Skandal Penelitian Palsu di ISPPD: Peneliti Indonesia Terjerat

Lina F. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 103 dibaca
Bisik.id
Skandal Penelitian Palsu di ISPPD: Peneliti Indonesia Terjerat

Gambar atau konten salah?

Skandal penelitian palsu yang menjerat peneliti asal Indonesia muncul di ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17 Mei 2026 – 21 Mei 2026. Kasus ini menjadi sorotan ketika epidemiolog Indonesia yang sedang menempuh studi doktoral di Oxford University, Wa Ode Dwi Daningrat, mengungkap berbagai kejanggalan yang ia temui selama konferensi.

ISPPD adalah konferensi ilmiah terkemuka yang pada tahun ini dihadiri lebih dari 1.300 peserta dari 86 negara. Namun, nama Indonesia justru menjadi bahan pembicaraan karena dugaan manipulasi identitas peneliti dan data riset yang dianggap janggal. Dwi membagikan kronologi skandal tersebut melalui video di akun Instagramnya, dan ia telah memberi izin kepada media untuk mengutip seluruh isinya.

Menurut Dwi, ia dan rekannya tertarik pada seorang peneliti yang bernama Prihantini karena afiliasinya berasal dari Indonesia. “Gue sama teman gue aware karena dia pakai afiliasi Indonesia. Kalau kita baca paper tentang pneumonia di Indonesia orangnya itu‑itu aja. Makanya kami scrutinize sampai ketahuan kayak gini karena dia afiliasinya Indonesia. Jadi naturally we are curious about that. Apalagi berasal dari satu negara sama‑sama Indonesia di konferensi minimal saling sapa,” ujarnya.

Keanehan semakin jelas ketika Prihantini kerap menghindari interaksi dengan delegasi Indonesia lain. Saat didekati, ia memperkenalkan diri menggunakan nama berbeda‑beda kepada orang yang berbeda. Dwi juga menemukan kejanggalan pada data yang ditampilkan. Salah satu yang paling mencurigakan adalah klaim pengumpulan data primer di wilayah dataran tinggi Andes, Peru, tanpa melibatkan kolaborator lokal sama sekali. “Mereka tuh ngumpulin data di Andes. Ngumpulin data dan enggak ada sama sekali kolaborator lokal di negara itu impossible untuk melakukan penelitian kayak gitu di negara orang. Itu salah satu keanehan yang paling menonjol,” ujarnya.

Dwi mengikuti sesi presentasi di mana Prihantini mempresentasikan risetnya. Dalam sesi yang dijadwalkan atas nama “Riana Dwi Kurniawati” dengan judul “Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneumonia Risk and Climate‑Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities”, Prihantini memperkenalkan diri menggunakan nama “Riana”. Sekitar sepuluh menit kemudian, pada sesi presentasi berbeda, Dwi melihat perempuan yang sama tampil kembali setelah mengganti jilbabnya menjadi warna merah. Ia juga mengeluarkan identitas bertuliskan nama “Dimas Fajar Prasetyo” dari dalam tasnya, lalu mempresentasikan penelitian yang berjudul “AI‑Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities”. Menurut Dwi, perempuan ini mengenalkan diri dengan nama “Dimas”.

Prihantini sendiri tidak berada dalam daftar penulis kedua penelitian tersebut. Ia memang mengirimkan lima judul penelitian dalam konferensi tersebut dan dipamerkan dalam bentuk poster. Berikut judul‑judulnya:

  • Deep Reinforment Learning Guided Scheduling of Flagellin and Antibiotics For Precision Host‑Directed Therapy in Pneumococcal Pneumonia
  • Global Data Mining of Resistant Pneumococcal Sepsis Transcriptomes Identifies Conserved Stress Modules Linking Virulence, Metabolism, and Vulnerability Axes
  • Multiscale Mathematical Modeling of Influenza‑Pneumococcal Superinfection to Define Optimal Timing for Flagellin Host‑Directed Therapy
  • Deep Learning Integration of Innate Lymphoid Cell States, Lung Transcriptomic Programs, and Cross‑Vivarium Microbiota Predicts Interleukin‑22‑Dependent Disease Severity in Pneumococcal Pneumonia
  • Multi‑Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities in Multidrug‑Resistant Streptococcus Pneumoniae

Menurut laman ISPPD, kelima riset tersebut dikerjakan oleh Prihantini bersama Rifaldy Fajar dan Rini Winarti. Prihantini dan Rifaldy menggunakan nama AI‑Biomedicine Research Group, IMCDS Biomed Research Foundation, Jakarta sebagai institusi asal. Sementara Rini Winarti memakai nama Departemen Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta sebagai afiliasi.

Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, menegaskan bahwa para WNI tersebut tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. “Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak‑pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki mekanisme evaluasi integritas riset melalui perguruan tinggi, komite etik, LPPM, sistem penjaminan mutu akademik, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiknas dan BRIN sesuai kewenangannya.

Prof. Nur Hidayanto, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Negeri Yogyakarta, menyatakan bahwa pihaknya sedang menelusuri alumni yang tercatat dalam kasus tersebut. Sementara itu, Rifaldy Fajar belum dapat dihubungi secara langsung. Namun, melalui akun Thread dan Instagramnya, ia sempat mengunggah konten yang menyebutkan sedang menyusun klarifikasi bersama peneliti lain. Konten tersebut kemudian hilang setelah Rifaldy menutup akunnya.

Kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang integritas data dan identitas peneliti di konferensi internasional. Pihak berwenang di Indonesia masih meneliti lebih lanjut, sementara komunitas riset pneumonia di Indonesia menunggu klarifikasi resmi. Kejadian ini menyoroti pentingnya verifikasi identitas dan kolaborasi lokal dalam penelitian global, serta perlunya mekanisme pengawasan yang kuat untuk menjaga kredibilitas ilmiah.

Skandal penelitian palsuInternational Symposium on Pneumococci and Pneumococcal DiseasesIndonesiaPrihantiniidentitas penelitidata risetverifikasi identitasintegritas ilmiah

Komentar

Memuat komentar...