257 ODGJ Masih Dipasung di Jawa Timur, Program Bebas Pasung
Gambar atau konten salah?
257 orang dalam gangguan jiwa (ODGJ) masih dipasung di Jawa Timur, demikian kabar yang disampaikan pada 31 Maret 2026. Per 31 Maret ada 257 ODGJ yang dipasung, ujar Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Restu Novi Widiani.
Program Jatim Bebas Pasung telah berjalan sejak sekitar 2014. Pada awalnya, lebih dari 2.000 ODGJ dipasung; kini angka tersebut menurun drastis menjadi 257. Per 31 Maret ada 257 ODGJ yang dipasung, tambah Novi, menegaskan upaya berkelanjutan yang dilakukan Dinas Sosial Jawa Timur.
Strategi Dinsos Jatim bersifat komprehensif, melibatkan aspek medis, sosial, dan berbasis masyarakat. Kami terus melakukan penyisiran kasus atau case finding dengan kunjungan langsung ke desa serta melakukan evakuasi korban pasung. Kami pendekatan ke keluarga dengan harapan keluarga mengizinkan ODGJ dibuka pasungnya dan kami bawa ke layanan kesehatan, jelasnya. Tim Jatim Social Care (JSC) juga rutin menelusuri kasus untuk memastikan tidak ada ODGJ yang terlewat.
Setelah dibebaskan, ODGJ akan menjalani rehabilitasi medis di RSJ Menur Surabaya atau di fasilitas UPT Dinsos Bina Laras Pasuruan, Bina Laras Kediri, dan Balai PMKS Sidoarjo. Proses pembebasan tidak bersifat satu kali; Dinsos terus memantau kondisi pasien agar tidak kembali dipasung.
Namun, masih ada hambatan. Meskipun upaya sudah masif, masih terdapat hambatan, salah satunya soal stigma masyarakat tinggi. Kemudian keterbatasan fasilitas, lalu resistensi lingkungan dan keluarga, jelasnya. Hambatan ini menuntut pendekatan yang lebih sensitif dan melibatkan komunitas.
Dinsos Jatim tidak hanya fokus pada pembebasan, tetapi juga berkolaborasi dengan Dinas Sosial kabupaten/kota dan pilar sosial di daerah. Tujuannya adalah pencegahan pasung ulang melalui monitoring rutin, kontrol pengobatan, dan pendampingan keluarga. Dinsos Jatim tidak hanya fokus pada pembebasan, tetapi juga kolaborasi dengan Dinsos kabupaten/kota serta pilar sosial di daerah untuk pencegahan pasung ulang dengan monitoring rutin, kontrol pengobatan, dan pendampingan keluarga, tandasnya.
Program ini menegaskan bahwa meskipun angka penurunan signifikan, tantangan seperti stigma dan keterbatasan fasilitas masih perlu diatasi. Kolaborasi lintas lembaga dan pendekatan komunitas menjadi kunci untuk menjaga kebebasan ODGJ dan mencegah re‑pasung di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
