UEFA Tegakkan Sanksi Lille atas Pelanggaran Tifo Joan of Arc
Gambar atau konten salah?
UEFA kembali menegakkan aturan disiplin dengan memberi sanksi pada klub yang menampilkan tifo bertema orang suci. Kali ini, klub Prancis Lille menjadi sorotan setelah menampilkan gambar Joan of Arc, pahlawan nasional yang juga diakui sebagai santo.
Peristiwa terjadi pada 13 Maret 2026 ketika Lille menghadapi Aston Villa di leg kedua 16 besar Liga Europa. Fans Lille menampilkan tifo besar di tribun utara Stadion Pierre‑Mauroy. Gambar Joan of Arc mengenakan baju zirah, memegang pedang, di latar belakang bendera Prancis. Di bawahnya, spanduk bertuliskan French Never Die berteriak semangat.
Joan of Arc, atau La Pucelle, menjadi salah satu tokoh paling terkenal asal Prancis. Ia memimpin serangkaian serangan militer dan meraih kemenangan atas Inggris dalam Perang Seratus Tahun pada abad ke‑15. Selain dianggap pahlawan, ia juga dikanonisasi sebagai santo oleh Gereja Katolik. Perawan muda berusia 19 tahun ini mengaku mendapat penglihatan dari Malaikat Agung St. Mikael, yang memerintahkan ia bertempur demi menyelamatkan Prancis.
Komite Kontrol, Etika, dan Disiplin UEFA menilai tifo tersebut melanggar Pasal 16(2)(e) Peraturan Disiplin UEFA. Lille dijatuhi denda sebesar 17.500 euro karena menampilkan pesan yang dianggap tidak pantas di ajang olahraga. Selain itu, klub juga dikenai denda tambahan untuk pelanggaran lain:
- 26.000 euro atas pelanggaran menghalangi jalan umum
- 25.000 euro karena fans melempar benda ke lapangan
- 10.000 euro karena keterlambatan kick‑off
Pengumuman sanksi ini disertai dengan tweet dari akun FranceSouvUnie pada 30 Maret 2026, yang menyatakan bahwa UEFA menetapkan denda total 82.750 euro untuk Lille.
Ini bukan kali pertama UEFA menegakkan aturan terhadap tifo bertema orang suci. Sebelumnya, klub Serbia Crvena Zvezda juga disanksi setelah menampilkan tifo Santo Simeon the Myrrh‑Streaming, santo dalam Gereja Ortodoks Timur, pada play‑off 16 besar Liga Europa di 01 Februari 2026.
Kontras terlihat antara sanksi yang diberikan dan sikap politik UEFA. Organisasi sepakbola Eropa ini aktif mempromosikan kampanye penerimaan kaum LGBTQ, anti‑rasisme, serta kesetaraan dan keberagaman. Namun, pada saat yang sama, UEFA menegakkan larangan terhadap simbolisme agama yang dapat menimbulkan kontroversi di arena olahraga.
Secara keseluruhan, tindakan UEFA menegaskan bahwa tifo yang menampilkan figur suci tidak diizinkan dalam pertandingan resmi. Sanksi yang diambil mencakup denda finansial dan penegakan disiplin tambahan, menunjukkan komitmen UEFA terhadap standar etika dan kebersihan kompetisi. Dengan demikian, klub-klub di Eropa harus lebih berhati-hati dalam merancang visual fan mereka agar tidak melanggar peraturan yang telah ditetapkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Luke Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2030
Mourinho Senang Prancis dan Inggris Gagal ke Final Piala Dunia
Strategi Bertahan Tuchel Hancurkan Inggris
Argentina ke Final usai Kalahkan Inggris di Semifinal
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Saliba Operasi Punggung, Absen Lima Bulan
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
