Sembilan Pelinggih di Pura Nusa Penida Hangus Terbakar

Yanto K. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Sembilan Pelinggih di Pura Nusa Penida Hangus Terbakar

Gambar atau konten salah?

Sebuah musibah kebakaran melanda Pura Puseh yang berada di Desa Adat Nyuh Kukuh, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, pada Jumat siang, 10 Juli 2026. Sembilan bangunan suci atau palinggih di pura tersebut hangus dilalap api. Kerugian material akibat kejadian ini diperkirakan mencapai angka Rp1,5 miliar.

Kebakaran pertama kali diketahui oleh warga sekitar pada pukul 14.00 Wita. Mereka melihat kepulan asap hitam pekat membumbung dari area pura. Menyadari situasi genting, Bendesa Adat Nyuh Kukuh yang bernama I Wayan Lugra segera menghubungi Polsek Nusa Penida untuk meminta pertolongan darurat. Tidak butuh waktu lama, personel kepolisian berkoordinasi dengan petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan langsung menuju lokasi kejadian.

Kapolsek Nusa Penida, Kompol I Ketut Kesuma Jaya, menjelaskan bahwa api menjalar dengan sangat cepat. Penyebab utamanya adalah material atap dari sebagian besar palinggih yang memang mudah terbakar. "Api dengan cepat membesar karena sebagian besar atap pelinggih berbahan mudah terbakar seperti ijuk (duk) dan kayu," ujarnya pada hari yang sama.

Proses pemadaman dilakukan secara gotong royong. Aparat kepolisian, petugas damkar, dan warga setempat bahu-membahu berusaha menjinakkan kobaran api. Angin kencang yang bertiup di wilayah Nusa Penida menjadi tantangan tersendiri, membuat api terus berkobar dan sulit dipadamkan.

Setelah berjuang selama kurang lebih tiga setengah jam, api akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 17.30 Wita. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, kerusakan pada area suci tersebut terbilang parah. "Akibat peristiwa tersebut, sebanyak sembilan pelinggih mengalami kerusakan berat," tambah Kompol Kesuma.

Sembilan palinggih yang menjadi korban kebakaran antara lain meru tumpang pitu, palinggih penyimpanan, palinggih pengaruman, gedong mas catu, gedong mas cari, gedong menjangan seluang, gedong saraswati, gedong harta, dan gedong taksu. Semuanya mengalami kerusakan berat dan tidak bisa digunakan lagi.

Dari hasil penyelidikan awal kepolisian, dugaan sementara penyebab kebakaran adalah kelalaian manusia. Peristiwa ini diduga kuat dipicu oleh sisa pembakaran banten atau sesajen yang belum benar-benar padam setelah upacara keagamaan. Angin kencang yang bertiup kemudian membuat percikan api dari sisa pembakaran itu dengan cepat merembet ke atap ijuk palinggih, hingga akhirnya memicu kebakaran besar.

Menanggapi kejadian ini, Kompol Kesuma mengimbau masyarakat dan warga adat untuk lebih waspada. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian, terutama dalam hal penggunaan api terbuka setelah prosesi upacara selesai. "Kesigapan dan kebersamaan seluruh pihak menjadi kunci dalam mengendalikan situasi. Kami mengajak masyarakat untuk selalu waspada dan memastikan api benar-benar padam guna mencegah kejadian serupa," tegasnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa material bangunan tradisional yang mudah terbakar, seperti ijuk dan kayu, memerlukan kewaspadaan ekstra. Terlebih di wilayah dengan kondisi angin kencang seperti Nusa Penida, percikan api sekecil apa pun bisa berubah menjadi bencana besar jika tidak ditangani dengan benar. Tidak ada korban jiwa, tapi sembilan tempat suci yang menjadi pusat kegiatan keagamaan warga kini tinggal kenangan.

kebakaran purapura pusehnusa penidabalikerugian materialkelalaian manusiasisa pembakaran banten

Komentar

Memuat komentar...