Sukoharjo Masuk Universitas Belanda, Target Neuroscientist

Ratna D. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 146 dibaca
Bisik.id
Sukoharjo Masuk Universitas Belanda, Target Neuroscientist

Gambar atau konten salah?

“Mimpi adalah sebuah kemewahan.” Begitulah kata Nazril Rommy Jiwa Cahyadi, siswa SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo. Nazril, yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, melihat pendidikan tinggi sebagai sesuatu yang mewah. Ia tumbuh di bawah naungan ibunya, yang sejak 2018 bekerja sebagai tenaga kerja wanita di Taiwan, sementara ayahnya sudah meninggal.

Setelah kehilangan ayah, Nazril tinggal bersama kakek, nenek, kakak, dan adiknya. Semua keluarga berusaha bertahan dengan keterbatasan. “Ibu saya belum pernah pulang sama sekali dari awal bekerja hingga sekarang karena harus berjuang membiayai keluarga kami sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga,” ujar Nazril. Kata ini menegaskan betapa beratnya beban yang ditanggung sang ibu.

Di tengah keterbatasan, Nazril menemukan peluang di SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo. Sekolah ini menawarkan pendidikan gratis dan menjadi tempat di mana ia belajar dan berkembang. Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pendiri sekolah.

“Saya sangat berterima kasih kepada Ibunda Anita Ratnasari dan Ayahanda Chairul Tanjung karena telah mendirikan SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo. Sekolah ini telah memberi saya rumah sekaligus ruang untuk belajar dan membantu saya menemukan jati diri saya,”

“Sekolah ini juga memberi saya keberanian untuk bermimpi tinggi dan mewujudkannya,” imbuhnya. Dengan tekad dan usaha, ia berhasil menembus ke kampus luar negeri pada tahun 2026.

Nama yang muncul di daftar penerimaan adalah Wageningen University and Research, Belanda, dengan jurusan Environmental Science, Animal Science, dan Marine Science. Selain itu, ia masih menunggu pengumuman kelolosan dari beberapa universitas lain, seperti University of Toronto, Monash University, University of Auckland, Adelaide University, hingga Tzu Chi University.

Perjalanan ini tidaklah mudah. Setelah ayahnya meninggal, ia harus menghadapi pandemi COVID-19. Pada masa itu, ia merasa terisolasi dan mengalami depresi berat. Namun, sekolah yang ia tempuh membantu mengangkatnya dari keterpurukan.

“Saya berada di fase depresi berat saat itu. Untungnya, saya masuk ke SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo yang membantu saya untuk bangkit lagi dari keterpurukan. Sekolah ini benar-benar mengubah hidup saya,” kenang Nazril.

Di luar akademik, Nazril memiliki visi yang lebih luas. Ia ingin mendapatkan pendidikan kelas dunia yang membuka jalan bagi pekerjaan yang sepadan. Dengan begitu, ia berharap dapat meningkatkan taraf hidup keluarganya dan memperkenalkan nama Indonesia ke ranah internasional.

“Saya ingin mendapatkan pendidikan kelas dunia yang membuka jalan untuk pekerjaan yang sepadan. Dengan demikian, saya akan bisa meningkatkan taraf hidup keluarga saya sekaligus memperkenalkan nama Indonesia ke ranah internasional,” ungkap siswa asal Semarang tersebut.

Ia juga menargetkan menjadi seorang neuroscientist. Itulah alasan ia mendaftar di program Neuroscience di University of Toronto. Ia berharap dapat menjadi bagian dari peneliti Indonesia yang membawa riset otak ke ranah praktis.

“Cita-cita saya adalah menjadi seorang neuroscientist. Inilah penyebab saya mendaftar di program Neuroscience University of Toronto. Saya ingin menjadi bagian dari peneliti Indonesia yang membawa riset otak ke ranah praktis,” lanjutnya.

Meski sudah mencapai banyak hal, Nazril menekankan bahwa perjuangannya belum selesai. Ia ingin memberi inspirasi kepada anak-anak yang bernasib sama dengannya. Ia mengajak mereka untuk fokus mengejar impian tanpa membandingkan diri dengan yang memiliki kondisi ekonomi lebih baik.

“Jangan pernah berhenti (bermimpi). Bagi orang seperti kita, kesempatan untuk mencoba dan mewujudkan mimpi adalah sebuah kemewahan yang sulit digapai,” pesannya.

Ia menekankan pentingnya sistem dukungan. “Carilah support system yang akan membantu kalian untuk menggapai mimpi. It never hurts to reach out. Saya tahu betapa sulitnya memperjuangkan semua ini karena saya juga merasakannya. Tapi percayalah, kamu tidak sendirian,” tutur Nazril.

Kesimpulannya, perjalanan Nazril Rommy Jiwa Cahyadi menunjukkan bahwa pendidikan gratis dan dukungan keluarga dapat membuka pintu bagi orang yang berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Ia menegaskan bahwa mimpi, meski terasa mewah, dapat diwujudkan melalui tekad, pendidikan, dan sistem dukungan yang tepat. Dengan tekadnya, ia berharap dapat menginspirasi generasi berikutnya untuk tidak pernah berhenti bermimpi dan berjuang mencapai tujuan mereka.

Nazril Rommy Jiwa CahyadiSMA Unggulan CT ARSA Foundation SukoharjoPendidikan GratisUniversity of TorontoNeuroscientistSupport SystemKeluarga Ekonomi Menengah Ke Bawah

Komentar

Memuat komentar...