melalui seleksi, jadi tidak semua yang mendaftar bisa masuk. Program ini sangat luar biasa," kata Lisdyarita.

Lisdyarita juga mengingatkan para siswa agar tidak merasa rendah diri. Menurutnya, kesuksesan ditentukan oleh semangat belajar, bukan nama sekolah. "Saya sampaikan kepada mereka, masa depan bukan ditentukan dari tempat kalian belajar, tetapi bagaimana kalian belajar dengan sungguh-sungguh. Saya yakin mereka bisa menjadi anak-anak yang sukses," ujarnya.

Ia menilai anggapan bahwa Sekolah Rakyat merupakan sekolah kelas dua tidaklah tepat. Buktinya, para siswa mampu menunjukkan prestasi. Salah satunya melalui penampilan grup reog yang berhasil meraih penghargaan dalam Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP). "Kadang Sekolah Rakyat dipandang sebelah mata, padahal kegiatannya luar biasa dan anak-anaknya juga mampu berprestasi," imbuhnya.

Lisdyarita juga berharap para orang tua mengikhlaskan anak-anaknya tinggal di asrama. Tujuannya agar proses pendidikan bisa berjalan maksimal. "Yang penting orang tua ikhlas menitipkan anaknya di Sekolah Rakyat. Kalau ikhlas, anak-anak akan fokus belajar dan insya Allah menjadi anak-anak yang sukses," pungkasnya.

Program Sekolah Rakyat ini memberikan akses pendidikan gratis bagi keluarga kurang mampu. Dengan sistem asrama dan biaya ditanggung negara, siswa seperti Sabrina bisa fokus belajar tanpa memikirkan biaya. Prestasi para siswa, seperti kemenangan grup reog di FNRP, menunjukkan bahwa sekolah ini mampu mencetak anak-anak berprestasi meski sering dipandang sebelah mata.

Sekolah RakyatPendidikan GratisPonorogoBiaya PendidikanAsramaKeluarga Kurang MampuPrestasi SiswaKementerian Sosial

Komentar

Memuat komentar...