Rupiah melemah, harga obat naik, generik tetap terjangkau
Gambar atau konten salah?
Rupiah yang terus melemah menimbulkan lonjakan harga obat. Menurut Kementerian Kesehatan, lebih dari 90 persen bahan baku obat diimpor dari India dan Tiongkok. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi pasien yang mengonsumsi obat kronis, seperti jantung, diabetes, dan stroke.
Meski ada potensi kenaikan harga, Kemenkes menegaskan bahwa nilai tukar bukan satu-satunya faktor. 10 Juni 2026, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Aji Muhawarman menjelaskan bahwa harga obat terdiri dari beberapa komponen: bahan baku, produksi, kemasan, distribusi, dan margin usaha.
Untuk obat penyakit kronis, Aji menegaskan bahwa dampak kenaikan harga tidak akan langsung dirasakan. Sebagian besar obat tersebut adalah generik dan diproduksi di dalam negeri, meski masih menggunakan bahan baku impor.
“Industri farmasi umumnya memiliki stok bahan baku dan kontrak pengadaan yang dibeli sebelum pelemahan kurs terjadi. Karena itu dampak terhadap harga obat biasanya tidak bersifat langsung dan berbeda-beda antar produk,” jelasnya.
Meski demikian, pihaknya memahami bahwa nilai tukar dan inflasi dapat memengaruhi harga obat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah revisi Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) mengenai nilai klaim obat.
Aji menambahkan, “Revisi tersebut dilakukan sebagai bagian dari evaluasi berkala terhadap nilai klaim obat.”
Kemenkes mempertimbangkan berbagai faktor dalam menetapkan nilai klaim, termasuk perkembangan harga pasar, kondisi pengadaan, inflasi, dan pergerakan nilai tukar rupiah. Tujuannya agar nilai klaim tetap relevan dengan kondisi aktual di lapangan.
Dengan cara ini, kementerian berupaya menjaga keseimbangan antara keberlanjutan layanan kesehatan, kepastian pembiayaan dalam Program JKN, dan keterjangkauan akses obat bagi masyarakat.
Secara keseluruhan, meski melemahnya rupiah menimbulkan tekanan pada harga obat, langkah-langkah revisi dan evaluasi berkala diharapkan dapat memitigasi dampak langsung bagi pasien, khususnya yang mengonsumsi obat generik yang diproduksi di dalam negeri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kemenkes Luncurkan Cek Hati Gratis untuk Deteksi Fatty Liver
Kopi Manis Jakarta: Gula dan Lemak Memperburuk Hati
Mengenang Otak: Mengapa Melupakan Lebih Penting Bawah Sadar
Ivan Fahrurozi: Kembali Normal Setelah Transplantasi
5 Kasus Mpox Baru Terkait Sauna Hutong, Hong Kong Menangani
Menteri Kesehatan: BPJS Tidak Naik Iuran, Dana 20 Triliun
Berita Terbaru
Indonesia Siap Hadapi Australia di Semifinal AFF U‑19 11 Juni
Piala Dunia 2026: Batas Waktu Gawang dan Throw-In 5 Detik
Pesta Siaga Kwarran Mojoroto di GOR Kediri Fokus Karakter
Toronto Siap Sambut Piala Dunia 2026 lewat PATH Bawah Tanah
Volkswagen Kritik Larangan ICE, Sarankan Pilihan Konsumen
Manchester United Jual Onana Tanpa Tawaran Gaji Tinggi
Harga Pertamax Naik, Purbaya: Beberapa Konsumen Pindah
Kemacetan Meningkat di Kelurahan Kapal Mengwi Saat Galungan
BMKG Prediksi Puncak Kemarau Agustus 2026 di 48,8% Wilayah
