Sucipto 62, Parkir, Ulangi Tabungan 15 Tahun, Haji

Ningsih R. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
Sucipto 62, Parkir, Ulangi Tabungan 15 Tahun, Haji

Gambar atau konten salah?

Gang kecil di RT 003 RW 003 Kelurahan Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, terasa lebih ramai dari biasanya pada minggu terakhir. Setiap sore, warga datang silih berganti ke rumah sederhana milik Sucipto, 62 tahun, untuk mengucapkan selamat dan mengirimkan doa.

Pria ini sehari‑hari bekerja sebagai juru parkir di Pasar Pon. Ia akhirnya berhasil mewujudkan impiannya berangkat ke Tanah Suci setelah menabung selama belasan tahun. Dengan wajah haru bercampur bahagia, Sucipto mengaku tak pernah menyangka dirinya bisa sampai di titik ini. Penghasilannya yang pas‑pasan tak membuatnya menyerah mengejar rukun Islam kelima.

"Alhamdulillah rukun kelima bisa tercapai," ujar Sucipto saat ditemui di rumahnya, Senin 11 Mei 2026. Sejak tahun 1999, ia bekerja sebagai juru parkir di Pasar Pon. Selain itu, pada malam hari ia juga membantu menjaga perumahan Pemda di Kelurahan Bantarsoka, Kecamatan Purwokerto Barat.

"Profesi saya dua itu. Siang tukang parkir di Pasar Pon, malam bantu jaga perumahan," katanya. Penghasilannya pun jauh dari kata besar. Dari pekerjaan parkir, ia rata‑rata memperoleh Rp 50 ribu per hari. Sedangkan menjaga perumahan memberinya upah Rp 900 ribu per bulan.

"Kalau penghasilan rata‑rata ya Rp 50 ribu sehari hasil parkir. Sedangkan yang jadi penjaga malam sebulan Rp 900 ribu," tuturnya. Namun dari penghasilan sederhana itulah Sucipto mulai menabung sedikit demi sedikit sejak 2012. Ia menahan keinginan pribadi demi satu tujuan, yakni bisa berangkat haji.

"Saya nabung ikut‑ikut orang kaya. Sedikit‑sedikit. Kalau ada lebih habis bayar sekolah anak, saya simpan. Kadang Rp 4 juta, Rp 5 juta," katanya. Ia memiliki cara tersendiri dalam mengumpulkan uang. Setiap hari ia menyisihkan hasil kerjanya ke BMT. Setelah jumlahnya cukup besar, uang itu dipindahkan ke bank.

"Harian juga nabung ke BMT. Kalau sudah besar saya tarik ke BRI. Terus terakhir pelunasannya lewat BCA. Perjuangannya luar biasa," ungkapnya. Di tengah perjuangan itu, Sucipto juga harus berjibaku membiayai pendidikan ketiga anaknya hingga lulus kuliah. Bahkan dirinya mengaku sempat berutang demi memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak.

"Dengan keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan untuk naik haji. Dulu buat bayar semesteran anak juga. Utang ke BMT sama BRI, tapi saya lunasi," katanya. Bagiannya, pendidikan anak menjadi cita‑cita yang harus diperjuangkan mati‑mati. Sucipto tak ingin anak‑anaknya bernasib sama seperti dirinya yang hanya lulusan kejar paket.

"Saya itu bapaknya cuma sempritan tok, SD paket. Tapi Alhamdulillah anak tiga kuliah semua, sudah S1 semua," ucapnya sambil meneteskan air mata. Ia mengaku selalu berdoa agar anak‑anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik. Terlebih, sejak kepergian istrinya tujuh tahun lalu, ia harus berjuang seorang diri.

"Saya berdoa, anak saya harus sekolah, jangan seperti saya. Jangan jadi tukang parkir seperti bapaknya," lanjutnya. Kabar keberangkatan hajinya pun membuat warga sekitar ikut bangga. Di lingkungan tempatnya menjaga perumahan Pemda, ucapan selamat terus mengalir untuknya.

"Saya ngaji di sana, warga pada bangga, pada ngucapin selamat," katanya. Sucipto dijadwalkan berangkat menuju embarkasi pada Kamis 14 Mei malam. Ia tergabung dalam Kloter 73 dan akan berangkat dari GOR Satria Purwokerto sekitar 23.00 WIB.

Perseverance, disciplined savings, and community support enabled Sucipto to realize his dream of performing Hajj after decades of hard work. The story illustrates how a simple routine, steadfast determination, and the encouragement of neighbors can transform a modest life into a moment of profound spiritual achievement.

SuciptoHajiJuru ParkirBMTPendidikan AnakPurwokertoGOR Satria

Komentar

Memuat komentar...