Allianz Indonesia Capai AUM Rp 43,7 triliun, Naik 9,8%

Wahyu T. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 75 dibaca
Bisik.id
Allianz Indonesia Capai AUM Rp 43,7 triliun, Naik 9,8%

Gambar atau konten salah?

Allianz Indonesia melaporkan total dana kelolaan (Asset Under Management / AUM) mencapai Rp 43,7 triliun pada akhir tahun 2025. Angka ini mencakup dana kelolaan Allianz Life, Allianz Syariah, dan DPLK Allianz, dan tumbuh 9,8 % dibandingkan tahun sebelumnya.

Selama tahun tersebut, perusahaan mengelola 49 jenis unit link fund. Tiga dana dengan nilai tertinggi adalah Smartlink Equity (Rp 5,8 triliun), Smartlink Fixed Income (Rp 1,7 triliun), dan Smartlink Balanced (Rp 1,4 triliun).

“Di tengah volatilitas global sepanjang 2025, Allianz Indonesia tetap berfokus pada konsistensi pengelolaan dana kelolaan nasabah dengan pendekatan investasi yang disiplin dan adaptif, sejalan dengan karakteristik bisnis asuransi yang berorientasi jangka panjang,” ungkap Ni Made Daryanti, Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia, dalam keterangan tertulis pada 02 Juni 2026.

Ni Made menekankan bahwa resiliensi ekonomi domestik dan likuiditas pasar menjadi fondasi penting untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil portofolio. Ia menambahkan bahwa strategi 2026 akan lebih selektif, menekankan kualitas aset dan pengelolaan risiko terukur agar tetap selaras dengan tujuan keuangan jangka panjang nasabah.

Ekonomi Indonesia pada 2025 menunjukkan ketahanan meski ketidakpastian global masih berlangsung. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11 % dibandingkan 2024, sementara inflasi menutup tahun di 2,92 % YoY. Bank Indonesia memangkas suku bunga sebesar 125 bps secara total.

Di sisi konsumsi, bantuan sosial pada paruh akhir tahun membantu menjaga daya beli. Porsi realisasi meningkat pada kuartal terakhir 2025, mendukung stabilitas pasar modal.

Pasar saham konvensional menutup 2025 di 8 646,94 atau +22,13 % sepanjang tahun. Indeks obligasi INDOBeX Government tumbuh +12,43 % YoY, dengan arus investor asing masih masuk neto.

Pasar modal syariah juga mencatat momentum positif. Jakarta Islamic Index naik 22,13 % secara tahunan, didorong oleh saham sektor konsumer, energi, dan komoditas. Sementara itu, IBPA Government Sukuk Index tumbuh 10,76 % sepanjang tahun.

Secara global, pasar 2025 diwarnai ketidakpastian kebijakan dan volatilitas, terutama di awal tahun. Kekhawatiran tarif perdagangan AS, tekanan inflasi, dan perlambatan ekonomi di negara besar menekan sentimen. Pada paruh kedua, sentimen membaik seiring meredanya tensi perdagangan dan tiga kali penurunan suku bunga oleh Federal Reserve.

Proyeksi 2026 menampilkan peluang tetap terbuka. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi antara 5,2 %–5,8 % dengan inflasi di 1,5 %–3,5 %. Kebijakan fiskal tetap ekspansif, dengan agenda hilirisasi dan belanja modal meningkat, termasuk infrastruktur dan transportasi naik sekitar 37 % YoY menjadi Rp 156 triliun.

Program bantuan sosial, bila digabung dengan program makan bergizi gratis, diperkirakan mencapai lebih dari Rp 500 triliun atau tumbuh 53 % YoY. Pasar modal diharapkan memasuki 2026 dengan pijakan lebih kokoh, didukung investor domestik dan ekspektasi perbaikan kinerja emiten.

Reformasi transparansi di pasar menjadi perhatian, termasuk bagi saham berkapitalisasi besar. Obligasi diperkirakan imbal hasilnya naik terbatas, sementara minat investor institusi domestik tetap menjaga stabilitas. Instrumen pasar uang juga diperkirakan tetap atraktif berkat likuiditas memadai.

Di tingkat global, pertumbuhan PDB dunia masih menunjukkan ketahanan, namun lanskap 2026 menuntut kewaspadaan. Selain suku bunga dan inflasi, pasar memantau kebijakan perdagangan dan peluang pertumbuhan di sektor informasi, komunikasi, dan kecerdasan buatan.

Strategi pengelolaan investasi Allianz Indonesia menekankan kualitas, risiko terukur, dan likuiditas. Pendekatan disiplin dan adaptif tetap dijaga, dengan penempatan investasi selektif berbasis fundamental. Portofolio diatur secara adaptif untuk memitigasi risiko dan menjaga stabilitas hasil.

“Dalam situasi pasar yang berubah cepat, kami mengajak nasabah untuk meninjau tujuan investasi, jangka waktu, toleransi risiko, serta alokasi aset secara berkala. Diversifikasi tetap menjadi kunci, dan pemilihan instrumen perlu selaras dengan profil risiko agar tujuan proteksi dan investasi berjalan seimbang dalam jangka panjang,” tambah Ni Made.

Allianz Life Indonesia meraih tujuh penghargaan pada Best Unit Link Award 2025 dari Investortrust & Infovesta, termasuk:

  • Smartwealth Equity IndoGlobal Fund (Kategori Saham IDR Konvensional, Periode 5, 7, dan 10 Tahun)
  • Smartwealth Equity Indoasia Fund (USD) (Kategori Saham USD, Periode 10 Tahun)
  • Smartwealth Dollar Multi Asset Fund (Kategori Campuran USD, Periode 5 Tahun)
  • Smartwealth Dollar US Bond Fund (Kategori Pendapatan Tetap USD, Periode 3 Tahun)
  • GroupLink Money Market Fund (Kategori Pasar Uang IDR Konvensional, Periode 5 Tahun)

Selain itu, Allianz Life Indonesia menerima lima penghargaan pada Unitlink Award 2025 dari Media Asuransi, antara lain:

  • Smartwealth Dollar Equity World Opportunities Funds
  • Smartwealth Dollar US Bond Fund
  • GroupLink Money Market Fund
  • Smartwealth Equity Indoglobal Class B Fund
  • Smartwealth Dollar Multi Asset Fund

Di tahun 2026, perusahaan memperoleh penghargaan Best Unit Link Award 2026 dari Investortrust & Infovesta, CNBC Indonesia Unitlink Awards 2026, Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust, dan Media Asuransi Unitlink Awards 2026. Deretan penghargaan ini menegaskan konsistensi pengelolaan dana dalam menghasilkan imbal hasil kompetitif dengan risiko terjaga.

Secara keseluruhan, Allianz Indonesia menunjukkan pertumbuhan AUM yang stabil dan strategi investasi yang terukur. Fokus pada kualitas aset, pengelolaan risiko, dan likuiditas menjadi kunci dalam menghadapi dinamika pasar domestik dan global. Dengan penghargaan yang terus diperoleh, perusahaan menegaskan komitmennya terhadap perlindungan dan manfaat investasi bagi nasabah.

AUM Allianz IndonesiaSmartlink Equitylikuiditas pasarstrategi investasi disiplinpenghargaan Unit Linkpertumbuhan ekonomi Indonesiavolatilitas global

Komentar

Memuat komentar...