Bank Indonesia: Perry Ungkap Tujuh Langkah Memperkuat Rupiah
Gambar atau konten salah?
Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, mengungkapkan tujuh langkah strategis untuk memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Ia menyampaikan rencana tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto pada Selasa (05 Mei 2026) di Istana Negara, Jakarta Pusat.
Menurut Perry, nilai tukar Rupiah saat ini dianggap undervalue dan akan dipertahankan melalui serangkaian upaya. Ia menegaskan bahwa Presiden telah menyetujui langkah-langkah tersebut dan menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk membuat Rupiah kuat dan stabil ke depan.
Berikut adalah tujuh jurus yang dijelaskan oleh Perry:
- Intervensi Tunai di Pasar Asing
Perry menyatakan bahwa Bank Indonesia akan terus melakukan intervensi tunai melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF). Ia menambahkan, “Di pasar luar negeri di Hong Kong, di Singapura, di London, di New York, kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu.” - Aliran Modal melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)
Perry menjelaskan bahwa Bank Indonesia berkoordinasi dengan Menteri Keuangan untuk memastikan SRBI dapat menarik aliran modal asing. Ia berkata, “Kami bersepakat untuk sementara ini SRBI dibuat perlu inflow sehingga inflow-nya SRBI bisa mencukupi outflow-nya SBN dan saham, itu koordinasi kami dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow-nya dari portofolio asing itu masih year to date-nya masih terjadi inflow dan itu memperkuat nilai tukar rupiah.” - Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di Pasar Sekunder
Bank Indonesia akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membeli SBN. Sejak awal tahun, pembelian SBN di pasar sekunder telah mencapai Rp123,1 triliun. - Pengelolaan Likuiditas Perbankan dan Pasar Uang
Perry menegaskan bahwa likuiditas di perbankan dan pasar uang akan dijaga lebih dari cukup. Pertumbuhan uang primer tetap berada di tingkat dua digit, dengan angka terakhir mencapai 14,1 %. - Pembatasan Pembelian Dolar di Pasar Domestik
Bank Indonesia akan mengurangi batas maksimal pembelian Dolar di pasar domestik tanpa underlying assets. Awalnya batasnya US$ 100.000 per bulan, kini diturunkan menjadi US$ 50.000 per bulan, dan akan segera disesuaikan menjadi US$ 25.000 per bulan. - Penguatan Intervensi di Pasar Offshore NDF
Perry menjelaskan bahwa Bank Indonesia akan mengendalikan nilai tukar di sektor offshore di luar negeri. Ia mengatakan, “Selain intervensi yang terus kami lakukan, kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan Offshore NDF di luar negeri sehingga pasokannya lebih banyak sehingga itu akan memperkuat stabilisasi dari nilai tukar Rupiah.” - Pengawasan Ketat terhadap Pembelian Dolar AS
Bank Indonesia akan meningkatkan pengawasan bank-bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian Dolar AS yang tinggi. Perry menutup pernyataannya dengan, “Kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan Bu Frederica Widyasari dari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga.”
Dengan tujuh langkah ini, Bank Indonesia menargetkan stabilitas nilai tukar Rupiah sekaligus menjaga keseimbangan sistem keuangan nasional. Langkah-langkah tersebut mencerminkan kebijakan proaktif yang diharapkan dapat menahan tekanan pasar dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait