SMAN 7 Sigi Tolak MBG karena Kendala Pengantaran Terlambat
Gambar atau konten salah?
SMAN 7 Sigi, yang terletak di Sulawesi Tengah, menolak penerimaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang biasanya diantar ke sekolah. Program ini seringkali terlambat.
Penolakan ini muncul setelah video di media sosial menunjukkan guru dan tenaga pendidik menolak paket makanan yang datang saat siswa sudah pulang. Video tersebut beredar luas pada 24 April 2026.
Pihak sekolah menyatakan bahwa keterlambatan distribusi bukan kejadian sekali saja, melainkan sudah berulang. Menurut staf tenaga pengajar, ketika makanan sudah diantar namun tidak ada lagi murid di sekolah, biasanya sisanya dibagikan kepada tetangga atau anak-anak kecil yang sudah pulang dari SD dan sering bermain di halaman sekolah.
“Kalau sudah terlanjur diantar dan sudah tidak ada lagi anak sekolah, biasanya kami membagikannya kepada tetangga atau anak-anak kecil yang sudah pulang dari SD dan sering bermain di halaman sekolah,” ujar Staf Tenaga Pengajar SMAN 7 Sigi, Irma R, kepada wartawan pada 26 April 2026.
Menurut Irma, alasan keterlambatan berasal dari berbagai faktor. Salah satu yang sering disebut adalah stok buah habis sehingga penyedia harus membeli kembali sebelum makanan diantar ke sekolah. “Pokoknya alasannya sudah banyak sekali. Kami juga tidak mengetahui kendala yang mereka hadapi di sana,” katanya.
Irma menegaskan bahwa pengantaran MBG lebih sering terlambat. Ia menambahkan, pernah ada kejadian makanan baru tiba hingga sore hari saat hampir seluruh siswa telah meninggalkan sekolah. “Yang jelas, keterlambatan ini sudah sering terjadi. Mungkin bisa dihitung, jumlah kedatangan yang tepat waktu lebih sedikit, lebih banyak yang terlambat,” ungkapnya.
Salah satu kejadian paling terlambat terjadi pada pukul 17.00 Wita, ketika anak-anak yang menunggu sudah tidak 100 persen lagi, paling hanya tersisa belasan orang,” tambahnya.
Kondisi ini kemudian memicu sorotan publik setelah video penolakan MBG di sekolah tersebut beredar luas di media sosial. Video tersebut menampilkan sejumlah guru dan tenaga pendidik lain di sekolah tersebut menolak kedatangan MBG.
Situasi ini menyoroti pentingnya koordinasi antara penyedia program dan pihak sekolah agar makanan dapat sampai tepat waktu. Tanpa jadwal yang konsisten, program yang dimaksudkan untuk mendukung pendidikan dan kesehatan siswa justru dapat menjadi sumber pemborosan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
10 Muharram 2026: Dua Tanggal, Satu Makna Asyura
BMKG Catat 1.074 Gempa Susulan di Sulteng, Terbaru Getarkan Sigi
Listrik Sigi Pulih Total Pasca Gempa Palu 6,7
Gempa 6,7 Guncang Sigi, Warga Kembali Mengungsi
Brimob Kirim Mobil Air Bersih dan Dapur Lapangan ke Sigi
Bapa Tahu Kebutuhan Kita, Berhentilah Khawatir
Berita Terbaru
10 Muharram 2026: Dua Tanggal, Satu Makna Asyura
Pabrik China rakit satu mobil tiap 50 detik, capai 600.000 setahun
Neymar Siap Turun Lawan Skotlandia di Piala Dunia
Dua Pekerja Tertimpa Marmer Dua Ton di Klaten
Penambang di Lumajang Luka Bakar Parah Akibat Material Panas Semeru
Qatar Belum Pernah Menang di Piala Dunia, Karma Kontroversi?
Harga Minyak Dunia Kembali Naik Setelah Israel Serang Lebanon
Truk ODOL rugikan negara Rp 47 triliun per tahun