Anak 7 Tahun Meninggal Akibat SSPE, Menekan Vaksinasi MMR
Gambar atau konten salah?
Seorang anak laki‑laki berusia 7 tahun di Amerika Serikat meninggal setelah mengalami komplikasi otak akibat penyakit campak. Kematian ini menimbulkan kekhawatiran baru tentang dampak jangka panjang dari penyakit menular yang sangat berbahaya.
Menurut data medis, bocah tersebut tertular campak ketika berusia 7 bulan. Namun, ketika ia berumur 6 tahun, ia mulai menunjukkan penurunan fungsi kognitif dan mengalami kejang. Dokter kemudian menegaskan diagnosis Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), gangguan otak langka yang dapat muncul bertahun‑tahun setelah infeksi campak.
SSPE biasanya dimulai dengan perubahan halus, seperti gangguan memori, mudah marah, atau perubahan suasana hati. Seiring waktu, koordinasi otot dapat terganggu, kejang otot muncul, dan kerusakan otak berat berkembang. Kondisi ini sering berujung pada koma dan hampir selalu berakhir dengan kematian.
Gejala SSPE biasanya muncul 6 hingga 10 tahun setelah infeksi campak pertama. Campak sendiri biasanya memulai dengan gejala mirip flu—batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan mata berair—sebelum berkembang menjadi demam tinggi dan ruam merah yang menyebar ke seluruh tubuh.
Sharon Nachman, kepala penyakit infeksi pediatrik di Children's Hospital of Orange County di California, mengatakan: “Campak itu seperti menetap di otak Anda dan menyebabkan perubahan pada tingkat seluler yang terjadi secara diam‑diam.”
Ia menambahkan: “Anda bisa saja terkena campak saat berusia 2 tahun, dan sekarang Anda kuliah, dan tiba‑tiba otak Anda rusak dan Anda tidak memiliki masa depan.”
Secara statistik, sekitar 4 hingga 11 dari 100 ribu kasus campak berpotensi berkembang menjadi SSPE. Risiko ini meningkat hingga 18 per 100 ribu jika infeksi terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun.
Kasus serupa pernah terjadi di Los Angeles, di mana seorang anak usia sekolah meninggal akibat komplikasi setelah terinfeksi campak saat bayi, sebelum memenuhi syarat vaksinasi.
Hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan SSPE. Pengobatan yang tersedia hanya dapat memperlambat perkembangan penyakit.
Meski kasus SSPE tergolong jarang—sekitar 4 hingga 5 kasus per tahun di AS—jumlahnya diperkirakan meningkat seiring lonjakan kasus campak. Data menunjukkan, pada 2024 terdapat 2.242 kasus campak di AS, dengan 93 persen terjadi pada individu yang tidak divaksinasi atau status vaksinasinya tidak diketahui. Bahkan, tiga kematian terkait campak dilaporkan pada 2025.
Status vaksinasi bocah tersebut tidak diketahui. Namun, pencegahan paling efektif terhadap campak dan komplikasinya adalah vaksin MMR (measles, mumps, rubella), yang diberikan pertama kali pada usia 12‑15 bulan dan dosis kedua sebelum anak masuk sekolah.
Sayangnya, tingkat vaksinasi MMR dan imunisasi rutin lainnya melaporkan menurun sejak pandemi COVID‑19, meningkatkan risiko kemunculan kembali wabah penyakit menular seperti campak.
Kasus tragis ini menyoroti pentingnya vaksinasi dan pengawasan kesehatan sejak dini. Meskipun SSPE jarang, dampaknya sangat fatal, dan pencegahan melalui vaksin MMR tetap menjadi kunci utama untuk melindungi anak-anak dari risiko komplikasi serius yang dapat mengancam nyawa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
