AI dan ChatGPT: Manfaat dan Risiko di Belajar Medan

Kartika D. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 74 dibaca
Bisik.id
AI dan ChatGPT: Manfaat dan Risiko di Belajar Medan

Gambar atau konten salah?

AI dan ChatGPT semakin hadir di ruang belajar mahasiswa Medan. Teknologi ini dianggap membantu proses pembelajaran, namun juga menimbulkan kekhawatiran tentang menurunnya kemampuan berpikir kritis.

Dosen Universitas Negeri Medan, Muhammad Dominique Mendoza, menilai penggunaan AI memiliki dua sisi. Ia berkata, "Saya melihatnya seperti dua sisi mata uang. AI jelas membantu, terutama ketika mahasiswa kesulitan memahami materi," ujarnya saat diwawancarai. Ia memberi contoh salah satu mahasiswanya yang menggunakan ChatGPT untuk menjelaskan ulang teori komunikasi dengan analogi percakapan sehari‑hari. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan AI dapat menjadi alat bantu belajar yang efektif.

Namun, ia juga menyoroti munculnya budaya instan di kalangan mahasiswa akibat penggunaan AI yang tidak tepat. Ia mengutip, "Ada mahasiswa yang mengerjakan tugas analisis jurnal hanya dalam 15 menit. Ketika saya tanya prosesnya, ia mengaku langsung menyalin pertanyaan ke AI dan menyalin jawabannya. Di titik itu, belajar kehilangan maknanya," katanya. Dominique menyebut perubahan pola pengerjaan tugas mahasiswa sangat terasa sejak AI mulai banyak digunakan. Beberapa tugas kini terlihat lebih rapi dan terstruktur, namun memiliki pola bahasa yang serupa.

Ia memberi contoh tugas menganalisis kasus lokal UMKM. Beberapa jawaban justru menggunakan contoh perusahaan besar yang tidak relevan. Setelah ia cek, itu memang hasil AI. Ia berkata, "Saya pernah memberi tugas menganalisis kasus lokal UMKM, tetapi beberapa jawaban justru menggunakan contoh perusahaan besar yang tidak relevan. Setelah saya cek, itu memang hasil AI," jelasnya.

Meski demikian, ia mengakui AI juga membantu mahasiswa yang sebelumnya kesulitan memulai tulisan. Beberapa mahasiswa, kata dia, menggunakan AI hanya untuk membuat kerangka tulisan sebelum mengembangkan sendiri hasilnya melalui wawancara dan data lapangan.

Menurut Dominique, penggunaan AI dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis jika mahasiswa hanya mengandalkan rangkuman instan tanpa memahami isi materi secara mendalam. Ia mengutip, "Beberapa mahasiswa mengaku hanya meminta AI merangkum artikel ilmiah lalu merasa sudah paham. Padahal saat diskusi mereka tidak bisa menjelaskan kembali inti argumen penulisnya. Ini yang saya sebut ilusi pemahaman," ujarnya.

Namun di sisi lain, ia juga menemukan mahasiswa yang memanfaatkan AI sebagai teman diskusi untuk memverifikasi informasi dan memperdalam analisis. Menurutnya, hal tersebut justru dapat mempertajam kemampuan berpikir mahasiswa.

Dominique menilai tantangan terbesar dosen saat ini adalah mendeteksi orisinalitas tugas mahasiswa. Berbeda dengan plagiarisme biasa, AI mampu menghasilkan tulisan baru yang sulit terdeteksi perangkat pemeriksa plagiarisme. Ia berkata, "Definisi curang jadi kabur. Apakah menggunakan AI untuk memperbaiki tata bahasa termasuk pelanggaran? Belum ada kesepakatan," katanya.

Ia menegaskan AI tidak seharusnya dilarang sepenuhnya di lingkungan kampus karena teknologi tersebut telah menjadi bagian dari dunia kerja modern. Ia menambahkan, "Kalau kampus melarang, kita justru meluluskan mahasiswa yang tidak siap. Yang kita butuhkan adalah pengarahan," ucapnya.

Menurutnya, mahasiswa tetap harus memiliki kemampuan berpikir adaptif, komunikasi, kreativitas, hingga etika digital agar tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi AI. Dominique juga menilai kampus perlu segera menyusun aturan yang jelas terkait penggunaan AI dalam dunia akademik, bukan hanya berupa larangan, tetapi juga panduan penggunaan yang bertanggung jawab. Ia menutup, "Dengan panduan yang jelas, kita membangun budaya percaya, dan mahasiswa belajar bahwa integritas adalah nilai utama di era AI,"

Kesimpulannya, penggunaan AI di perguruan tinggi membawa manfaat dan risiko. Manfaatnya terlihat dalam kemudahan akses informasi dan struktur tugas yang lebih terorganisir. Risiko muncul ketika mahasiswa mengandalkan AI tanpa memahami materi secara mendalam, sehingga menurunkan kualitas pemikiran kritis. Kunci keberhasilan terletak pada pengawasan dan panduan yang tepat, sehingga mahasiswa dapat memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti proses belajar.

AIChatGPTmahasiswaberpikir kritisplagiarismeintegritas akademikpenggunaan AI

Komentar

Memuat komentar...