Anjal dan Pengemis di Mataram Mall Mengganggu Pengunjung
Gambar atau konten salah?
Di pusat perbelanjaan Mataram Mall yang terletak di Jalan Pejanggik, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), banyak pengunjung mengeluhkan kehadiran anak jalanan dan pengemis yang berkeliaran di dalam gedung. Mereka sering memaksa orang yang lewat untuk membeli dagangan, membuat suasana menjadi tidak nyaman.
Warga yang berada di mall pada Minggu, 12 April 2026 melaporkan bahwa anjal dan pengemis tidak hanya muncul di luar gerbang, tapi juga masuk ke dalam restoran dan area makan. Kejadian ini menambah rasa khawatir di antara para pelanggan.
“Saya sempat kaget, ada beberapa anjal sampai pengemis masuk ke arah resto, kebetulan saya sedang makan bareng keluarga, tiba-tiba ada yang colek‑colek saya. Saya pikir siapa, eh tahunya pengemis, mereka maksa buat beli tisu, tetapi saya tolak baik‑baik,” kata Novianti, salah satu warga Mataram, Minggu, 12 April 2026.
Menurut Novianti, jumlah anjal maupun pengemis di sekitar Mataram Mall diperkirakan delapan orang hingga lebih. “Lumayan banyak, soalnya yang muncul silih berganti gitu, muncul satu, muncul lagi yang lain,” ujarnya.
Dia menambahkan harapannya agar satgas terkait segera turun menertibkan situasi. “Semoga satgas terkait bisa turun menertibkan, soalnya cukup mengganggu dan meresahkan,” sambung Novianti.
Arik, pengunjung lain di mall, juga merasakan gangguan serupa. “Cukup mengganggu sih karena mereka minta‑minta di dalam resto, bukan di luar. Kami kagetlah kalau tiba‑tiba muncul mereka minta‑minta. Kayaknya kemarin‑kemarin makan di sini nggak ada pengemis atau anak jalanan deh. Satgas wajib turun sih,” keluhnya.
Menanggapi keluhan warga, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Mataram, Muzakkir Walad, menyatakan akan menurunkan satgas untuk menertibkan anjal maupun pengemis yang berada di Mataram Mall. “Kami akan intervensi bersama teman‑teman satgas. Langkah awal pasti kita lakukan persuasif dahulu terkait aduan ini. Sementara ini memang belum ada pengaduan dari pihak Mataram Mall (ke kami),” kata Muzakkir.
Situasi ini menyoroti kebutuhan akan koordinasi antara pihak mall, pemerintah, dan masyarakat. Keputusan Dinsos untuk melakukan intervensi persuasif menunjukkan upaya awal menata kembali keamanan dan kenyamanan di area publik. Dengan adanya satgas, diharapkan anjal dan pengemis dapat diarahkan ke program sosial yang lebih terstruktur, mengurangi gangguan di ruang publik dan memberikan solusi bagi mereka yang membutuhkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
