Pertamina dan Boeing Jajaki Produksi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Guntur P. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pertamina dan Boeing Jajaki Produksi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Gambar atau konten salah?

PT Pertamina (Persero) dan Boeing (NYSE: BA) resmi menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Isinya, mereka akan menjajaki pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan, yang dikenal dengan Sustainable Aviation Fuel (SAF), di Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menekan emisi karbon di sektor penerbangan dan mempercepat transisi energi menuju target Net Zero Emission (NZE).

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menyampaikan pernyataan tertulis pada Kamis, 09 Juli 2026. Ia mengatakan bahwa kerja sama ini sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Menurutnya, Indonesia terus mendorong pengembangan SAF sebagai salah satu solusi untuk mengurangi emisi karbon di sektor penerbangan sekaligus mendukung terciptanya industri penerbangan yang lebih berkelanjutan.

Simon juga merujuk pada laporan ASEAN 2050 SAF Outlook. Laporan itu menempatkan Indonesia di peringkat tiga besar di ASEAN dengan potensi surplus produksi SAF terbesar. Proyeksinya, Indonesia bisa memproduksi hingga 2,2 juta barel per hari pada tahun 2050.

Melalui kerja sama ini, Pertamina dan Boeing akan berkolaborasi dalam berbagai aspek pengembangan ekosistem SAF di Indonesia. Cakupannya meliputi identifikasi potensi bahan baku atau feedstock, pengembangan teknologi, dan dukungan terhadap pengembangan kebijakan yang diperlukan untuk mempercepat implementasi SAF.

Simon menegaskan bahwa bagi Pertamina, kolaborasi ini bukan sekadar pengembangan bahan bakar. Ia menyebutnya sebagai investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri SAF nasional. Ia optimistis dengan potensi sumber daya domestik yang melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, dan keahlian global Boeing di sektor aviasi, kerja sama ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing. Hal ini, menurutnya, akan menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan.

Pertamina sebenarnya sudah memulai berbagai inisiatif sebagai bagian dari pengembangan ekosistem SAF nasional. Beberapa di antaranya adalah produksi dan sertifikasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF), implementasi penggunaannya bersama Pelita Air, hingga pengembangan proyek Cilacap Biorefinery oleh PT Pertamina Patra Niaga. PT Pertamina Patra Niaga memproduksi SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) yang bahan bakunya berasal dari Used Cooking Oil (UCO) serta bahan baku berkelanjutan berbasis limbah lainnya.

Simon menambahkan, Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060. Perusahaan juga terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Semua upaya ini, katanya, sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha, dan lingkungan dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan Danantara.

Sementara itu, Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, memberikan pandangannya. Pihaknya memperkirakan lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara akan tumbuh rata-rata 7% per tahun. Kebutuhan pesawat baru diperkirakan mencapai 4.885 unit hingga tahun 2044. Di tengah pertumbuhan tersebut, pemanfaatan SAF menjadi salah satu solusi penting untuk menekan emisi karbon sektor aviasi.

Indra menilai Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara. Ia menjelaskan, dalam bentuk murni atau neat SAF, bahan bakar ini berpotensi mengurangi jejak karbon penerbangan hingga 80% dibandingkan bahan bakar jet konvensional. Boeing menyambut baik kolaborasi dengan Pertamina dalam berbagai inisiatif pengembangan SAF, mulai dari identifikasi potensi bahan baku hingga dukungan terhadap program edukasi dan pelatihan. Tujuannya, mempercepat pengembangan ekosistem SAF di Indonesia. Indra berharap kolaborasi ini dapat mendukung masa depan industri penerbangan Indonesia yang lebih berkelanjutan sekaligus memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Kerja sama ini menunjukkan bahwa transisi energi di sektor penerbangan mulai bergerak dari wacana ke tahap penjajakan konkret. Pertamina dan Boeing sama-sama melihat potensi besar Indonesia, baik dari sisi sumber daya alam maupun posisi geografisnya, untuk menjadi pemain utama dalam produksi SAF di kawasan Asia Tenggara.

PertaminaBoeingSAFSustainable Aviation Fuelbahan bakar penerbanganemisi karbontransisi energi

Komentar

Memuat komentar...