Tuduhan Penelitian Palsu: Rifaldy & Prihantini Tertangkap
Gambar atau konten salah?
Rifaldy Fajar dan Prihantini menjadi sorotan setelah tuduhan bahwa mereka mengirimkan penelitian palsu ke berbagai forum ilmiah internasional. Menurut laporan, mereka juga mempresentasikan karya tersebut di beberapa konferensi ilmiah.
Artikel yang menjadi pusat kontroversi berjudul Implementation of Coping Religious in Overcoming Disorders of Physical- Psychological-Social-Spiritual in Chronic Kidney Failure Patients in the Hemodialysis Process (Based on Islamic Perspective). Karya ini dikirim ke konferensi Korean Society of Nephrology pada 01 Januari 2020. Selain nama Rifaldy dan Prihantini, artikel tersebut mencantumkan Intan Lisnawati dan Dewi Mustika Sari, yang berafiliasi dengan Departemen Matematika dan Biologi Komputasi, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Enam tahun kemudian, Intan menyatakan bahwa ia tidak pernah terlibat dalam penyusunan artikel tersebut. Ia menjelaskan bahwa ia seangkatan dengan Rifaldy di jurusan Matematika UNY, keduanya masuk kampus pada 01 Januari 2014. Namun, ia mengaku tidak bertemu dengan Rifaldy sejak 01 Januari 2018.
“Setelah kami wisuda tahun 2018 saya sempat sakit dan opname. Keluar dari rumah sakit, RF jenguk pas aku sudah di rumah. Seingetku terakhir ketemu itu,” ujar Intan dalam perbincangan, Jumat, 29 Mei 2026.
Intan menceritakan bahwa ia mengetahui adanya pencatutan tersebut melalui Nana Indri Kurniastuti, teman sekelasnya di jurusan Matematika UNY. “Aku tahunya karena diinfo temenku Nana yang namanya juga dicatut di artikel RF. Karena aku sendiri sebenarnya nggak cari-cari tahu karena nggak ngira kalau namaku ada di artikelnya mengingat kami sudah sama-sama wisuda 2018 lalu dari UNY,” kata Intan.
Nama Nana Indri Kurniastuti juga muncul dalam artikel yang ditulis oleh Rifaldy Fajar. Nana mengungkapkan hal tersebut di akun media sosial Thread miliknya. Menurutnya, Rifaldy menggunakan beragam versi nama dirinya untuk sejumlah artikel.
“Saya adalah teman sekelas saudara RF, yang mana nama saya dicatut tanpa seizin saya, bahkan ada beberapa, tidak hanya satu. Menggunakan Nama lengkap saya Nana Indri Kurniastuti , Nana Indri , Nana Kurnia, dan mungkin ada lagi,” tulisnya.
Selama kuliah, Nana mengikuti beberapa penelitian dan kompetisi mahasiswa bersama Rifaldy dan Intan. Bersama Intan, Nana meraih emas di International Innovation and Invention Competition (IIIC) 2017 di Taiwan.
Setelah lulus dan menikah pada 01 Januari 2022, Nana mengaku tidak lagi terlibat dalam dunia penelitian ilmiah. Ia beralih ke usaha kuliner. “Saya lulus 2018, job seeker, bekerja 2019 sampai 2022 kemudian menikah, setelah menikah saya membuka usaha di bidang kuliner, saya berjualan pizza, burger, kebab, dll,” tulisnya.
Nana terkejut melihat namanya berada dalam daftar penulis bersama Rifaldy Fajar dan Rini Winarti dalam artikel berjudul Al-Driven Multi-Omics Integration Identifies Genetic and Epigenetic Adaptations in Endangered Raptors Facing Urbanization and Climate Change. Artikel tersebut dikirim ke simposium Asian Raptor Research and Conservation Network (ARRCN) ke-13 di Taiwan pada 26-28 April 2025.
“Saya mempunyai kesibukan saya sendiri dan tidak kompatibel di bidang raptor salah satunya,” tulisnya.
Nama Nana juga muncul dalam artikel Circadian-Aware Deep Learning for Predicting Time-Dependent Metabolite Toxicity in Inborn Errors of Metabolism via Multi-Timescale Plasma Profiling and Genomic Variant Integration. Rifaldy mempresentasikan karya tersebut di International Congress of Inborn Errors of Metabolism (ICIEM) pada 03 September 2025 di Kyoto, Jepang.
Menurut Nana, Rifaldy telah menghubunginya untuk meminta maaf. “Saya sudah di telepon oleh saudara RF tadi malam, meminta maaf kepada saya, dan akan klarifikasi terkait hal tersebut,” tulis Nana.
Selama ini, Rifaldy belum dapat dihubungi secara langsung. Namun, melalui akun Thread dan Instagramnya, ia sempat mengunggah konten yang menyebutkan ia sedang menyusun klarifikasi bersama peneliti lain. Konten tersebut kemudian hilang setelah Rifaldy menutup akunnya.
Kasus ini menyoroti pentingnya verifikasi data dan kejujuran dalam publikasi ilmiah. Keterlibatan nama yang tidak berwenang dapat merusak reputasi institusi dan menimbulkan keraguan terhadap kredibilitas penelitian. Keputusan untuk meneliti lebih lanjut dan menuntut klarifikasi dapat menjadi langkah penting dalam menjaga integritas akademik di Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026