ASEAN Perkuat Kerangka Keuangan di Tengah Ketegangan Global

Eko P. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
ASEAN Perkuat Kerangka Keuangan di Tengah Ketegangan Global

Gambar atau konten salah?

Jakarta, 10 April 2026 – Pertemuan ke-13 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN (AFMGM) berlangsung di ibu kota. Di antara peserta, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, turut hadir. Acara tersebut diadakan di tengah ketegangan geopolitik global, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Dalam keterangan tertulis yang dirilis pada 13 April 2026, Filianingsih menyatakan, “Upaya tersebut tercermin dari ekonomi ASEAN yang tetap tangguh, didukung oleh permintaan domestik dan investasi yang terjaga, meski masih dihadapkan pada berbagai tekanan global seperti ketegangan geopolitik, volatilitas arus modal dan tantangan perubahan iklim.

Para pemangku kebijakan menegaskan kesiapan mereka untuk mengambil langkah-langkah strategis guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Mereka sepakat memperkuat kerja sama dengan mitra strategis di kawasan.

Berbagai langkah strategis disepakati, antara lain penguatan pasar keuangan, percepatan konektivitas sistem pembayaran lintas negara, serta peningkatan kesehatan finansial masyarakat. Langkah-langkah ini bertujuan meningkatkan efektivitas kerja sama keuangan regional.

Dalam upaya konkret, ASEAN telah menyusun Finance Sectoral Plan 2026-2030 sebagai panduan menuju ASEAN Community Vision 2045. Selain itu, inisiatif Project Revive diluncurkan untuk memperbaiki tata kelola, struktur, dan proses kerja sama sektor keuangan.

Filianingsih menekankan, “Keberhasilan Project Revive sangat bergantung pada komitmen kuat seluruh anggota ASEAN, termasuk memastikan bahwa kerangka kerja sama yang baru mampu menjadi wadah yang efektif untuk membahas isu strategis seperti ekonomi makro, stabilitas sistem keuangan dan risiko kawasan.

Pertemuan juga menetapkan tiga Priority Economic Deliverables (PEDs) di bawah kepemimpinan Filipina pada tahun 2026. PEDs tersebut meliputi penguatan pasar modal yang berkelanjutan dan tangguh, percepatan konektivitas pembayaran regional, serta penguatan financial health sebagai dimensi baru inklusi keuangan.

Filianingsih mengharapkan, “Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, memperluas akses keuangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan.

ASEAN mencatat pencapaian positif dalam integrasi keuangan, seperti penyempurnaan ASEAN Banking Integration Framework (ABIF) Guidelines 2.0, penguatan kerangka Capital Account Liberalisation (CAL), dan perluasan implementasi Local Currency Transaction (LCT).

Kesepakatan baru mengenai ASEAN Swap Arrangement (ASA) juga disambut hangat sebagai bagian dari jaring pengaman keuangan kawasan. ASA bertujuan memperkuat ketahanan eksternal, mendorong integrasi keuangan, dan mendukung kecukupan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Di sisi sistem pembayaran, konektivitas lintas batas terus meningkat dan berperan penting dalam mendorong inklusi keuangan. Kerja sama ini juga menekankan keamanan sistem dari risiko penipuan dan scam.

Dalam agenda pembiayaan berkelanjutan, ASEAN mendorong mobilisasi pendanaan publik dan swasta, peningkatan akses pembiayaan iklim, serta penguatan kapasitas negara anggota dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Secara keseluruhan, pertemuan AFMGM ke-13 menegaskan komitmen ASEAN untuk memperkuat kerangka kerja keuangan, memperluas integrasi, dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global yang terus berubah.

AFMGMASEANBank IndonesiaProject ReviveFinance Sectoral Plan 2026-2030ASEAN Banking Integration FrameworkKonektivitas Pembayaran

Komentar

Memuat komentar...