UI Tampilkan 3 Program Soshum di 100 Besar Dunia QS 2026

Maya K. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 86 dibaca
Bisik.id
UI Tampilkan 3 Program Soshum di 100 Besar Dunia QS 2026

Gambar atau konten salah?

Prof Heri Hermansyah, Rektor Universitas Indonesia (UI), menegaskan kebanggaannya atas program studi soshum yang dimiliki kampusnya. Ia menyoroti fakta bahwa UI memiliki 4 program studi yang masuk dalam 100 besar dunia, dan 3 di antaranya berasal dari bidang sosial humaniora.

“Kalau kita lihat di dalam ranking yang ada, di Universitas Indonesia. Justru yang dalam ranking 100 besar dunia, itu ada empat program studi saat ini, tiga di antaranya sosial humaniora. Yang masuk 100 besar itu adalah tadi, Antropologi terus, Hukum, terus, (Manajemen) Informasi Perpustakaan, terus satu lagi Dentistry, Kedokteran Gigi,” ujar Heri saat berbincang di kantornya, Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Senin 04 Mei 2026.

Data yang dipuji Heri berasal dari QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026. Menurut akun Instagram resmi UI @univ_indonesia, keempat program tersebut memang terdaftar dalam 100 besar dunia menurut QS WUR by Subject 2026.

Heri menekankan bahwa ilmu soshum sangat diperlukan meski lapangan kerjanya tidak selalu sejalan dengan nama jurusan. “Dan sebenarnya ilmu sosial humaniora ini sangat diperlukan walaupun pas lapangan kerjanya tidak tidak sama persis dengan nama program studinya. Kan jurusan sosiologi, nggak ada nama pekerjaannya sosiologi kan. Tetapi, mereka yang memiliki kompetensi sosiologi ini akan sangat diperlukan di berbagai bidang kerja yang memerlukan dukungan dari orang-orang yang multidisiplin kan,” jelas Heri.

Ia memberikan contoh konkret di sektor pertambangan. “Bahkan di perusahaan tambang sekalipun, itu tidak 100% orang tambang kan. Di situ, di core business, lapangannya mungkin orang tambang, orang mesin, orang metalurgi, orang elektro, orang proses kimia misalnya gitu. Tapi kan selain itu kan ada yang ngurusin legalnya, ada yang ngurusin HRD-nya, ada yang ngurusin keuangannya. Kemudian ada yang ngurusin bagaimana hubungan antarlembaga, ada yang ngurusin CSR perusahaan dengan masyarakat sekitar. Nah di situlah dibutuhkan orang-orang yang tadi sosiologi, kesejahteraan sosial, psikologi, dan sebagainya,” ujar Heri.

Sebelumnya, rencana penutupan beberapa program disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kemdiktisantek Badri Munir Sukoco. Ia berharap perguruan tinggi dapat menyeleksi program yang perlu ditutup untuk menekan kesenjangan antara lulusan dan kebutuhan dunia kerja.

“Keguruan kita meluluskan tiap tahun 490 ribu,” kata Badri.

“Sementara, kebutuhan untuk lulusan keguruan hanya 20 ribu,” imbuhnya.

Badri menambahkan, “Saya bisa ngecek juga itu misalnya tahun 2028, sebenarnya kita sudah oversupply dokter kalau misalnya ini dibiarkan. Oversupply dokter itu kalau misalnya kita pakai standar minimal World Bank. Apalagi terjadi maldistribusi, ketidakseimbangan distribusi di berbagai daerah,”.

Di sisi lain, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menekankan evaluasi dan pembaruan program studi agar tetap relevan. Ia menyatakan, “Untuk program studi, alih-alih ditutup program studi itu kita kembangkan dalam artian, kita lakukan evaluasi, kita lakukan update ya, sehingga substansi dari prodi-prodi itu terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terus mengikuti perkembangan temuan-temuan terbarunya,” ucapnya usai memimpin upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026 di lapangan Kemdikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu 02 Mei 2026.

Ia mencontohkan, pada prodi Teknik Elektro disesuaikan dengan keberadaan internet of things (IoT) dan kuantum komputasi saat ini. “Maka itu kita sesuaikan, jadi itu secara terus-menerus yang kita sebut sebagai continuous improvement. Substansi isi dari prodi itu yang perlu di-update,” tutur Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB).

Perdebatan ini menyoroti perbedaan pandangan antara pihak perguruan tinggi dan pemerintah terkait penataan program studi. Sementara pihak perguruan tinggi menekankan pentingnya keberagaman disiplin, pemerintah menyoroti kebutuhan pasar tenaga kerja. Kedua belah pihak sepakat bahwa evaluasi berkelanjutan menjadi kunci, meski pendekatan dan prioritasnya berbeda.

Universitas IndonesiaQS World University Rankingsprogram studi soshumoversupply tenaga medisevaluasi program studiperan sosiologikebutuhan pasar tenaga kerja

Komentar

Memuat komentar...