Unhas SPPG, Kampus Jadi Pusat Gizi Nasional, Tumbuh

Ika P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 95 dibaca
Bisik.id
Unhas SPPG, Kampus Jadi Pusat Gizi Nasional, Tumbuh

Gambar atau konten salah?

Dadan Hindayana, Kepala Badan Gizi Nasional, mengusulkan agar setiap kampus memiliki minimal satu SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) untuk mendukung peningkatan gizi nasional. Ia menekankan pentingnya peran kampus dalam menyediakan makanan bergizi secara mandiri.

“Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,” kata Dadan.

Di Indonesia, Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi contoh pertama yang sudah mengoperasikan SPPG. Selain itu, IPB University dan beberapa perguruan tinggi swasta juga telah menyiapkan fasilitas serupa. Dadan menambahkan: “Di IPB sudah ada, di beberapa perguruan tinggi swasta sudah ada, tapi yang pertama di PTN di Indonesia Timur, Unhas selalu leading dalam hal tersebut dan saya ucapkan selamat.”

Menurut Dadan, kampus memiliki peran strategis dalam program MBG (Makan Bergizi Gratis). Ia mendorong perguruan tinggi untuk mengelola SPPG secara mandiri, sehingga dapur tersebut tidak hanya menjadi tempat penyediaan makanan, tetapi juga menjadi simpul ekonomi di lingkungan kampus.

Untuk memulai, SPPG membutuhkan lahan setidaknya 8 hektare untuk beras dan 19 hektare untuk jagung guna kebutuhan pakan ternak. Sektor peternakan juga penting, khususnya untuk ayam petelur. Setiap SPPG memerlukan sekitar 4.000 ayam petelur untuk memenuhi hidangan berprotein. “Kalau ingin telurnya dipasok sendiri, maka harus ada sekitar 3.700 sampai 4.000 ayam petelur untuk satu SPPG,” jelas Dadan.

Dadan juga menyoroti potensi keterlibatan mahasiswa. Program ini dapat mengintegrasikan kegiatan akademik dengan praktik lapangan, di mana mahasiswa dapat terlibat dalam pertanian, peternakan, dan distribusi pangan. Selain itu, SPPG dapat berfungsi sebagai laboratorium untuk riset dan inovasi, menyediakan teknologi pertanian, pengolahan pangan, dan manajemen rantai pasok.

Seperti yang terlihat di Unhas, sistem SPPG terintegrasi dengan ekosistem pendidikan. Beberapa program studi, seperti Gizi, Kedokteran, Agribisnis, Peternakan, Pertanian, dan Spesialis Anak, langsung terlibat dalam riset dan pelayanan gizi. “Karena teknologi, SDM dan inovasi-inovasi yang dimiliki perguruan tinggi saya kira akan banyak manfaatnya untuk program makan bergizi mulai dari pengembangan peralatan, keamanan pangan, pelatihan dan bimbingan teknis,” ujar Dadan.

Dadan berharap keberadaan MBG dapat menciptakan kolaborasi antara petani, peternak, kampus, dan pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Ia menegaskan, “SPPG ini menjadi offtaker terdepan bagi produk-produk lokal. Jadi, bukan hanya soal memberi makan, melainkan juga menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.”

Inisiatif ini menandai langkah konkret dalam memperkuat jaringan distribusi pangan di Indonesia, sekaligus membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam pembangunan ekonomi dan kesehatan masyarakat.

SPPGMBGkampusgizipeternakanUnhasekonomi berkelanjutan

Komentar

Memuat komentar...