Tingkatkan Waspada: Risiko Keracunan Vitamin D Tinggi
Gambar atau konten salah?
Vitamin D dikenal sebagai “vitamin sinar matahari” karena tubuh dapat memproduksinya saat terpapar sinar matahari. Banyak orang mengkonsumsi suplemen vitamin D secara rutin karena manfaatnya bagi kesehatan tulang dan sistem imun. Namun, konsumsi berlebihan dapat menimbulkan risiko serius, bahkan mengancam jiwa.
Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa tidak semua orang perlu mengonsumsi suplemen vitamin D. Pada kasus yang jarang terjadi, terutama pada anak-anak dan lansia, dosis tinggi dapat bersifat toksik. Seiring meningkatnya popularitas suplemen ini, dokter dan pasien diminta lebih waspada terhadap dosis serta efek sampingnya. Meski risikonya tergolong jarang, jumlah kasusnya terus meningkat, dan dalam kondisi terburuk dapat mengancam nyawa.
Berlebihan vitamin D meningkatkan penyerapan kalsium dalam tubuh. Kondisi ini memicu hiperkalsemia, yaitu penumpukan kalsium berbahaya di arteri atau jaringan lunak. Hiperkalsemia dapat meningkatkan risiko batu ginjal, mengganggu metabolisme tulang, serta menimbulkan gejala seperti mual, muntah, sembelit, kelelahan, kelemahan otot, dan nyeri tulang. Sebagian besar pasien dapat pulih setelah suplemen dihentikan dan mendapatkan terapi, seperti cairan infus atau obat penurun kadar kalsium. Tetapi, pada kondisi langka jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berujung pada gagal ginjal yang memerlukan hemodialisis, bahkan menyebabkan perdarahan usus fatal.
Selain itu, sejumlah penelitian menunjukkan lansia dengan kadar vitamin D tinggi dalam darah berisiko lebih tinggi mengalami jatuh. Dalam tinjauan tahun 2018, peneliti di AS memperingatkan adanya “sikap terlalu percaya diri” terhadap keamanan vitamin D dosis tinggi. Hingga kini, ilmuwan belum sepakat soal batas pasti asupan yang tergolong berlebihan. “Dikombinasikan dengan peningkatan dramatis minat terhadap vitamin D yang sebagian berasal dari buku-buku populer yang memuji manfaat vitamin D dosis tinggi, mungkin tidak mengherankan jika terjadi peningkatan jumlah kasus keracunan vitamin D,” demikian kesimpulan para penulis tinjauan tersebut, dikutip dari ScienceAlert.
Salah satu kasus melibatkan pria 80 tahun yang tanpa sengaja mengonsumsi tablet vitamin D dosis tinggi mingguan setiap hari. Kondisinya sempat mengalami hiperkalsemia, tetapi membaik setelah kesalahan tersebut diketahui dan suplemen dihentikan.
Kasus serupa juga terjadi pada anak-anak. Pada tahun 2016, otoritas kesehatan Denmark menarik suplemen yang mengandung vitamin D hingga 75 kali lipat dari dosis yang direkomendasikan, bahkan menyebabkan sekitar 20 anak dilaporkan mengalami efek toksik.
Di Amerika Serikat, tren kasus juga meningkat. Antara tahun 2000 hingga 2014, lebih dari 25.000 kasus keracunan vitamin D dilaporkan. Bahkan pada periode 2005 hingga 2011, terjadi lonjakan hingga 1.600 persen, banyak di antaranya melibatkan anak-anak dan remaja. Meski tidak ada laporan kematian, terdapat lima kasus dengan dampak medis serius.
Perhatikan angka Anda,
menurut peringatan dalam artikel terbaru dari Harvard Medical School yang diulas jurnalis sekaligus dokter praktik Mallika Marshall. “Jika Anda mengonsumsi suplemen vitamin D, Anda mungkin tidak memerlukan lebih dari 15 mcg hingga 20 mcg (600 IU hingga 800 IU) per hari. Kecuali tim medis Anda merekomendasikannya, hindari mengonsumsi lebih dari 100 mcg (4.000 IU) per hari, yang dianggap sebagai batas atas yang aman,” tegasnya.
Dokter di Harvard juga menyarankan, jika mengalami kekurangan vitamin D, sebaiknya mengutamakan asupan dari makanan yang diperkaya karena risikonya jauh lebih kecil dibandingkan suplemen dosis tinggi.
Seperti biasa, sebelum memulai atau menghentikan konsumsi suplemen apa pun, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga medis. Hal ini membantu memastikan dosis yang tepat dan menghindari komplikasi yang tidak diinginkan.
Berbagai data menunjukkan bahwa meskipun vitamin D memiliki manfaat kesehatan, konsumsi berlebihan dapat menimbulkan risiko serius. Keseimbangan antara manfaat dan potensi bahaya menjadi kunci dalam pengambilan keputusan suplemen. Dengan pemahaman yang tepat dan pengawasan medis, risiko dapat diminimalkan, sehingga tubuh tetap mendapatkan manfaat tanpa mengorbankan keselamatan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Lirik Lagu Timur: Rindu dan Harapan di Jarak Jauh Menyusuri
SIM Baru Kini Verifikasi Wajah, Mulai 1 Juli 2026 Indonesia
Jaga Kolam Ikan Rumah Bersih: Tips Pembersihan dan Nutrisi
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Habonaron: Kepercayaan Asli Simalungun yang Masih Hidup
Rekrutmen Bintara TNI AL Gelombang III 2026: Daftar Sekarang
Berita Terbaru
Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir TJU
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
Beasiswa Garuda Gelombang II Terbuka Hingga 25 Juni 2026
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
