Stereotactic Capsulotomy Pertama di RSUD Soetomo

Nita W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 53 dibaca
Bisik.id
Stereotactic Capsulotomy Pertama di RSUD Soetomo

Gambar atau konten salah?

RSUD dr Soetomo di Surabaya menandai sejarah medis Indonesia dengan pelaksanaan Stereotactic Capsulotomy, prosedur psychosurgery pertama di tanah air. Operasi ini berlangsung di ruang operasi Graha-STOC pada 22 April 2026, menandai langkah maju dalam layanan kesehatan jiwa.

Operasi ini pertama kali diberikan kepada dua pasien bersaudara dari Malang. Seorang pria berusia 30 tahun dan seorang wanita berusia 27 tahun keduanya didiagnosis dengan skizofrenia paranoid yang resisten terhadap terapi konvensional. Sebelumnya, kedua pasien sudah menjalani berbagai terapi standar, namun gejala agresivitas dan halusinasi tetap dominan.

Prof Dr dr Cita Rosita SpKK(K), Direktur Utama RSUD dr Soetomo, mengungkapkan bahwa prosedur ini diterapkan pada kedua pasien bersaudara tersebut. Ia menegaskan bahwa keputusan diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pasien.

Keberhasilan operasi ini tidak lepas dari kerja sama internasional. RSUD dr Soetomo bekerja sama dengan West China Hospital, bagian dari Sichuan University di Chengdu, China. Kolaborasi ini melibatkan pendidikan, pelayanan, dan penelitian, memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan transfer teknologi bedah saraf.

“Kami menyambut baik kerja sama dengan West China Hospital sebagai salah satu pusat layanan kesehatan terkemuka dunia. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia, meningkatkan kompetensi tenaga medis, serta mempercepat transfer teknologi dalam bidang bedah saraf dan kesehatan jiwa. Kerjasama ini akan membuka peluang peningkatan mutu layanan kesehatan bertaraf Internasional di Jawa Timur sesuai dengan arahan Ibu Gubernur,” ujar Prof Cita pada 23 April 2026.

Dr Azimatul Karimah SpKJ (K), Dokter Penanggung Jawab Pasien, menjelaskan bahwa Stereotactic Capsulotomy merupakan opsi terapi lanjutan bagi pasien resisten. Ia menekankan bahwa prosedur ini dipilih setelah asesmen ketat dan melibatkan berbagai disiplin ilmu.

“Pasien dengan skizofrenia paranoid resisten terapi seringkali mengalami hambatan dalam pengendalian gejala, meskipun telah mendapatkan pengobatan optimal. Melalui tindakan Stereotactic Capsulotomy ini, kami berharap dapat membantu mengurangi gejala dominan seperti agresivitas dan halusinasi, sehingga kualitas hidup pasien dapat meningkat,” jelasnya.

Dr Azimatul menambahkan, “Pendekatan multidisiplin sangat penting untuk memastikan bahwa tindakan yang diberikan benar-benar sesuai indikasi dan dilakukan dengan standar keamanan yang tinggi.”

Operasi dilakukan secara multidisiplin, melibatkan tim bedah saraf, psikiatri, anestesi, dan psikologi klinis. Prosedur ini menargetkan area otak yang berperan dalam regulasi emosi dan perilaku, dengan harapan memperbaiki gejala utama seperti perilaku agresif dan halusinasi yang sulit diatasi oleh terapi konvensional.

Keberhasilan operasi ini menjadi tonggak awal RSUD dr Soetomo dalam mengembangkan layanan kesehatan jiwa berbasis teknologi tinggi. Inovasi ini diharapkan menjadi alternatif terapi bagi pasien dengan kondisi serupa yang tidak merespons pengobatan standar, membuka peluang peningkatan mutu layanan kesehatan di Indonesia.

Operasi Stereotactic Capsulotomy di RSUD dr Soetomo menandai langkah penting dalam pelayanan kesehatan jiwa. Kolaborasi internasional dan pendekatan multidisiplin menjadi kunci keberhasilan, menandai era baru terapi bagi pasien skizofrenia resisten di Indonesia.

Stereotactic CapsulotomyRSUD dr SoetomoSkizofrenia paranoidWest China HospitalBedah sarafPsikoterapi psychosurgeryKolaborasi internasional

Komentar

Memuat komentar...