Semarang: Lima Warung Kopi Legendaris Menjaga Pesona Zaman

Ani R. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 88 dibaca
Bisik.id
Semarang: Lima Warung Kopi Legendaris Menjaga Pesona Zaman

Gambar atau konten salah?

Semarang, kota yang dikenal dengan lumpia dan kopi, menampung banyak warung kopi tua yang masih beroperasi hingga kini. Banyak di antaranya sudah berdiri lebih dari satu abad, menampilkan arsitektur klasik dan cerita sejarah yang menarik.

Berikut ini lima tempat ngopi legendaris di Semarang yang masih mempertahankan pesona zaman dulu:

  1. Dharma Boutique Roastery (Margo Redjo) – Gerai ini menampilkan tulisan di depan pintu: “Beroperasi sejak 1915”. Dengan usia 111 tahun, tempat ini dulunya merupakan pabrik kopi yang paling tua di kota. Bangunan berukir gaya Eropa, bukan pabrik skala besar, melainkan rumah tua. Pabrik kopi ini bernama Margo Redjo dan dimiliki oleh Tan Tiong Ie. Kini, kepemilikan telah turun ke generasi ketiga, Widayat Basuki Dharmowiyono, sehingga nama berubah menjadi Dharma Boutique Roastery. Di sini, secangkir kopi masih terasa autentik, memadukan rasa tradisional dengan sentuhan modern.

  2. Kopi Banaran – Terletak di Jalan Raya Semarang‑Bawen KM 1,5, warung ini berada di tengah Agrowisata Kampoeng Kopi Banaran. Dataran tinggi sekitar 400‑600 mdpl memberi suasana sejuk yang menyenangkan. Kopi Banaran sudah beroperasi sejak pagi hari, menggunakan biji kopi dari perkebunan Getas Banaran yang sudah terkenal nikmatnya. Selain warung, tempat ini juga berfungsi sebagai pabrik kopi dan kawasan agrowisata. Sejarahnya dimulai pada tahun 1911, saat era kolonial, sehingga warung ini menjadi saksi bisu perubahan zaman.

  3. Eva Coffee House (Tjipto Coffee & Roastery) – Warung ini berdiri sejak 1959. Pemiliknya, Michael Tjipto Marjoto, mantan Tentara Pelajar Brigade 17, memberi nama warung ini sebagai penghormatan kepada dirinya sendiri. Di dalam area Eva Coffee House, terdapat Tjipto Coffee & Roastery yang menampilkan gaya modern namun tetap mempertahankan nuansa klasik. Tempat ini menjadi pilihan bagi para pengunjung yang ingin menikmati kopi di pagi atau sore hari, di lingkungan yang asri dan nyaman.

  4. Mukti Cafe – Meskipun bangunan ini sudah ada sejak 1895, fungsi kafe baru mulai aktif sejak 2013. Sebelumnya, gedung ini berperan sebagai gudang tembakau yang terkenal pada masanya. Keluarga Kusuma Atmaja Agung menjadi pemiliknya. Kini, Mukti Cafe menggabungkan konsep ngopi dengan menikmati tembakau, menargetkan mayoritas pelanggan pria. Proses panggang biji kopi di sini masih dilakukan secara manual, menambah keunikan pengalaman.

  5. Tekodeko – Warung ini baru dibuka pada 2015, namun bangunan yang menampungnya adalah peninggalan Belanda di Kota Lama Semarang. Meskipun baru, Tekodeko berhasil menampilkan nuansa klasik yang memikat pengunjung. Tempat ini cocok untuk nongkrong sambil menikmati secangkir kopi hangat. Bangunan klasiknya juga sering dijadikan latar foto, menjadikannya spot populer di kalangan warga dan wisatawan.

Semua tempat di atas tidak hanya menawarkan kopi, tetapi juga menyimpan cerita sejarah yang kaya. Dari pabrik kopi kolonial hingga warung yang masih mempertahankan arsitektur Eropa, masing-masing tempat menampilkan perjalanan panjang yang tak terlupakan. Pengunjung dapat merasakan nuansa masa lalu sambil menikmati secangkir kopi yang masih memikat selera.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menonton video Video: Tips Kurban Sehat, Bebas Derita Kolesterol dan Asam Urat yang menampilkan tips kesehatan yang relevan bagi para penikmat kopi.

Keberadaan warung kopi legendaris ini menunjukkan bahwa tradisi ngopi di Semarang masih hidup. Meskipun modernitas terus merambah, warung-warung ini tetap mempertahankan identitasnya, memberi pengalaman kopi yang autentik bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

Semarangkopi legendariswarung kopi tuaarsitektur Eropasejarah kolonialpabrik kopiwarung kopi Semarang

Komentar

Memuat komentar...