UTBK 2026: Hari Pertama Terungkap 2.940 Kasus Kecurangan

Ayu W. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 109 dibaca
Bisik.id
UTBK 2026: Hari Pertama Terungkap 2.940 Kasus Kecurangan

Gambar atau konten salah?

Hari pertama pelaksanaan UTBK SNBT 2026 dipenuhi temuan kecurangan yang tak terduga. Modusnya beragam, mulai dari alat elektronik yang ditanam di telinga hingga joki yang tampil dengan wajah yang sama persis seperti tahun lalu.

Prof Dr Ir Eduart Wolok ST MT, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, mengungkapkan hal ini dalam konferensi pers yang digelar di Pusat UTBK Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa, 21 April 2026. Ia menegaskan bahwa sejak awal, panitia telah memetakan 2.940 data anomali peserta.

“Nah, pada pagi hari ini sampai dengan pukul 09.00 WIB, kita telah mendapatkan informasi berbagai macam kecurangan yang coba dilakukan oleh peserta UTBK di beberapa pusat UTBK,” kata Eduart.

Berikut rincian kecurangan yang terungkap di lima pusat UTBK pada hari pertama:

  1. Universitas Negeri Surabaya (Unesa)Kasus Perjokian
    Di Unesa, panitia menemukan praktik perjokian yang cukup nekat. Seorang peserta mengikuti ujian UTBK dua tahun berturut-turut, namun menggunakan nama peserta yang berbeda setiap kali. Sistem pelacakan data panitia berhasil mengidentifikasi kejanggalan ini lebih awal, jauh sebelum joki sempat menyelesaikan ujian.

  2. Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar)Kasus Perjokian dan Indikasi Sindikat
    Unsulbar menjadi kampus dengan temuan terbanyak pada hari pertama, dengan dua kasus sekaligus. Pertama, ditemukan praktik perjokian mirip dengan yang terjadi di Unesa, yaitu satu orang mengikuti ujian untuk dua nama berbeda pada tahun yang berbeda pula. Panitia juga mengidentifikasi adanya indikasi sindikat kecurangan yang terorganisir di lokasi ini. Kelompok tersebut disebut aktif membujuk dan mengiming-imingi calon peserta agar bersedia terlibat dalam praktik curang. “Jadi informasi dari Unsulbar bisa digarisbawahi bahwasanya ditemukan adanya indikasi sindikat kecurangan yang memang berusaha untuk mengiming-imingi calon peserta agar supaya bisa mau melakukan ini,” ucap Eduart.

  3. UPN Veteran Jawa Timur, SurabayaKasus Perjokian Modifikasi Foto
    Di UPN Veteran Jawa Timur, seorang joki mencoba menyamar dengan cara yang terkesan sepele. Ia mengubah sedikit posisi jilbab pada foto pendaftaran. Tahun lalu jilbabnya diturunkan, tahun ini dinaikkan. Hanya saja wajahnya tetap sama. Teknologi face recognition yang digunakan panitia langsung mengenali kemiripan wajah tersebut. Identitas asli pelaku pun terbongkar tanpa kesulitan berarti. “Di UPN Surabaya itu jokinya fotonya saja dimodifikasi sedikit-sedikitlah. Kalau tahun-tahun kemarin jilbabnya agak turun ke bawah, tahun ini jilbabnya agak ke atas gitu kan, tapi kan tidak merubah orangnya sebenernya. Dan melalui face recognition yang kita lakukan itu tetap saja bisa terlacak,” ungkap Eduart.

  4. Universitas Diponegoro (Undip)Kasus Menanamkan Alat Bantu Dengar
    Ini menjadi temuan paling mengejutkan dari seluruh hari pertama UTBK 2026. Seorang peserta di Undip kedapatan menyembunyikan alat bantu dengar di dalam liang telinganya. Situasinya bahkan membutuhkan penanganan medis khusus. Panitia harus membawa peserta tersebut ke dokter spesialis THT agar alat itu bisa dikeluarkan dengan aman. “Alat bantu dengarnya sampai masuk ke dalam telinga. Jadi kita harus bawa, oleh panitia pusat UTBK ini harus dibawa ke dokter THT untuk bisa melepas ini,” ujarnya.

  5. Universitas Negeri Malang (UM)Kasus Perjokian
    UM turut menjadi lokasi ditemukannya modus perjokian dengan dua identitas. Polanya sama dengan temuan di Unesa dan Unsulbar, yaitu peserta UTBK tahun sebelumnya kembali tampil dengan nama yang berbeda di tahun 2026.

Video temuan kecurangan peserta UTBK 2026, yang berisi 20 detik, juga dipublikasikan oleh panitia. Video tersebut menampilkan contoh alat bantu dengar yang ditanam di telinga peserta.

Secara keseluruhan, temuan kecurangan pada hari pertama UTBK SNBT 2026 menunjukkan adanya pola perjokian yang terorganisir serta upaya manipulasi identitas. Panitia menegaskan bahwa sistem pelacakan data dan teknologi face recognition menjadi kunci dalam mengidentifikasi dan menindak pelaku. Kecurangan yang melibatkan alat bantu dengar menambah kompleksitas penegakan aturan, mengingat kebutuhan medis yang harus dipenuhi. Dengan 2.940 data anomali yang telah dipetakan, panitia berencana memperketat pengawasan di pusat UTBK selanjutnya.

Keberhasilan identifikasi kecurangan ini menegaskan pentingnya sistem keamanan yang canggih dan prosedur verifikasi yang ketat dalam proses seleksi. Kecurangan yang terdeteksi menunjukkan adanya kebutuhan akan edukasi dan penegakan disiplin bagi calon peserta. Penanganan kasus ini juga menyoroti peran penting tenaga medis dalam situasi yang tidak terduga. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan UTBK SNBT 2026 dapat berlangsung adil dan transparan bagi semua peserta.

UTBK SNBT 2026kecuranganperjokianface recognitionalat bantu dengarsindikatdata anomali

Komentar

Memuat komentar...