Suryakanta: Platform Pemerintah Cermati Dampak Penelitian
Gambar atau konten salah?
Yudi Darma, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Minat Saintek) di Ditjen Saintek Kemdikti, mengumumkan bahwa pemerintah sedang mengembangkan sebuah platform bernama Suryakanta. Ia menyampaikan hal ini pada sesi RI‑EU Science & Technology Collaboration Forum yang diadakan di Grha Diktisaintek, Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 22 April 2026.
Menurut Yudi, Suryakanta dimaksudkan sebagai cermin atau cara mendiagnosis apakah pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan akademisi di perguruan tinggi RI sudah menemukan dampak dan kebermanfaatannya atau masih terjebak di ranah akademik. “Ini adalah sebuah cermin atau cara mendiagnosis apakah pengetahuan dan teknologi itu yang kita hasilkan sudah menemukan dampak dan kebermanfaatannya atau berhenti pada muara akademik.” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa platform ini akan memuat capaian keberdampakannya di berbagai dimensi, mulai dari sosial, lingkungan, hingga ekonomi. “Suryakanta akan memuat capaian‑capaian keberdampakan di dimensi sosial, lingkungan, hingga ekonomi, mulai dari dosen, program studi, fakultas, hingga universitas.”
Yudi menjelaskan bahwa dengan Suryakanta kita akan menemukan dan mengetahui proses‑proses serta model-model yang paling efektif untuk mempertemukan gagasan dengan keberdampakannya. “Sehingga kita akan menemukan dan mengetahui proses‑proses dan bentuk model yang paling efektif untuk mempertemukan gagasan dengan keberdampakannya.”
Ia menegaskan bahwa Suryakanta merupakan salah satu program yang ditetapkan sebagai prioritas nasional oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Platform ini direncanakan menjadi repositori digital yang dapat diakses publik secara terbuka (open access). “Dengan sifat ini, masyarakat dengan leluasa dapat mencari dan menggali pengetahuan‑pengetahuan yang telah dihasilkan oleh perguruan tinggi.”
Di dalamnya, Suryakanta akan memuat data produk dan prototipe saintek, hak kekayaan intelektual, artikel ilmiah, serta buku dan karya ilmiah, lengkap dengan data peneliti dan kolaboratornya. Platform ini juga dirancang untuk memiliki asisten AI. Pada pencarian suatu produk atau penelitian, pengguna dapat menggunakan kata kunci seperti “sawit” hingga “sampah”. Dari kata kunci “sawit”, misalnya, akan muncul daerah mana saja yang memiliki aktivitas riset tertinggi tentang sawit. Kemudian, akan muncul juga data kampus yang paling aktif bergerak di bidang sawit, beserta penelitinya. Jika memasukkan kata kunci “sampah”, masyarakat bisa melihat distribusi atau sebaran karya penelitian di bidang waste.
Yudi menegaskan bahwa data saat ini masih terus ditarik dari berbagai sumber ke Suryakanta, termasuk dari platform Bima, Sinta, Sister, Garuda, Scopus, PDDikti, Rama, dan lain‑lain. “Nanti ketika sudah komplit, kami bisa tampilkan ke publik.”
Platform ini juga direncanakan dapat menampilkan data dosen paling produktif dalam hal hak kekayaan intelektual, termasuk yang memiliki paten. Sementara itu, untuk aspek ekonomi, platform ini dapat menampilkan kampus mana yang sudah menghasilkan royalti atau lisensi dari karya‑karya patennya. “Nanti itu ada produk penelitian ya, tidak hanya jurnal, tapi juga ada KHI di situ.”
Yudi menambahkan bahwa Suryakanta juga dirancang untuk menampilkan keterkaitan peneliti dengan pihak‑pihak lain, termasuk kemitraan dengan pemda, industri, atau pemangku kepentingan lainnya.
Inisiatif ini bertujuan membuat dampak penelitian lebih terlihat dan dapat diakses, sehingga pemerintah dan pemangku kepentingan dapat lebih mudah memanfaatkan hasil riset untuk kebijakan dan kolaborasi yang lebih luas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
