Ali Imron Viral karena Makan Hanya dengan Kelapa Mojongapit
Gambar atau konten salah?
Ali Imron (54) adalah tukang ojek pangkalan di Desa Mojongapit, Kecamatan Jombang. Ia juga menjabat sebagai Ketua RT 1 RW 2. Kebiasaan uniknya membuatnya tidak bisa makan apa pun tanpa daging kelapa. Sejak lahir, ia mengaku bahwa kelapa adalah bagian tak terpisahkan dari setiap makanan yang ia konsumsi.
“Menurut kami aneh karena tidak ada duanya di desa ini. Itu dari dulu, untuk satu desa ini sudah paham semua,” ujar Seppy Jempermasi (34), tetangganya, pada Jumat, 15 Mei 2026. Seppy menjelaskan bahwa warga Desa Mojongapit sudah terbiasa menyiapkan kelapa setiap kali mengundang Imron ke acara syukuran atau hajatan.
Ketika Imron datang ke rumah tetangga untuk makan bersama, biasanya ia membawa bekal kelapa kepala. “Kalau kita undang Pak Imron syukuran atau hajatan, kita harus menyiapkan kelapa, itu khusus karena dia tidak akan makan kalau tidak ada kelapa,” jelas Seppy. Meskipun begitu, Imron tidak pernah meminta tetangganya secara langsung. Ia lebih memilih membawa kelapa sendiri.
“Saya sendiri bawa kelapa. Kalau tetangga menyiapkan, saya tidak bawa kelapa dari rumah. Tetangga sudah paham, kecuali pendatang. Makanya kadang saya bawa kelapa di saku celana buat jaga-jaga kalau orang menawari makan,” terangnya. Cara ini menunjukkan bahwa ia sudah sangat terbiasa menyesuaikan diri dengan kebiasaan lokal.
Keunikan kebiasaan ini membuatnya menjadi viral di media sosial. Dalam satu bulan, ia minimal menghabiskan setengah butir kelapa atau sekitar 15 butir kelapa. “Kalau makan nasi tanpa kelapa tidak bisa masuk ke tenggorokan, ada perasaan untuk segera dimuntahkan. Pernah dicoba dipaksa, akhirnya saya gemetar malahan, akhirnya keluar keringat dingin,” kata Imron di kediamannya pada Jumat, 15 Mei 2026.
Walaupun terlihat aneh bagi orang luar, bagi warga Mojongapit, kelapa sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari‑hari. Mereka menyadari bahwa tanpa kelapa, Imron tidak bisa menelan makanan apa pun. Kebiasaan ini menunjukkan betapa kuatnya tradisi lokal dan bagaimana masyarakat dapat beradaptasi dengan kebutuhan unik satu orang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
