Asia Uji Ulang Pekerja Jarak Jauh untuk Kurangi Bahan Bakar
Gambar atau konten salah?
Krisis bahan bakar yang melanda Asia akibat konflik di Timur Tengah membuat banyak negara mempertimbangkan kembali langkah-langkah yang pernah dipakai saat pandemi COVID‑19. Fokus utama adalah menekan konsumsi energi, termasuk dengan mengubah pola kerja dan aktivitas masyarakat.
Negara-negara di kawasan sedang mengkaji opsi seperti bekerja dari rumah. Meski belum ada kebijakan resmi, wacana tersebut mulai menguat. "Saya pikir itu ide yang bagus," kata Menteri Energi Korea Selatan, Kim Sung‑whan, menanggapi rekomendasi kerja dari rumah, dikutip dari CNA.
Rekomendasi ini datang dari International Energy Agency (IEA), yang juga mendorong pengurangan perjalanan udara sebagai cara menekan permintaan bahan bakar. IEA bahkan telah menyepakati pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis untuk membantu meredakan krisis.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menegaskan bahwa kebijakan serupa pernah diterapkan sebelumnya dan terbukti membantu. "Ada contoh nyata, seperti setelah invasi Rusia ke Ukraina, negara‑negara Eropa menerapkan langkah ini... dan itu sangat membantu mereka melewati masa sulit tanpa energi Rusia, sambil tetap menjaga aktivitas berjalan."
Beberapa negara Asia mulai mengambil langkah konkret. Korea Selatan meluncurkan kampanye publik untuk menghemat energi, seperti mengurangi durasi mandi, mengisi daya perangkat di siang hari, dan mengatur penggunaan peralatan rumah tangga.
Di Filipina, hari kerja di beberapa kantor pemerintah dipersingkat. Presiden Ferdinand Marcos menetapkan status darurat energi nasional, menyebut konflik tersebut sebagai "ancaman langsung" terhadap pasokan energi negara.
Pakistan menutup sekolah selama dua pekan dan mendorong kerja dari rumah bagi pegawai kantor. Sri Lanka menetapkan hari libur tambahan setiap pekan untuk menghemat bahan bakar.
Singapura mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk menggunakan peralatan hemat energi serta menyesuaikan penggunaan pendingin ruangan. Thailand meminta aparatur negara membatasi perjalanan luar negeri, mengatur suhu AC di atas 25 derajat Celsius, serta mempertimbangkan kerja dari rumah.
Langkah-langkah ini menunjukkan banyak negara kembali mengandalkan pendekatan yang pernah digunakan saat pandemi sebagai respons terhadap tekanan krisis energi yang semakin meningkat.
Dalam konteks ini, kebijakan energi di Asia mengalami pergeseran signifikan. Negara-negara meninjau ulang kebijakan mereka, mengadopsi praktik kerja jarak jauh dan penghematan energi, menyesuaikan dengan situasi global yang terus berubah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
