Siswa MAN Pekalongan Dapat 15 LoA, Pilih UBC Kanada

Andi B. · 4 min baca · 3 bulan lalu · 105 dibaca
Bisik.id
Siswa MAN Pekalongan Dapat 15 LoA, Pilih UBC Kanada

Gambar atau konten salah?

Ahmad Ali Rayyan Shahab, seorang siswa MAN Insan Cendekia Pekalongan, kini memegang 15 letter of acceptance (LoA) dari 13 universitas terbaik di dunia. Ia tidak pernah membayangkan pada awalnya akan melangkah ke luar negeri, namun pengalaman dan tekadnya membuatnya meraih pencapaian tersebut.

Minat Rayyan untuk belajar di luar negeri muncul ketika ia berada di semester dua kelas sepuluh. Ia mengaku bahwa keinginannya dipicu oleh suasana akademik yang kompetitif di sekolahnya. “Di situ aku tertarik untuk mengikuti itu. Jadi itulah yang menjadi awal bagi aku mau pergi keluar gitu loh. Merasakan gimana sih kehidupan di luar, sekolah di luar berteman dengan orang luar,” ujarnya saat diwawancarai detikEdu pada Senin (06 April 2026).

Untuk mengikuti program pertukaran pelajar AFS Intercultural Programs, Rayyan harus melewati serangkaian tes: administrasi, wawancara, dan focus group discussion (FGD). Dalam FGD, para peserta diminta melakukan presentasi dan diskusi yang disaksikan oleh evaluator. Setelah lulus, ia terpilih untuk bertukar pelajar ke Finlandia, di mana ia menghabiskan sembilan bulan di kelas dua SMA.

Pengalaman di Finlandia memperkuat tekadnya. “Jadi untuk kemauannya muncul itu ceritanya sebenarnya seperti itu. Dan juga ada dorongan dari orang tua, dorongan dari guru-guru dan teman-teman di lingkungan MAN ICP yang apa ya, luar biasa gitu,” tuturnya.

Rayyan memiliki hobi menulis sejak kecil dan pernah menulis buku. Ia mengumpulkan portofolio untuk studi luar negeri dengan menulis artikel tentang biologi dan lingkungan. Salah satu artikelnya dipublikasikan di greenfaith.com. “Nah, dan aku juga selama ketika exchange itu, aku juga menulis gitu, bagaimana misal di Finlandia mereka itu dapat menjaga lingkungan mereka melalui daur ulang gitu,” jelasnya.

Ia menambahkan, “Setelah itu aku juga buat community project terkait dengan lingkungan di mana aku tuh membantu mengolah sampah makanan di sekolah, gitu, jadi itu yang aku lakukan untuk persiapan portofolio.” Portofolio tersebut, yang berfokus pada lingkungan, menjadi bukti komitmen dan konsistensinya. Ia menegaskan bahwa mempersiapkan portofolio tidak kalah penting dibandingkan nilai rapor. “Memperoleh nilai rapor yang tinggi memang penting, tapi untuk berkuliah ke luar negeri tidak cukup hanya dengan nilai bagus. Perlu juga memiliki visi, aksi, dan konsistensi,” ujarnya.

Selama SMA, Rayyan tidak pernah mengikuti lomba atau memenangkan kompetisi. “Selama SMA, aku tuh nggak pernah ikut lomba dan memenangkan lomba, gitu tapi portofolio aku itu muncul dari kreativisme aku di bidang tersebut,” ungkapnya. Meskipun begitu, ia berhasil menjadi pembicara pada Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025, di mana ia berbicara dalam bahasa Inggris.

Berbicara tentang bahasa Inggris, Rayyan menekankan pentingnya sertifikat IELTS. “Teman-teman kalau mau keluar negeri, itu harus punya sertifikat IELTS itu jadi harga mutlak, gitu loh, karena teman-teman semua nanti butuh bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari, bahasa pengantar, sehingga mereka akan membutuhkan nilai IELTS di atas mungkin 6,5 gitu,” jelasnya.

Dengan kombinasi portofolio, nilai akademik, dan kemampuan bahasa Inggris, Rayyan diterima di 13 kampus top di Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Inggris, dan Australia. Daftar universitas tersebut antara lain:

  • University Of California, San Diego – Amerika Serikat
  • University of California, Davis – Amerika Serikat
  • University of British Columbia – Kanada
  • University of Toronto – Kanada
  • University of Waterloo – Kanada
  • McGill University – Kanada
  • Wageningen University & Research – Belanda
  • University of Manchester – Inggris
  • University of Auckland – Selandia Baru
  • Monash University – Australia
  • University of Queensland – Australia
  • Adelaide University – Australia
  • University of Western Australia – Australia

Dari semua pilihan, Rayyan memilih jurusan teknik di University of British Columbia. Ia juga mengajukan beasiswa Garuda dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta LPDP. “Nah yang akan aku ambil dan yang aku telah ajukan ke beasiswa Garuda itu di University of British Columbia di Kanada, aku sedang mengajukan untuk funding dari Garuda di prodi Bachelor of Applied Sciences, atau sebenarnya itu teknik di situ, jadi kaya nanti aku akan ngambil 1 tahun teknik umum, kemudian nanti 3 tahun setelahnya teknik lingkungan,” jelasnya.

Rayyan menekankan bahwa pengalaman di luar negeri bukan sekadar studi, melainkan juga tentang bertemu orang baru dan memahami budaya serta situasi yang berbeda. “Yang pengen aku rasain di luar negeri itu adalah, aku bertemu dengan orang-orang baru, artinya pengalaman dan rasa kebaruan itu ya menemui lingkungan baru, kemudian bertemu dengan budaya dan situasi yang baru itu menambah perspektif aku dan aku menjadi orang yang lebih aware (paham) dengan diriku dan sekitarku gitu,” pungkasnya.

Perjalanan Rayyan menunjukkan bahwa kombinasi tekad, persiapan portofolio, dan kemampuan bahasa Inggris dapat membuka pintu ke universitas top di dunia. Ia juga menegaskan bahwa dukungan keluarga, guru, dan teman sangat penting dalam proses tersebut. Dengan langkah-langkah tersebut, Rayyan siap menempuh studi teknik di Kanada dan berharap dapat terus berkontribusi pada isu lingkungan melalui ilmu yang didapat.

Ahmad Ali RayyanMAN Insan Cendekia PekalonganAFS Intercultural ProgramsPortofolio LingkunganSertifikat IELTSBeasiswa GarudaUniversity of British Columbia

Komentar

Memuat komentar...