WHO: Hantavirus Mungkin Menular Antar Manusia di Kapal Pesiar
Gambar atau konten salah?
World Health Organization (WHO) mengungkapkan kemungkinan penularan virus hanta antar manusia di kapal pesiar MV Hondius. Kapal ini, yang menewaskan tiga penumpang, sedang berada di lepas pantai barat Afrika, dekat Tanjung Verde.
Virus hanta biasanya menyebar lewat hewan pengerat. Namun, WHO menduga penularan bisa terjadi antar individu yang berhubungan sangat dekat di dalam kapal. Menurut pejabat WHO, Maria Van Kerkhove, “Kami meyakini mungkin ada penularan antarmanusia yang terjadi di antara individu dengan kontak yang sangat dekat.”
Pasien pertama diduga sudah terinfeksi sebelum naik ke kapal. Hingga kini, WHO mencatat tujuh kasus virus hanta, terdiri dari dua kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek. Dua kasus terkonfirmasi adalah seorang perempuan asal Belanda yang menjadi korban meninggal, dan seorang warga Inggris berusia 69 tahun yang dievakuasi ke Afrika Selatan untuk perawatan medis. Suami perempuan Belanda tersebut juga meninggal, namun belum terkonfirmasi terinfeksi virus hanta. Warga negara Jerman yang meninggal pada Sabtu lalu juga tidak terkonfirmasi.
Operator kapal, Oceanwide Expeditions, menyatakan dua awak kapal yang berasal dari Belanda dan Inggris akan dievakuasi ke Belanda menggunakan pesawat setelah mengalami gejala pernapasan akut. Satu orang lain yang berkaitan dengan penumpang asal Jerman yang meninggal juga dijadwalkan ikut dievakuasi.
Kapalan pesiar MV Hondius berlayar dari Argentina sekitar sebulan lalu untuk menyeberangi Samudra Atlantik. Saat ini kapal berada di dekat Tanjung Verde. Mengutip BBC, Rabu 06 Mei 2026 tim medis dari Cape Verde, dengan dukungan WHO, telah naik ke kapal untuk menangani kasus yang diduga terkait virus hanta. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap penumpang dan awak yang menunjukkan gejala.
Sejumlah 149 orang dari 23 negara masih berada di kapal dengan penerapan langkah pencegahan ketat. Semua penumpang yang bergejala maupun yang merawat pasien diwajibkan menggunakan alat pelindung diri lengkap. Proses disinfeksi terus dilakukan, dan WHO menilai kemungkinan terdapat lebih dari satu jalur penularan, mengingat kapal sempat singgah di sejumlah pulau yang memiliki populasi hewan pengerat.
WHO menduga virus yang terlibat adalah strain Andes, yang umum ditemukan di Amerika Selatan, lokasi awal pelayaran kapal. Meski demikian, tidak ditemukan tikus di dalam kapal. Penumpang dan awak diharuskan memakai masker dan sarung tangan, serta melakukan pencucian tangan secara rutin.
Di sisi lain, Spanyol disebut telah memberi izin kapal untuk bersandar di Kepulauan Canary guna penilaian risiko dan pemantauan medis lanjutan. Namun, Kementerian Kesehatan Spanyol menyatakan belum ada keputusan final. “Berdasarkan data epidemiologi yang dikumpulkan saat kapal melintas di Tanjung Verde, pemberhentian berikutnya akan ditentukan,” jelas Kementerian Kesehatan Spanyol.
Hingga kini, belum ada permintaan resmi agar kapal berlabuh di wilayah tersebut, meski Spanyol menyatakan siap menangani situasi jika diperlukan. Para penumpang masih harus tetap berada di atas kapal. Salah satu penumpang mengatakan suasana di kapal relatif baik. “Kami berharap semua penumpang segera diuji sehingga situasinya menjadi lebih jelas,” ungkap penumpang itu.
Keluarga pasangan asal Belanda menyampaikan duka mendalam. “Perjalanan indah yang mereka jalani bersama harus terhenti secara tiba-tiba dan selamanya,” tulis keluarga dalam pernyataan. “Kami masih tidak percaya telah kehilangan mereka. Kami berharap dapat membawa mereka pulang dan mengenangnya dengan tenang dan penuh privasi,” sambungnya.
WHO terus memantau situasi dan menilai risiko penularan ke masyarakat luas. Meskipun risiko tersebut tetap rendah, langkah pencegahan ketat di kapal tetap dijalankan. Kapal berlayar menuju tujuan akhir, sementara tim medis dan otoritas kesehatan di berbagai negara tetap siap menanggapi perkembangan selanjutnya.
Situasi ini menegaskan pentingnya koordinasi internasional dalam menangani potensi penyakit menular di kapal pesiar. Penanganan cepat, evakuasi awak yang sakit, dan prosedur disinfeksi yang ketat menjadi kunci untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
44.000 Wisatawan Ditolak Masuk UE oleh Sistem Baru
Australia Peringatkan Warganya Soal Aturan Konten di Bali
Pedagang Minta Shuttle Gratis Sebelum Malioboro Bebas Mobil
Harga Makanan Stadion Piala Dunia 2026 Bikin Netizen Murka
Empat Pendaki Dievakuasi Helikopter Akibat Beruang di Hokkaido
Irwan Hidayat Yakin Rawa Pening Bisa Jadi Wisata Unggulan Jateng
Berita Terbaru
Rustika Herlambang Raih Doktor, Algoritma Kini Jadi Aktor Baru Agenda Publik
Wagub Jabar: soal Nama Sunda, Serahkan ke Gubernur
Masjid Istiqlal Kumpulkan 35 Ton Sampah Lewat Ramadan Bersih
Warga Bingung Data Sensus Ekonomi Dipakai untuk Pajak? Ini Jawabannya
Manajer KFC Viral, Bongkar Kerja Keras di Dapur
Tim Panahan Difabel Raih Tiga Medali di Kejuaraan Dunia
Ronaldo Akhiri Piala Dunia Tanpa Gelar Juara
Horboyz Esports Juara PMNC ID Fall 2026
